Pages

Showing posts with label bisnis. Show all posts
Showing posts with label bisnis. Show all posts

Wednesday, November 25, 2015

Lemahnya Transparansi di Perusahaan Negara

Sudah lama perusahaan Negara atau BUMN menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi para elit politisi dan kroni-kroninya. Meskipun sudah mulai berubah dan bergerak menuju keterbukaan, namun isu transparansi masih mengemuka. Banyak transaksi mencurigakan yang berujung dari nepotisme atau hubungan bisnis dengan manajemen BUMN.

Memang Negara memiliki kuasa atas modal yang ditaruh di BUMN dengan menempatkan wakilnya di perusahaan tersebut, namun kondisi ini cenderung disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ini membuat BUMN lebih dari rekening para pemegang kekuasaan. Kondisi ini sudah berlarut-larut hingga membuat banyak BUMN ini sudah sangat kronis operasionalnya.

Siapapun yang berkuasa tetap tak rela melepaskan pengaruh untuk mendapatkan dana dari BUMN tersebut. Penempatan wakil pemerintah di BUMN tak lebih dari ajang memeras daripada mengembangkan BUMN ini lebih maju. Ini artinya BUMN tak lebih dari sebuah perusahaan politis dan menjadi milik penguasa.

Padahal harusnya sudah dipisahkan antara kepentingan politis dan pengawasan yang lebih professional. Justru penempatan komisaris independent bisa lebih baik dari para komisaris yang ditunjuk oleh pemerintah. Mungkin perlu perubahan menyeluruh atas aturan dalam pengelolaan BUMN yang lebih baik.

Aturan yang lebih terbuka dengan menempatkan orang-orang yang kapabel di bidangnya, bahkan kalau perlu BUMN sudah harus diprivatisasi. Ini untuk membuat BUMN menjadi perusahaan yang lebih terbuka dan lebih transparan dari transaksi-transaksi yang mencurigakan antara manajemen BUMN dengan kroni-kroninya. Sampai saat ini boleh dibilang masih terjadi transaksi mencurigakan dan tender terselubung yang dilakukan oleh manajemen BUMN.

Ini bukan rahasia lagi, soalnya hanya meng-gemuk-kan para subkontraktor yang notabene milik orang-orang dilingkaran kekuasaan dan manajemen BUMN. Tentu saja akan sulit ditelusuri bukti akan transaksi mencurigakan ini, soalnya semua dilakukan di bawah tangan dengan sepengetahuan manajemen BUMN. Isu ini sudah lama terjadi, tapi sulit untuk diberantas karena pihak penguasa memiliki kepentingan akan hal ini.

Disini memang pentingnya BUMN menjadi perusahaan terbuka, lebih transparan atas transaksi bisnis yang dilakukan dengan mitra bisnisnya. Sudah saatnya memutus mata rantai BUMN dari pengaruh kepentingan politis dan menempatkan BUMN sebagai ujung tombak penggerak ekonomi. Bila ini bisa dilakukan, akan banyak BUMN yang tumbuh besar menyamai BUMN Negara tetangga.

Tuesday, November 17, 2015

Nasib Startup seperti UKM Informal

Sebenarnya startup bukanlah UKM, banyak dari mereka menjadi korporasi besar di dunia. Namun pada awal pendirian, banyak startup seperti UKM informal. Nasibnya bisa 11-12, apalagi iklim investasi di Indonesia yang kurang responsif. Disini investornya baru gerak saat startup sudah menghasilkan.

Padahal startup itu seringkali cukup panjang perjalanannya, bahkan bisa sampai 4-5 tahun tidak profit. Ini membuat banyak startup yang sebenarnya mumpuni bisa gulung tikar. Persoalannya memang klasik seperti UKM informal yang akan kesulitan mendapatkan dana dari perbankan.

Meskipun startup boleh dibilang sudah bankable system keuangannya, tapi biasanya sulit memenuhi kriteria mendapatkan kredit dari perbankan. Rasio pendapatan terhadap kewajiban bisa sangat tak berimbang. Ini sebabnya sulit diloloskan bila mencoba mencari dana di perbankan.

Di amerika sendiri tempat tumbuh suburnya startup, kebanyakan dana operasional dari saku founder dan cofoundernya. Mereka juga sama-sama sulit mendapatkan dana dari perbankan. Hanya memang para pendiri startup ini bisa pinjam sana-sini menggunakan jaminan atau akses ke perbankan diluar jaminan dari startupnya sendiri.

Baru saat startup berkembang dan menghasilkan, maka lembaga perbankan akan mau memberi pinjaman atau kredit. Saat kondisi keuangan masih belum positif, selamanya startup akan bergantung dari saku founder maupun cofoundernya. Maka dari itu dalam membuat startup harus pandai-pandai memilih cofounder.

Ini penting dalam proses mengembangkan startup ini kedepannya. Cari cofounder harus sesuai dengan kebutuhan startup, bukan asal-asalan. Misal lebih memilih teman daripada mereka-mereka yang dibutuhkan oleh startup. Usahakan untuk memilih cofounder yang ahli dan dibutuhkan oleh startup atau cofounder yang punya dana lebih sehingga cukup untuk bertahan selama beberapa tahun.

