Pages

Showing posts with label bursa. Show all posts
Showing posts with label bursa. Show all posts

Tuesday, December 1, 2015

Kenapa Usia Non Produktif Disarankan tidak Investasi Saham?

Memang investasi di pasar saham sangat beresiko tinggi, hingga wajar bila yang sudah pensiun tidak disarankan untuk bermain di pasar saham. Resiko loss investasi sangat tinggi, belum lagi bila memiliki riwayat penyakit berat, maka kabar dari bursa bisa memicu sakit mendadak. Boleh dibilang bermain saham seperti sport jantung.

Saat harga naik tajam mungkin bisa tersenyum lebar dan senang bukan kepalang. Namun saat nilai saham anjlok dengan tajam, bisa jadi stress tak karuan dan bisa mengganggu kesehatan. Memang tidak disarankan buat yang sudah manula untuk bermain saham.

Pertimbangan lainnya adalah bila investasi yang dimiliki oleh orang usia non produktif ini hangus, maka akan kehilangan seluruh investasinya bahkan seluruh hartanya. Sebab itu investasi yang beresiko tinggi harus dijauhi bagi mereka yang tak punya penghasilan lagi. Mereka yang mengantungkan income dari pension yang lebih kecil dari gaji sebelumnya, memang sangat berat dalam mengelola aliran kas nantinya.

Beberapa kasus baru-baru ini cukup menjadi pelajaran, saat kejatuhan bursa saham di cina ternyata juga memakan korban para manula di Jepang. Rupanya banyak dari manula ini investasi di pasar saham cina yang tumbuh pesat, tapi juga bisa turun tajam dengan cepat. Naiknya memang pesat, nilai saham tumbuh lebih cepat dari pasar saham di jepang, namun juga bisa anjlok hanya dalam sekejap.

Memang begitulah pasar saham, apa yang naik akan bisa turun. Biasanya orang tergiur pada kenaikan fantastic nilai saham tanpa mengingat akan kemungkinan turun yang besar pula. Apalagi dari iming-iming broker tentang nilai saham yang bisa berlipat-lipat dengan cepat, maka banyak yang dengan mudah terbujuk oleh rayuan para broker ini.

Sebenarnya bagi yang sudah tidak produktif, menjauhi investasi beresiko tinggi sudah harus dilakukan. Juga perlu manajemen pengaturan keuangan yang lebih ketat. Istilahnya saat income menurun, maka ketatkan ikat pinggang. Pengelolaan keuangan harus lebih ketat dan disiplin.

Minimal harus ada simpanan yang aman seperti deposito di investasinya. Ini agar saat investasi sebagian tidak berhasil, masih ada income yang terus mengalir. Memang deposito meski kecil penghasilannya, tapi lebih bisa diharapkan saat pasar saham bergejolak.

Friday, November 27, 2015

IHSG Charging hingga tidak lebih buruk dari Singapura

Sejak awal tahun IHSG terpuruk hingga menempati posisi terburuk dari beberapa bursa utama di kawasan. Berkat kinerja positif bulan ini, IHSG berhasil lebih baik dari Singapura. Meski masih masih minus diatas 10 persen pertumbuhannya, tapi bisa lumayan lebih baik dari minusnya bursa singapura.

Memang selama ini tampak sekali IHSG mengekor bursa singapura dalam segala hal. Ini dimungkinkan dengan investor yang share dalam pasar yang sama, maka buruk-baiknya akan tidak beda jauh. Namun pada dalam bulan ini nampak ada perubahan besar di bursa saham Indonesia.

Diduga penguatan rupiah dan suksesnya beberapa emiten meningkatkan jumlah saham, telah membuat IHSG tumbuh positif bulan ini. Diperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut, mengingat akhir tahun dan window dressing yang akan mendorong pergerakan di bursa Indonesia. Namun naiknya suku bunga amerika bisa menjadi tantangan ke depan.

Ini ditandai dengan tekanan yang makin kuat pada rupiah akhir-akhir ini, sehingga membuat laju pergerakan IHSG terhambat. Memang persoalan rupiah dengan suku bunga amerika ini sulit terpecahkan. Meski dengan berbagai paket kebijakan, tak mampu menjinakan pergerakan dollar-rupiah yang semakin liar.

IHSG dalam beberapa hari ini juga tertekan pada persoalan rupiah yang makin iminen. Besar kemungkinan beberapa investor akan mengurangi share sahamnya ke posisi dollar sampai isu kenaikan suku bunga amerika ini terjadi. Besar kemungkinan pula IHSG akan bergerak sangat lambat, meski masih dalam posisi yang positif.

Setidaknya bisa keluar dari posisi terburuk adalah hal yang bisa dibanggakan. Meski performanya boleh dibilang paling jelek dalam beberapa tahun ini. Sampai-sampai pemerintah cukup gusar dengan menembak kiri-kanan atas performa IHSG yang tak kunjung membaik. 

Isu suku bunga deposito yang dikemukakan, tak lain adalah bentuk kekuatiran pemerintah atas kinerja IHSG yang tak kunjung membaik. Padahal IHSG adalah patokan bagi investor melihat kondisi ekonomi Indonesia. Memang kondisinya masih belum begitu membaik, meski melambat masih bisa tumbuh.

Investor akan melihat  IHSG sebagai tolok ukur sebelum melakukan investasi secara riil. Diduga banyak FDI atau foreign direct investment yang menunda pelaksanaannya sampai kondisi IHSG membaik. Ini tampaknya disikapi dengan gusar oleh pemerintah dalam memperbaiki kinerja IHSG agar investor bisa percaya dan cepat masuk kembali ke Indonesia.

Tuesday, November 24, 2015

Ekonomi Stagnan, Investasi Berpendapatan Tetap jadi Pilihan

Tiada yang bisa menduga ekonomi yang melambat ini akan berakhir, bahkan bisa semakin memburuk. Ini membuat orang malas berinvestasi dan memilih usaha atau bisnis yang pasti-pasti saja. Salah satunya adalah investasi di portofolio berpendapatan tetap.

Setidaknya modal yang disimpan akan tetap menghasilkan, daripada beresiko bahkan merugi. Seperti investasi di bursa saham yang masih minus lebih dari 10 persen dalam setahun ini. Bukan tidak mungkin kondisinya bisa semakin memburuk, soalnya tidak ada tanda-tanda perbaikan, bahkan indikator cederung tidak mengembirakan.

Bicara soal harapan, semua akan berkeinginan untuk optimis, tapi harus tetap pula didasari atas pijakan yang valid. Keajaiban tidak bisa diharapkan dalam perekonomian selama indikatornya masih kurang menyenangkan. Justru dengan tetap berinvestasi dan memiliki pilihan yang aman, maka modal atau kekayaan akan tetap tumbuh.

Banyak investasi berpendapatan tetap yang masih lebih menguntungkan daripada pasar saham yang masih minus pertumbuhannya. Boleh saja memberitakan bahwa pasar saham bisa membuat nilainya berlipat-lipat. Itu dulu saat sedang booming, masa itu sudah berlalu.

Ekonomi sudah mencapai peak atau puncaknya, dan tidak ada kemungkinan untuk didorong lebih ke atas. Siklusnya akan menurun dulu sebelum bertahap untuk berkembang. Persoalannya masa penurunan atau perlambatan ini tidak bisa diduga waktunya, bahkan mungkin cenderung merosot lebih dalam.

Ekonomi akan tetap dihadapkan pada realita, memang pasar saham adalah investasi pada sebuah harapan. Di saat harapan sudah mencapai puncaknya, mau kemana lagi akan dibawa harapan tersebut. Bila kondisi riil masih sangat tertinggal, jangan harap harapan akan bisa dicapai, yang ada adalah turun dulu sebelum kembali tumbuh.

Ada semacam efek domino atas kondisi ekonomi yang terjadi, hanya perkecualian pada sektor konsumsi dimana orang akan tetap makan, maka disinilah investasi berpendapatan tetap bergantung. Buat apa beresiko untuk investasi yang masih rugi, meski dengan janji yang menggiurkan. Justru lebih baik realistis, dan melihat investasi dari sisi peluang yang ada.

Jangan mudah percaya akan janji yang tanpa didasari data yang jelas dan akurat. Jangan pula tergiur atas hal-hal yang sudah berlalu. Kenyataan dan data harus terus dikedepankan agar investasi tetap menghasilkan.

Sunday, November 22, 2015

Dilema Freeport dikelola BUMN

Sebenarnya pengelolaan Freeport sudah waktunya diserahkan ke Indonesia. Hanya memang menjadi dilemma saat BUMN yang harus mengelola industri tambang raksasa ini. Bukan karena BUMN tidak mampu, tapi karena manajemen atau SDM BUMN yang masih kurang professional, bisa membuat nasib Freeport seperti pertamina nantinya.

Siapapun tahu bagaimana pertamina yang merupakan BUMN besar dengan monopoli di usaha minyak, tapi pada akhirnya hanyalah perusahaan gendut tak bertenaga. Pertamina masih kalah dengan petronas, yang sebenarnya anak asuh sebelumnya. Pertamina tidak berkembang karena memang tidak dikelola secara professional, terlalu banyak kepentingan didalamnya.

Sebagai BUMN memang wajar peran Negara atau pemerintah dalam hal ini, tapi harusnya tidak sampai mengurusi hal-hal operasional. Harusnya pemerintah mengedepankan pengawasan daripada ikut mencampuri dapur BUMN yang hanya membuat perusahaan Negara ini tidak berkembang. Namun persoalan monopoli juga membuat BUMN ini semakin kalah bersaing dengan diri mereka sendiri.

Sudah banyak BUMN yang meminta PMN dan hanya memberatkan anggaran belanja Negara. Sumbangsihnya pada Negara amat minim, kebanyakan inefisiensi karena memang amburadul pengelolaannya. Mungkin sebaiknya BUMN ini dijadikan sebagai perusahaan terbuka, agar bisa ditingkatkan pengelolaannya sekaligus menjauhkan dari campur tangan politis.

Mungkin benar adanya penunjukan komisaris BUMN oleh pemerintah, tapi hendaknya diisi oleh orang yang kompeten di bidangnya. Juga harusnya diimbangi dengan komisaris independent untuk memutus mata rantai KKN atau nepotisme di dalam perusahaan Negara. Sudah lama BUMN ini kalau subkontrak proyek akan jatuh ke orang itu-itu saja, dalam hal ini orang yang memiliki hubungan dengan pejabat BUMN.

Tentunya ini yang menyebabkan inefisiensi dan korupsi, soalnya pasti akan ada penggelembungan harga tender subkontrak atau markup untuk menutup komisi pihak-pihak yang terkait. Inilah yang menyebabkan BUMN diragukan bisa membuat Freeport berkembang lebih besar lagi. Soalnya itu tadi inefisiensi dalam manajemen operasional yang hanya membuat perusahaan tambang raksasa ini, sama nasibnya seperti pertamina. Hanya jadi katak dalam tempurung, besar karena monopoli.

Sebaiknya memang Freeport menjadi perusahaan publik, dengan sahamnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Ini bisa dilakukan dengan IPO 51 persen sahamnya di bursa efek Indonesia. Biarkan masyarakat yang memiliki Freeport dan dikelola secara terbuka dan professional.

Friday, November 20, 2015

Rumor Penggerak Pasar yang Ampuh

Rumor adalah berita yang tidak bisa dipercaya dan tidak diakui keakuratannya, namun seringkali menjadi motor penggerak pasar. Tidak jarang investor lebih mempercayai berita rumor ini daripada laporan keuangan emiten. Padahal ini bisa menjadi bumerang manakala saham yang dikoleksi akhirnya masuk kategori saham busuk.

Kondisi ini berlaku pula di pasar keuangan lainnya, seperti trading forex, emas atau jenis lainnya. Begitu gampangnya pemain atau investor ini digoyang keyakinannya oleh rumor yang belum pasti kebenarannya. Tentu saja ada pihak-pihak yang diuntungkan, dalam hal ini pemain di dalamnya atau broker yang mempunyai kepentingan atas komisi dari investor.

Rumor memang bisa menjadi penggerak pasar yang ampuh, dan ini dilakukan oleh banyak pihak. Dalam sebuah trading floor seringkali keputusan yang dibuat dipengaruhi secara kuat oleh rumor. Tak peduli itu posisi yang dipegangnya sedang bagus, bila arah angin berhembus kelain arah, maka buyarlah keyakinan itu.

Broker yang berpengalaman bisa memanfaatkan hal ini atau menggunakan rumor ini. Demikian pula sebaliknya, broker yang mengerti rumor ini akan bisa menelaah dengan cepat berita ini sambil memasang posisi yang aman untuk ke depannya. Namun pihak yang paling lemah dalam menangkap rumor ini seringkali menjadi korban.

Ini bisa diambil contoh kasus rupiah yang secara eksplisit lebih dikendalikan oleh rumor daripada kondisi rupiah yang sebenarnya. Memang benar posisi rupiah sedang melemah, namun gara-gara rumor posisinya bisa lebih buruk. Sesuatu yang buruk bisa dihubung-hubungkan hingga menjadi sentiment negative bagi rupiah.

Begitulah kalau trading di pasar keuangan, apalagi yang online dimana pemainnya atau brokernya bisa saling berkomunikasi, maka peran rumor akan semakin besar. Saat broker yang berkepentingan ingin menggerakan pasar, hanya dengan berita satu arah bisa membuat pasar bergerak dengan cepat. Tidak heran situasi di trading ini bisa sangat kacau, panik sehingga keputusan yang dibuat bisa beresiko menjadi blunder.

Ada dilemma dijual bisa rugi kalau tidak dijual akan rugi banyak. Biasanya ini membayangi trader jangka pendek yang akan “loss” bila terlambat dalam mengambil sikap. Disini pasar jangka pendek digerakan oleh rumor yang sebenarnya belum tentu benar atau akurat.

Thursday, November 19, 2015

Divestasi Saham Freeport lewat pasar modal lebih Menguntungkan dibandingkan Diambil Alih oleh Negara

Kekayaan alam yang vital memang pantas dikuasai oleh Negara, tapi tidak oleh BUMN. Dalam sejarahnya SDA yang melimpah tidak melahirkan perusahaan raksasa seperti yang terjadi di Negara lain. BUMN lebih sekedar hanya sapi perah kepentingan politik hingga tidak pernah berkembang seperti BUMN di Negara lainnya.

Lihat saja Petronas yang bisa mengalahkan Pertamina, ini bukan karena SDA Malaysia lebih besar dari Indonesia. Namun Petronas memang dikelola oleh SDM yang mumpuni dan jauh dari kepentingan politis. Apalagi kalau dibandingkan dengan BUMN-nya Singapura, maka lebih tidak ada apa-apanya.

Semua ini karena kepentingan politis sudah berurat akar di BUMN kita. Setiap tender yang diadakan tidak pernah efisien, subkontrak akan jatuh ke orang itu-itu saja, meski ditenderkan dengan cara apapun. Itulah BUMN kita, sehingga inefisiensi dan mismanajemen membuat perusahaan Negara tidak pernah berkembang.

Sudah berkali-kali BUMN selalu minta suntikan modal dari Negara, istilahnya juga dari rakyat. Tanpa pernah memberikan perkembangan yang menggembirakan. Jauh dari BUMN tetangga sebelah yang bisa dikelola secara professional. Kondisi ini bisa terjadi bila Freeport diambil alih oleh Negara, situasinya akan sama seperti pertamina.

Freeport yang sekarang berkembang dengan cepat karena memang dikelola secara professional oleh orang-orang yang berada dibidangnya. Ini sebenarnya yang harus dijaga kelangsungannya agar bisa memberikan sumbangsihnya bagi Negara. Ide divestasi lewat pasar modal jauh lebih menguntungkan daripada diambil alih oleh Negara yang nasibnya bisa sama seperti Pertamina.

Dengan divestasi dan sahamnya dipegang oleh publik, maka Freeport akan tetap menjadi perusahaan publik. Freeport akan dikelola orang yang ahli di bidangnya, bukan orang-orang titipan parpol yang hanya akan memperburuk perkembangan Freeport. Tentu saja dengan divestasi, kendali Freeport akan berada di tangan Negara, namun dengan juga dimiliki publik maka akan membuat perusahaan ini tetap terbuka.

Freeport harus terus berkembang dan dikelola secara professional. Seluruh menajemennya adalah orang-orang yang ahli di bidangnya, dan tak boleh orang politik masuk di dalamnya. Demikian pula dengan seluruh BUMN yang seharusnya diisi oleh orang-orang yang kompeten.

Wednesday, November 11, 2015

“Goreng” Saham, Semua Melakukannya

“Goreng” dan Menggoreng saham sudah umum dilakukan oleh mereka yang terlibat dengan perdagangan saham. Bila tidak “digoreng”, nggak bakal dilirik oleh para investor. Hanya memang saat data dipalsukan atau tidak mencerminkan data yang ada, sudah masuk kategori pelanggaran dalam bursa.

Emiten dan Broker memang pihak yang paling disorot oleh otoritas bursa, karena mereka paling berkepentingan dengan pergerakan saham tersebut. Emiten memiliki harapan yang besar agar sahamnya berkilau dan bernilai lebih baik. Sedang broker tentu saja ingin komisi bisa lebih baik dari penjualan saham yang lebih bernilai.

Jadi “goreng” menggoreng saham ini sudah menjadi hal umum, dan investor sering tidak mudah percaya pada analisa broker tanpa data yang valid dari emiten. Bagaimanapun juga keputusan membeli saham tetap di tangan investor. Namun ada saja investor yang “pasrah bongkokan” atau percaya 100 persen pada para brokernya.

Ini terjadi pada investor pemula atau investor yang suka berspekulasi. Daripada memelototi data keuangan dari emiten, bukankah lebih gampang mendapatkan analisa dari para broker. Apalagi mereka memiliki instrument analisa keuangan yang lengkap.

Memang tidak mudah membaca sebuah kondisi keuangan pada sebuah perusahaan yang go public. Ada banyak variable dan sulit menyimpulkan tanpa memiliki kemampuan yang baik di bidang keuangan perusahaan. Apakah perusahaan ini memiliki prospek cerah, akan terus berkembang?

Semua ini menjadi pertanyaan oleh para investor yang hanya disuguhi dengan angka-angka yang mungkin masih berubah dan berkembang. Penilaian bisa salah, tapi penilaian yang dibesar-besarkan sudah sangat merugikan para investor. Ini layaknya “ABS” atau laporan yang serba manis tapi kenyataannya tak bernilai seperti yang diutarakan.

Bagaimanpun juga pergerakan saham lebih disandarkan pada sentiment yang berkembang. Kebanyakan investor juga memakai variable di luar data yang disodorkan oleh emiten. Seperti kondisi ekonomi global, nilai tukar rupiah, apapun yang berpengaruh pada kinerja perusahaan bisa menjadi data yang ikut dalam penilaian sebuah saham.

Bisa jadi sebuah perusahaan kinerjanya biasa-biasa saja saat melantai. Namun karena kondisi perekonomian sedang booming, maka nilai saham perusahaan tersebut bisa terangkat lebih baik. Di mata investor tetap saja kinerja perusahaan menjadi dasar penilaian, bila ini dipalsukan atau dibesar-besarkan dan tidak sesuai dengan kenyataan, maka sudah merugikan investor dan masuk kategori pelanggaran di bursa.

Tuesday, November 10, 2015

Ingin Profit Banyak, Pilih Saham IPO daripada Blue Chip

Memang kalau pingin main aman dalam berinvestasi, saham-saham unggulan layak dikoleksi. Namun bila ingin profit lebih besar, justru saham perusahaan IPO lebih menguntungkan. Soalnya saham unggulan atau blue chip ini biasanya sudah overvalue, sangat kecil kemungkinan untuk naik lagi.

Mungkin saja bisa berharap dari dividen yang diberikan, tapi rata-rata tidak bisa berharap naik lagi berlipat-lipat. Biasanya berita saham perusahaan yang sudah naik berlipat-lipat tidak bisa diharapkan performanya akan terus berlanjut.Ada masa saat berita itu dirilis harga sahamnya sudah overvalue.

Biasanya orang atau investor sering tergiur dengan performa kenaikan sahamnya yang berlipat-lipat, tapi ini sebenarnya masa lalu dan tidak bisa dijadikan acuan. Harus lebih teliti menghitung lagi statistik kinerja perusahaan, bila rasio asset, pertumbuhan laba lebih kecil dari pertumbuhan sahamnya, maka kondisi ini sudah overvalue dan layak untuk tidak dikoleksi lagi.

Pendapat dari banyak kalangan agar mengoleksi saham perusahaan unggulan atau blue chip adalah saran untuk main aman. Tentunya dengan main aman akan tetap profit, tapi dengan margin pertumbuhan yang kecil. Kadang masih kalah dengan bunga deposito, lalu buat apa bermain saham bila pendapatannya masih kalah dengan bunga deposito.

Disini memang perlu dikaji ulang tentang mitos atau anggapan di pasar saham yang sering menjerumuskan atau berita “goreng-menggoreng”. Umumnya ini dilakukan untuk menarik minat investor masuk ke pasar saham, tapi pada kenyataannya tak seindah yang diucapkan. Seringkali malah membuat investor yang baru masuk ke pasar modal mengalami fobia akibat trauma dari kerugian bermain saham.

Memang akan selalu ada alasan untuk menarik minat masyarakat menjadi investor di pasar saham. Namun tetap harus mengedepankan investasi yang berkelanjutan, sehingga pasar saham akan tumbuh terus investornya. Bukan ramai di awal dan sepi sesudahnya.

Edukasi atau pelurusan dari mitos yang salah kaprah harus dilakukan oleh otoritas pasar modal maupun para pialang sendiri. Jangan mengambil keuntungan untuk diri sendiri dengan mengorbankan mereka yang baru atau awam di pasar modal. Sebaiknya berkomentar yang fair daripada perkataan formal yang hanya sekedar lips servis.

Sunday, November 8, 2015

Saham Property Berpeluang menjadi Motor Penggerak Bursa

Meski posisi nilai sahamnya masih memerah pada tahun ini, saham-saham perusahaan property masih memiliki prospek yang lebih baik. Beberapa aturan pendukung sudah mulai aktif mendorong harga property lebih tinggi dan permintaan yang lebih besar. Ini dimungkinkan dengan beberapa deregulasi yang mulai terlihat efeknya.

Saat ini saham property memang masih kalah dengan saham dari consumer good industri, namun tren yang terlihat posisinya bisa menjadi motor utama penggerak bursa, Ini terlihat dari sejak kejatuhan kemarin, posisi saham property ini lebih cepat bangkit dibandingkan saham unggulan lainnya. Mayoritas emiten saham property juga menunjukan kinerja yang bagus di sektor riilnya.

Apalagi dengan proyek infrastruktur yang sudah mulai bergerak cepat, maka akan banyak emiten property yang menambah porsi saham publiknya. Ini dimungkinkan kebutuhan dana segar akan dilakukan mengikuti jejak beberapa perusahaan consumer good industri beberapa waktu lalu. Akibatnya akan terjadi dorongan pertambahan dan pertumbuhan nilai saham.

Patut dicermati pula, rata-rata emiten yang menambah porsi sahamnya kebanyakan overbooked dan sukses meningkatkan nilai sahamnya. Bukan tidak mungkin ini terjadi pada saham-saham perusahaan property yang mau menambah sahamnya. Peluangnya masih sangat besar untuk mendapatkan kepercayaan dari investor.

Banyak sentiment positif yang berkembang di sektor property, disamping tekanan melambatnya ekonomi global masih menjadi momok ke depannya. Namun perlu diakui posisi nilai tawarnya masih lebih tinggi. Ini membuat nilai saham property bisa lebih baik dari saham unggulan lainnya.

Salah satunya adalah perkembangan pembangunan apatemen dan tempat hunian yang massif, ini bisa menjadi katalisnya. Juga adanya pembangunan jaringan infrastruktur, membuat produk-produk property menjadi lebih bernilai. Meskipun harus diakui peluang terjadinya buble di sector property ini bisa terjadi.

Ini karena motor ekonomi dunia yaitu cina di beberapa kawasannya sudah mengalami hal ini. Persoalannya pertumbuhan sector property cina sudah terlalu cepat, sangat jauh beda dengan kondisi di sini yang lebih cepat pertumbuhan permintaan dibandingkan ketersediaan propertynya. Memang harus diakui garis merah buble ini bisa menjadi halangan saham property menjadi motor penggerak bursa, namun untuk saat ini masih jauh dari momok tersebut.

Sunday, November 1, 2015

Kabut Asap biang Rontoknya Saham Perkebunan

Boleh dibilang kinerja saham perkebunan cukup bagus sejak awal tahun, sempat menjadi motor pergerakan saham utama di bursa. Namun semenjak kasus kabut asap yang tak kunjung usai, performa saham-saham perkebunan ini mulai meredup, bahkan mulai menyamai nasibnya dengan saham pertambangan. 

Banyak yang berpendapat kejatuhan saham perkebunan ini sudah terjadi sejak kondisi perkonomian di cina mulai melambat. Dimana permintaan akan komoditas perkebunan mengikuti turunnya perekonomian cina, sedang kasus kabut asap bukanlah penyebab utamanya. Namun bila melihat kinerja saham lainnya, nampaknya saham perkebunan ini paling sulit “move on” setelah “black Monday”.

Padahal hampir semua saham bergerak positif dengan rentang yang lebih bagus. Bisa saja persoalan kabut asap ini mulai memakan korban lebih dari yang diperkirakan. Soalnya otomatis kegiatan perkebunan serta aktifitas di daerah terkena kabut asap akan terhambat oleh amukan kabut asap ini.

Seperti diutarakan sebelumnya, bahwa sektor perkebunan ini menjadi motor pergerakan di bursa saham sejak awal tahun. Saat ekonomi lesu, saham perkebunan ini masih mampu mengangkat indeks saham gabungan ke titik positif. Ini bisa diartikan kasus kabut asap ini tidak main-main dalam menghantam kinerja saham-saham perkebunan.

Apalagi dengan prospek kasusnya yang mulai masuk ranah hukum. Beberapa petinggi perusahaan perkebunan harus mempertanggung-jawabkan terjadinya kabut asap di daerah wilayah kerjanya. Otomatis ini akan mengganggu kinerja perusahaan perkebunan tersebut, beberapa malah menjadi tersangka, meski pihak berwenang masih menutupi kasusnya.

Diperkirakan tak ingin ada kegaduhan, namun publik juga ingin tahu mereka yang bertanggung-jawab akan amukan kabut asap yang terjadi ini. Soalnya efeknya sudah sangat buruk, bahkan menjadi kejadian yang terburuk dalam sejarah Indonesia.

Bila melihat prospek saham perkebunan ini sebenarnya masih positif. Terlebih ada langkah pemerintah Indonesia dan Malaysia memperbaiki perdagangan kelapa sawit. Juga perkiraan akan datangnya hujan dengan segera, maka kasus kabut asap akan segera berlalu.

Sebenarnya pula posisi saham-saham perkebunan ini sudah cukup undervalue. Sejak dari kejatuhan saat “black Monday”, saham perkebunan belum menunjukan kinerja yang sebenarnya. Diperkirakan masih memiliki harapan untuk bergerak positif dan menjadi motor pergerakan di bursa.

Thursday, October 29, 2015

Ekonomi Amerika Melambat, IHSG kembali Jatuh

Sentimen negatif dari luar kembali menghantam bursa dunia. Kali ini datang dari Amerika dengan rilis angka pertumbuhan ekonomi yang melambat. Diperkirakan IHSG akan sulit keluar dari pengaruh ini, mengingat Amerika adalah tujuan ekspor terbesar Indonesia.

Investor juga pesimis akan kondisi ekonomi domestik yang belum bisa lepas dari pengaruh luar. Bagaimanapun investor akan mencari mode investasi yang menguntungkan. Besar kemungkinan akan lari ke dollar atau mode investasi lainnya yang lebih menguntungkan.

Kejatuhan IHSG kemarin sudah diperkirakan, meski ada yang bilang indeks sudah overbought, tapi sebenarnya masih jauh dari nilai yang pernah dicapai sebelumnya. Angka rebound atau kenaikannya masih jauh dari level terbaik sebelumnya, apalagi dengan pendorong posisi akhir tahun atau window dressing, harusnya sudah ancang-ancang pemulihan yang menyeluruh.

Ekspor Indonesia ke Amerika jauh lebih besar daripada ke cina, ini membuat apapun yang terjadi di Amerika lebih besar efeknya daripada kejadian di cina. Meskipun ada efek domino akan kejadian di cina, karena amerika juga mitra dagang utama cina. Boleh dibilang perlambatan ekonomi amerika mengekor apa yang terjadi di cina sebelumnya.

Praktis bisa dikatakan posisi Indonesia berada pada pusaran perlambatan yang sulit untuk diatasi. Apalagi dengan kondisi ekonomi domestik yang kurang memuaskan, daya beli masyarakat yang menurun. Ini membuat pemerintah tidak memiliki banyak pilihan untuk memacu pertumbuhan ekonominya.

Memang menjadi wajar bila IHSG jatuh dengan kondisi yang masih serba tidak menyenangkan ini. Beberapa saham yang berhubungan dengan industri dan pertambangan mengalami kejatuhan yang cukup dalam, diikuti saham perkebunan yang juga terdampak kondisi di amerika. Namun IHSG agak tertolong dengan saham-saham berbasis domestik, saham consumer good dan perbankan membantu menahan laju kejatuhan ini.

Diperkirakan IHSG akan segera konsolidasi dari kejatuhan yang terjadi. Ini mengingat masih ada sentimen positif, seperti pengesahan anggaran belanja dan profit korporasi yang baru dirilis. Meski rata-rata mengalami penurunan, masih beruntung bisa membukukan keuntungan yang siginifikan dan agaknya akan bisa membantu IHSG keluar dari kejatuhan.

Tuesday, October 27, 2015

Investor masih Ragu, Kinerja IHSG masih Terburuk

Dalam setahun ini kinerja bursa masih mengikuti perlambatan ekonomi global. Tidak ada tanda-tanda masuknya kembali investor asing secara penuh. Ini membuat kinerja IHSG masih terburuk di antara beberapa bursa dunia.

Tampaknya investor asing masih menyimpan keraguan atas pemulihan ekonomi Indonesia secara cepat. Dari banyaknya persoalan yang dihadapi, seperti kabut asap yang tak kunjung usai, membuat investor masih meragukan kapabilitas pemerintah dalam mengelola perekonomian. Pemerintah terlalu sibuk dengan persoalan yang ada, hingga tidak bisa fokus dengan pemulihan ekonomi.

Padahal bila melirik ke bursa dunia lainnya, beberapa Negara sudah bisa bangkit dan berakselerasi dengan cepat. Lihat saja korea selatan, jepang, cina dan philipina yang bisa konsolidasi dengan cepat. Mereka bisa keluar dari kejatuhan saat “black Monday” dan sudah mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Boleh jadi investor asing yang keluar dari Indonesia, telah mengalihkan dananya ke Negara tersebut, hingga sulit bagi IHSG untuk bangkit. Memang tanpa investor asing, IHSG sangat lamban pertumbuhannya. Ini selaras dengan pertumbuhan sektor riil yang masih minus.

Lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia memang tak lepas dari persoalan leadership. Meski investor tidak peduli dengan persoalan politik, namun pengelolaan pemerintahan yang carut marut dipandang sebagai lemahnya leadership dan berujung rendahnya kepercayaan investor. Bila bicara soal ini, maka akan sulit menarik investor masuk dengan apapun kebijakan yang diambil.

Setiap langkah pemerintah memang diamati secara seksama oleh investor. Manajemen kabut asap yang amburadul, menjadi satu nilai buruk tentang lemahnya leadership. Soalnya Negara besar dengan human resource dan dana yang besar, pengelolanya tak mampu memanfaatkan semua itu.

Padahal secara ekonomi, kabut asap ini sudah menghambat kegiatan ekonomi dan sangat merugikan perekonomian Indonesia. Bisa jadi pertimbangan daerah terdampak masih jauh dari jawa yang merupakan pusat kegiatan ekonomi, namun bukankah jawa juga berhubungan dengan daerah terdampak? Disini terlihat memang amburadulnya pengelolaan data hingga membuat output yang dihasilkan juga buruk.

Investor melihat pemulihan ekonomi bisa lebih lambat dari yang diharapkan, sehingga wajar bila pertumbuhan IHSG sangat lambat. IHSG mengalami kejatuhan yang sangat dalam dan terburuk di antara bursa dunia, sebagai respon investor asing atas kinerja pemerintah yang sangat buruk. Lambatnya pemulihan juga dilihat investor sebagai rendahnya kepercayaan atas pemerintah dalam mengelola ekonomi hingga investor masih ragu untuk masuk.

Mungkin penguatan rupiah, masuknya kembali sebagian investor asing dibursa bisa memberi secerca harapan. Namun perlu diperhatikan IHSG masih minus lebih dari 10 persen, dan hanya beranjak separuh jalan dari kejatuhannya. Pemerintah harus terus bekerja lebih keras dan lebih pintar dalam memulihkan kembali perekonomian.

Monday, October 26, 2015

Ternyata Investor Asing “Doyan” Saham Rokok

Di Negara maju, bisa saja kampanye anti rokok sangat gencar dilakukan. Namun disini saham perusahaan rokok diminati oleh investor asing. Diperkirakan investor asing yang paling banyak memborong penambahan saham sebuah perusahaan rokok, hingga kapitalisasi harian transaksi saham tembus diatas 1 milyar dollar.

Biasanya kapitalisasi harian transaksi saham di bursa Cuma di kisaran 5-7 trilyun rupiah. Itupun dengan mayoritas didominasi oleh investor domestik. Namun tidak untuk kemarin, dimana investor asing banyak yang melepas saham yang sudah dimiliki dan memburu saham perusahaan rokok tersebut.

Memang investor asing ramai memborong saham perusahaan rokok, tapi bukan berarti ada dana asing yang masuk. Ini terlihat dari posisi rupiah yang justru melemah terhadap dollar. Ternyata investor asing ini melepas saham yang ada dan memburu saham perusahaan rokok tersebut.

Diprediksi prospek perusahaan rokok masih bersinar di Indonesia. Seperti diketahui mayoritas penduduk Indonesia adalah perokok aktif dengan rentang usia yang sangat lebar, dari usia sekolah, usia produktif sampai usia lanjut. Memang belanja masyarakat Indonesia pada rokok ini bisa melebihi kebutuhan pokok lainnya.

Kampanye anti rokok yang dilakukan oleh pemerintah masih kalah dengan gencarnya iklan rokok dan konsumsi rokok yang sudah mendarah daging. Industri rokok bisa tumbuh subur dengan pertumbuhan yang cukup lumayan. Meskipun ancaman kampanye anti rokok pada jangka panjang bisa menjadi tekanan bagi industri rokok ini ke depannya.

Di Negara maju perlahan tapi pasti, industri rokok sudah mengalami kepunahan. Ini dengan regulasi yang ketat, seperti rokok putih tanpa merek hingga pembatasan penjualan lainnya. Semua ini dilakukan karena memang efek negatifnya sudah dilihat lebih merugikan dari sisi ekonomi dan kesehatan.

Disini industri rokok telah membawa pemiliknya menjadi jajaran orang terkaya di Indonesia. Pola hidup perokok aktif di masyarakat Indonesia yang begitu royal ini telah menyumbang kekayaan bagi para konglomerat Indonesia. Padahal bila dilihat mereka yang royal dalam merokok ini, penghasilannya pas-pasan, lebih sering penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Masyarakat sudah jatuh ke dalam budaya dan kebiasaan merokok hingga mengorbankan kehidupan maupun ekonomi mereka. Ada istilah lebih baik tidak makan daripada tidak merokok. Hal inilah yang membuat prospek industri rokok sangat cerah di Indonesia, hingga investor asing yang notabene anti rokok, masih mendukung industri rokok. Ini tentunya kalau bicara soal uang, tidak ada hubungannya dengan prinsip.

Thursday, October 22, 2015

Investor Bimbang, IHSG Lesu

Hampir beberapa hari setelah euphoria di bursa yang dimotori investor asing, perlahan mulai menemukan bentuknya. Mereka mulai berhenti memburu saham incaran dan menahan untuk menunggu berita dari pemerintah. Meski kondisi eksternal masih kurang menyakinkan, investor berharap ada kabar baik dari pemerintah.

Kebijakan ekonomi yang dikeluarkan masih belum memuaskan, belum mampu menggerakan sektor riil yang menjadi acuan di bursa. Pertumbuhan ekonomi yang diandalkan, justru dikoreksi oleh bank dunia. Ini menandakan ada sisi yang tidak sejalan dengan arah pemerintah.

Memang tekanan perlambatan ekonomi global masih belum berlalu. Berita dari cina masih menjadi tekanan bagi pergerakan ekonomi. Perlambatan ekonomi yang terjadi di cina lebih cepat dari yang diperkirakan, ini membuat jauh dari ekspektasi banyak kalangan.

Koreksi pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sudah cukup wajar, selisih sedikit dari yang diinginkan oleh pemerintah. Namun tetap saja di bawah ekspektasi pemerintah, dan ini harus menjadi cambuk untuk bekerja lebih keras lagi. Soalnya ada banyak persoalan yang harus segera diperbaiki.

Meski nilai tukar rupiah sedikit memberi kelonggaran, namun tekanan masih belum berakhir. Diperkirakan rupiah akan menjadi sorotan bagi investor asing di bursa. Pergerakannya yang fluktuatif membuat mereka menunggu akan arah yang pasti. Mereka memiliki kemungkinan untuk keluar bila rupiah melemah lagi.

Namun investor asing ini juga akan keluar dari bursa bila rupiah menguat dengan cepatnya. Disini perlu ekstra hati-hati dalam menjaga rupiah agar tidak terus berfluktuatif dan bisa stabil di level yang diinginkan sesuai di anggaran belanja.

Selama ini tidak ada tanggapan resmi akan arah yang diinginkan pemerintah. Ini membuat pasar berspekulasi akan nilai rupiah yang ekonomis. Bila dilihat dari arah pergerakannya masih sangat fluktuatif, belum menemukan level yang stabil.

Investor asing yang bermain dalam jangka pendek, tampaknya juga cukup gelisah. Masih kesulitan menebak kearah mana kondisi perekonomian. Sementara dari sisi pemerintah nampaknya sudah kehabisan stimulus, mereka tampaknya sedang menunggu pula akan arah pasar bergerak. Satu hal yang harusnya bisa dicairkan oleh pemerintah dengan memberi sentiment positif atau indikator ekonomi yang menyakinkan.

Thursday, October 15, 2015

Benarkah Investasi Saham lebih Menguntungkan dari Deposito?

Banyak yang bilang investasi di bursa saham lebih menguntungkan daripada investasi di deposito. Ini ada benarnya, meskipun tidak sepenuhnya benar. Soalnya ada yang bangkrut atau jatuh miskin gara-gara investasi di bursa saham.

Lihat saja investor domestik di bursa cina yang bunuh diri saat saham yang dimilikinya terjun bebas hingga terbelit hutang. Kok bisa gitu? Dia waktu itu beli saham yang kata brokernya akan terus naik, misal harga saham saat dibeli posisi 20 ribu perlembar. Lalu nilai sahamnya memang naik terus, namun tanpa terduga terjadi krisis, harga sahamnya anjlok hingga Cuma bernilai 10 per saham. Tentunya dia rugi besar, apalagi dia sudah berhutang lima kali lipat dari saat beli saham.

Dia memang beli saham dari hutang, sehingga saat sahamnya jatuh dia terbelit hutang dan nekad bunuh diri karena hanya itu cara untuk menutup hutang dari asuransi yang dimilikinya. Kalau ini tidak dilakukan, maka bisa tujuh turunan dia dan keluarganya akan terbelit hutang atau masuk penjara. Semua ini adalah sisi gelap dari bermain saham di cina yang mungkin terjadi disini tanpa publikasi sama sekali.

Siapapun pasti tergiur dengan iming-iming penghasilan lebih baik dalam berinvestasi, sehingga sering mengabaikan resiko dalam berinvestasi. Demikian pula dengan investasi di bursa saham memang memiliki kans yang lebih menguntungkan dibandingkan deposito, hanya memang memiliki resiko yang lebih besar. Boleh dibilang bisa satu dibanding seratus, kemungkinan untung terus tidak bisa dijamin akan terjadi.

Soalnya sekali saham tersebut sudah naik, berarti posisinya sudah overvalue dan ini beresiko tinggi untuk jatuh. Apalagi dengan “goreng-menggoreng” atau membuat berita yang super positif pada kinerja perusahaan tersebut, maka bisa terjadi overvalue yang berlipat-lipat. Biasanya saat jatuh akan butuh waktu yang super lama untuk bisa kembali ke posisi semula, bahkan mungkin tak akan pernah kembali.

Siapa tak kenal dengan sebuah saham perusahaan tambang ternama dan terbesar di negeri ini, bahkan masuk jajaran terbesar di dunia dan pernah listing di bursa London. Saham perusahaan tersebut di IPO hanya 50 perak dan pernah melonjak sampai 16000 persen dari harga awalnya, sekarang balik lagi Cuma 50 perak. Semua ini berita buruk bagi investor di pasar saham, hanya memang tidak terpublikasi secara besar-besaran.

Biasanya berita yang baik yang mencuat, seperti saham perusahaan anu yang saat IPO sudah melonjak berkali-kali lipat. Berita gini bisa dengan cepat mengerek nilai sahamnya, padahal kinerja perusahaannya biasa-biasa saja. Disini memang bagi investor jangan terbujuk atau terjebak oleh berita “goreng-menggoreng” tadi.

Lebih baik cek secara teliti kinerja perusahaan atau emiten, karena semuanya sudah tersedia datanya di bursa. Setiap perusahaan yang mencatatkan sahamnya di bursa, menjadi perusahaan terbuka dan bisa dilihat kinerja keuangan perusahaan tersebut. Ini yang harus dipelajari dengan detail.

Memang bagi yang awam di bidang keuangan atau ekonomi akan sangat bergantung dari broker masing-masing. Namun hendaknya punya second opinion dari konsultan atau analis yang terpercaya, sehingga ada semacam pertimbangan yang lebih hati-hati dalam memutuskan membeli saham tersebut. Sekali lagi investasi saham memang lebih menguntungkan dari deposito, dengan syarat saham yang dipilih memang saham perusahaan yang berkinerja baik.

Juga jangan taruh semua telur dalam satu wadah, jangan tempatkan seluruh investasi dalam satu tempat. Usahakan membagi investasi di berbagai bentuk dengan porsi yang aman, sehingga bila satu investasi jatuh, maka tidak seluruh uang atau modal akan hangus.

Ekonomi Domestik masih Positif, Investor Asing coba Bertahan

IHSG sempat naik beberapa jam setelah sesi pembukaan, namun cenderung datar setelah neraca perdagangan dirilis oleh BPS. Investor tampaknya coba bertahan ditengah sentimen negatif neraca perdagangan cina dan sentiment positif surplus neraca perdagangan Indonesia. Kondisinya memang masih memiliki ekspektasi untuk tumbuh dan bergerak positif.

Meskipun sebenarnya posisi neraca perdagangan Indonesia yang surplus ini diuntungkan dari melemahnya rupiah sepanjang bulan lalu. Ini otomastis dengan mata uang melemah bisa mendongkrak kinerja ekspor dan menahan laju impor. Namun kondisi ini bisa berubah bila rupiah terus menguat, maka neraca perdagangan akan kembali tertekan.

Kondisi ini adalah suatu kewajaran yang disikapi investor asing untuk masih bertahan sambil menunggu data ekonomi lainnya. Kemungkinan BI rate maupun data dari eksternal, bisa mempengaruhi langkah investor asing. Seperti diketahui sejak beberapa minggu ini investor asing sudah balik masuk ke bursa saham Indonesia, setelah keluar secara besar-besaran pada “black Monday” beberapa bulan yang lalu.

Kinerja bursa menunjukan tren positif dengan sesekali koreksi, namun secara keseluruhan terlihat volume transaksi investor asing merangkak naik. Ini membuat bursa rally panjang dan naik secara tajam. Mereka sudah diuntungkan dengan nilai tukar dan harga saham yang sudah murah.

Sekarang yang dilakukan investor asing adalah bertahan bagi yang bermain jangka menengah dan panjang, sedang yang bermain jangka pendek atau spekulan akan menunggu momen rupiah di titik puncaknya. Dengan posisi rupiah yang terdongkrak oleh kinerja perdagangan, maka ada kemungkinan para spekulan ini mulai beraksi.

Besar kemungkinan mereka akan segera keluar karena mereka sudah untung banyak. Hanya memang mereka menunggu dollar melemah dan adanya tempat lain untuk menaruh investasi selanjutnya. Memang ada kemungkinan bisa masuk ke beberapa bursa regional yang lain.

Inilah yang harus diwaspadai akan adanya profit taking, setelah IHSG mengalami kenaikan yang tajam. Para spekulan ini memiliki kans yang besar untuk keluar, hanya memang nggak mau untuk besar, maunya untung sangat besar dan bisa membiakan investasinya di portofolio lainnya. Bila rupiah menguat tembus level psikologisnya, maka para spekulan ini akan segera keluar dari bursa.

Tentunya ini sangat sulit terjadi, mengingat BI akan segera masuk memborong dollar untuk mengisi cadangannya yang tergerus sebelumnya. Jadi akan terjadi kucing-kucingan antara spekulan dan BI dalam beberapa hari ke depan. Wajar bila rupiah akan terus berfluktuasi ke depannya.

Tuesday, October 13, 2015

Impor Cina Anjlok, IHSG Turun Tajam

Pergerakan positif IHSG selama beberapa hari ini terhenti oleh kabar buruk dari Cina. Lagi-lagi performa perdagangan cina lesu, ekspornya turun, bahkan impornya turun tajam. Ini memukul Negara pengekspor komoditas seperti Indonesia dan Negara emerging market lainnya.

Sekali lagi rapuhnya perkonomian Cina dan efeknya masih sangat toksit ke seluruh dunia. Apalagi efeknya sangat berat pada Negara yang mengandalkan komoditas pada ekspornya. Indonesia dalam hal ini sudah harus bekerja keras bertransformasi menjadi Negara yang produktif dan tak lagi mengandalkan ekspor komoditas.

Adanya undang-undang minerba juga masih belum efektif dalam menekan perusahaan tambang untuk membangun smelter, bahkan nasib smelter belum jelas malah kontraknya yang belum habis diperpanjang. Sungguh ironi masih bisa dikontrol dan didikte oleh faktor eksternal. Sudah bukan saatnya bicara royalty, harusnya divestasi secara menyeluruh.

Selama ini kendala dana yang belum tersedia, masih bisa dilakukan dengan IPO di bursa. Disana ada dana yang tak terbatas, meski dana asing bisa saja dikendalikan dengan aturan yang mengikat. Disini perlunya kreatifitas dalam membesarkan pasar keuangan dalam memaksimalkan SDA yang masih diperah oleh Negara lain.

Selama Indonesia masih mengandalkan SDA, maka selamanya terjebak pada persoalan yang sama dari tahun ke tahun. Meski proyek infrastruktur giat-giatnya dibangun tapi tidak serta merta mampu menarik dana asing masuk. Kondisinya sudah sangat kompetitif, asing masih berpikir seribu kali dengan resiko investasi di Indonesia.

Boleh saja bicara banyak investasi asing yang tertarik untuk masuk, namun sedikit yang terealisasi. Itupun masih dengan mengorbankan segala macam insentif dan menihilkan keuntungan dari investasi bagi Negara. Bisa-bisa Negara ini hanya jadi tempat transit atau café saja, tanpa bisa mengais keuntungan dari masuknya investasi.

Seperti di bursa saham kemarin, justru yang pesta pora adalah investor asing, sedang investor domestik hanya gigit jari dengan aksi investor asing. Disini terlihat pemerintah masih belum memiliki strategi yang jitu di pasar keuangan seperti pasar modal, sehingga wajar kapitalisasi pasar modal Indonesia tak pernah tembus 1 milyar dollar perhari. Masih kalah dengan Negara tetangga, yang cukup pandai dalam mengelola portofolio investasi.

Monday, October 12, 2015

Investor Asing Motor Penggerak IHSG

Setelah jatuh hampir 20 persen dalam tahun ini, IHSG kembali bergerak naik. Meski masih minus pertumbuhannya, namun sudah mulai menunjukan pergerakan yang positif. Investor asing nampaknya sudah mulai “betah” dan memburu saham lapis dua.

Diperkirakan IHSG akan terus rally menembus level terbaik sebelumnya. Ini adalah ekspektasi investor asing yang akan terus melakukan aksi beli dalam mendongkrak dan mendorong pertumbuhan di IHSG. Justru kemungkinan profit taking akan dilakukan investor domestik yang sudah menguasai saham-saham lapis satu dan dua sebelumnya.

Banyak emiten yang sudah buyback, kemungkinannya akan melakukan aksi serupa. Diperkirakan kondisi ini akan terus membaik seiring ekspektasi di sisa anggaran, persiapan window dressing, serta membaiknya nilai tukar rupiah. Hanya memang bagi investor asing jangka pendek, akan memilih, menunggu dollar lebih murah sebelum keluar kembali.

Poin inilah yang kemungkinan dilakukan investor asing yang merupakan mayoritas dari pemain di bursa saham. Ada pasar saham maupun pasar keuangan yang lebih menyakinkan dari Indonesia, seperti India dan Philipina yang lebih baik prospeknya dari Indonesia. Hanya masalah posisi dollar dan pergerakan di pasar saham tersebut yang mungkin menjadi ancaman bagi IHSG.

Seperti diketahui sektor riil di Indonesia masih kalah baik dengan beberapa Negara lainnya. Pergerakannya sangat lambat meski dengan berbagai paket kebijakan, terutama PHK yang masih terus terjadi. Diperkirakan kondisi ini juga menjadi pertimbangan investor asing dalam memilih untuk tetap atau keluar dari bursa.

Dalam hal ini bila pemerintah ingin tetap menahan para investor asing ini di bursa, maka harus mulai fokus membenahi sektor riil yang porak-poranda saat pelemahan rupiah. Daya beli masyarakat harus dengan cepat dipulihkan, meski pemerintah gagal menurunkan harga BBM jenis premium, namun harus bisa memberi substitusi pada tumbuhnya lapangan kerja baru, yang akan bisa mendongkrak daya beli masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi yang terus dikoreksi oleh lembaga keuangan dunia, harusnya menjadi cambuk untuk segera merealisasikan semua anggaran yang tersisa. Hanya ini harapan yang bisa memberikan sentiment positif, agar bursa bisa terus tumbuh dan minimal tidak minus untuk tahun ini.

Friday, October 9, 2015

IPO Saham Freeport Indonesia Masihkah Berharga?

Diperkirakan pemerintah akan melepas hak atas divestasi PT Freeport yang tersisa 10,64 persen ini. Disamping karena keterbatasan dana pemerintah, juga saham PT Freeport Indonesia ini sudah berkurang jauh nilainya. Ini tentunya sejak anjloknya harga minyak dunia dan komoditas serta perlambatan ekonomi yang masih belum pasti.

Meski secara aturan ada pihak seperti pemda atau pemerintah propinsi-kabupaten, lalu BUMN yang bisa memiliki saham tersebut, namun diperkirakan keterbatasan dana akan menghalangi hal tersebut. Seandainya dimungkinkan konsorsium seperti pemda dan BUMN bisa bersinergi mengambil divestasi saham Freeport yang tersisa. Hanya saja waktu akan membatasi pergerakan konsorsium ini, kembali persoalan dana menjadi hambatannya.

Akibatnya IPO saham Freeport adalah sesuatu yang memungkinkan, dengan perkecualian investor asing tidak dibolehkan ikut serta. Namun yang jadi pertanyaan selanjutnya, apakah saham Freeport Indonesia ini masih berharga? Tentunya perlu kajian mendalam akan segala kemungkinan yang terjadi.

Selama ini produksi PT Freeport Indonesia adalah emas, tembaga yang menjadi andalan hingga gunung tempat lokasi penambangan berubah menjadi jurang yang spektakuler. Memang penambangannya dilakukan secara besar-besaran, karena hasil emasnya sangat besar untungnya. Meskipun kondisi harga emas tidak sebagus seperti beberapa tahun yang lalu, namun komoditas emas tetap diunggulkan.

Hanya memang prospek ke depannya menjadi meragukan, ini bila harga emas terus mengalami penurunan. Dari data yang ada, memang harga emas cenderung turun sehingga wajar bila pihak Freeport enggan untuk membangun smelter. Disamping smelter ini butuh dana yang tidak sedikit, juga harga komoditas tambang ini cenderung terus menurun.

Ini dipengaruhi oleh over kapasitas produk komoditas dan perlambatan ekonomi yang belum diketahui sampai kapan akan berlalu. Ini membuat prospek industri pertambangan memang meragukan. Untuk saat ini saham PT Freeport Indonesia tentu saja masih sangat berharga dalam beberapa tahun ke depan, tapi tidak sama nilainya saat beberapa tahun yang lalu.

Semuanya sudah berubah kondisinya, maka bisa jadi saat IPO nantinya ada kemungkinan sahamnya masih diburu. Namun bagi yang mengerti prospek industri tambang ke depannya, maka sebenarnya saham Freeport ini sudah tak berharga lagi. Ini dengan hitung-hitungan prospek ekonomi global yang akan terus menurun dalam beberapa tahun ke depan, dan harga minyak dunia yang tak akan kembali bersinar dalam satu dekade lagi.

Wednesday, October 7, 2015

Panen Raya Investor Asing di Bursa

Aksi beli investor asing masih terus terjadi di bursa saham. Diperkirakan mereka akan terus masuk memburu saham unggulan yang sudah sangat murah. Ini karena memang belinya pake dollar, dapat rupiahnya banyak sehingga dapat sahamnya sangat murah sekali.

Bukankah ini namanya untung besar, dengan memanfaatkan gejolak rupiah dan anjloknya harga saham di bursa. Pola ini sudah terbaca, saat capitol outflow dari emerging market dalam jumlah yang sangat besar. Ini mengikuti isu kenaikan suku bunga amerika, akibatnya rupiah melemah sangat dalam, diikuti bursa yang sudah secara massif ditinggalkan oleh investor asing.

Dalam kondisi ini investor asing berada dalam posisi yang paling menguntungkan. Saat masuk ke bursa, dollar mereka sudah sangat tinggi nilainya terhadap rupiah. Apalagi dengan posisi saham yang sudah turun hampir 20 persen dari awal tahun, maka harga saham sudah sangat murah sekali.

Para investor asing ini mengeruk dobel keuntungan, dari nilai tukar rupiah dan dari murahnya harga saham. Diperkirakan bila dihitung keuntungan investor asing ini bisa mencapai lebih dari 30-45 persen dalam menukarkan dollarnya dengan saham unggulan di bursa. Apalagi IHSG juga bergerak naik dengan cepat, maka bisa diperkirakan keuntungan para investor asing ini bisa bertambah 10 persen dalam beberapa hari-minggu kedepannya.

Memang pasar emerging market seperti Indonesia ini sangat mudah digoyang dan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Pola ekonomi konsumtif yang dianut oleh Indonesia memang sangat bermanfaat bagi investor asing. Meski secara ekonomi bagi Indonesia, pola ekonomi konsumtif ini sangat merugikan karena menjadi bulan-bulanan gejolak eksternal.

Diperkirakan bursa akan terus bergejolak lagi, ini mengingat dengan naiknya IHSG, maka posisi investor asing sudah untung lebih dari 50 persen. Mereka bisa dengan mudahnya keluar lagi memburu dollar, karena posisi dollar yang berbalik melemah sehingga sangat murah untuk dibeli. Posisi yang sudah untung ini memang menawarkan kemungkinan profit taking di bursa saham.

Apalagi dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang masih dangkal. Paket kebijakan ekonomi jilid 1, 2, 3 dan seterusnya masih belum menyentuh fundamental ekonomi, maka besar kemungkinan rupiah masih bisa bergejolak dan ini adalah peluang besar bagi investor asing meraih keuntungan. Dengan main dollar dan saham sudah untung banyak dalam waktu singkat.