Beberapa startup yang menjadi korporasi besar saat ini, pada awalnya bukan tumbuh dengan cepat dan mendapatkan dana dari perbankan. Mereka mengalami nasib yang sama seperti UKM informal. Mereka mencari dana di luar lembaga keuangan dan tumbuh kembang kempis selama beberapa tahun.

Disini pentingnya menjaga “marwah” atau visi dari didirikannya startup tersebut. kemampuan untuk bertahan adalah kunci dari suksesnya startup tersebut kedepannya dan persoalan keuangan adalah masalah utama yang harus bisa dikelola dengan baik.

Friday, November 13, 2015

Bisnis Sampah yang Menggoda

Semua sudah pasti tak menyukai sampah dan harus memiliki tempat khusus tersendiri. Dari bau yang tidak sedap, tak berguna, ternyata bisa melahirkan bisnis yang bernilai sangat besar. Baik dari segi potensi, prospek maupun keuntungan besar yang akan diperoleh.

Bisnis sampah bila ditelusuri, ternyata melebihi dari yang diperkirakan. Mulai dari sampah ini dibuang, dikoleksi ke tempat sampah, diangkut ke mobil sampah sampai dibawa ke tempat penampungan sampah, semuanya menghasilkan uang. Tidak sedikit yang hidup bersentuhan dengan sampah, dan berharap limpahan uang dari berputarnya sampah ini.

Tidak hanya di kota besar, di daerah urban kawasan perumahan, bisnis sampah ini cukup menguntungkan. Ada semacam restribusi sampah yang dikenakan pada setiap keluarga untuk menjalankan sampah ini sampai ke pembuangan sampah. Disini uang restribusi ini sudah menghidupi beberapa tenaga kerja, menggerakan peralatan transportasi sampai ke tempat penggolahan sampah.

Inipun tidak berhenti, jaringan pemulung yang menyeleksi sampah yang sudah dibuang, juga melahirkan bisnis lain di putaran sampah. Memang banyak yang menjauhi sampah, tapi mendekati sampah juga bisa menjadi bisnis tersendiri. Masa depan sampah begitu cerah, soalnya akan semakin besar volumenya sedang kapasitasnya akan semakin terbatas.

Tempat penampungan, pembuangan dan pengolahan sampah harus bersaing dengan lahan yang semakin mahal. Ini membuat bisnis sampah ini semakin bernilai, sehingga lokasi yang non komersial akan dimanfaatkan untuk membesarkan tempat komersial. Akibatnya terjadi pergerakan nilai lokasi dan semua yang bersinggungan di dalamnya.

Dari masalah tempat saja, sudah memberikan peluang pada bisnis transportasi, bisnis jasa tenaga kerja dan bisnis recycle. Ini membuat bisnis sampah ini sudah harus diakui sebagai komponen penting dari bisnis yang ada. Hanya saja kondisinya bisa di-nil-kan bila persoalan sampah ini dikembalikan ke individu atau penghasil sampah.

Adanya system pengolahan sampah sendiri di rumah atau instansi bisa membuat bisnis sampah ini bisa disederhanakan. Sampah yang sudah diolah di rumah tangga atau tempat komersial akan lebih memberikan efisiensi dalam pergerakan ekonomi. Hanya memang tak ada yang mau melakukannya.

Di Negara maju sudah dilakukan efisiensi dalam pengelolaan sampah sehingga tidak terlalu membebani perkonomian atau pemerintahan. Sampah sudah diolah secara system, diseleksi dan diatur hingga lebih efisien dari system konvensional yang ada. Persoalannya adalah maukah pemerintah daerah melakukannya?

Thursday, November 5, 2015

Defisit Neraca Perdagangan dengan Cina makin Melebar telah Merusak Perekonomian Indonesia

Masuknya investasi cina ke Indonesia ternyata diikuti pula dengan barang produk Negara tersebut yang membanjiri pasar dalam negeri. Angka yang dirilis BPS beberapa waktu lalu sudah cukup “mengerikan” dan pemerintah terlihat “diam” saja atau tak peduli atau terlalu sibuk dengan persoalan lainnya. Padahal defisit neraca perdagangan dengan cina ini adalah akar dari persoalan PHK, hancurnya industri dan pelemahan rupiah.

Meski produk cina ini berkualiats rendah tapi disukai importir maupun masyarakat Indonesia, harganya yang super murah mampu mengalahkan produk Negara lainnya yang lebih berkualitas. Produk cina yang murah ini juga menghancurkan industri dalam negeri, terutama industri sejenis yang kalah segalanya dari pesaingnya di cina. Industri cina dimanja dengan tarif listrik yang murah, bunga kredit yang murah dan insentif terselubung yang membuat ongkos produksinya menjadi sangat murah.

Coba bandingkan dengan industri nasional yang harus bergulat dengan tarif listrik yang tidak murah, bunga kredit yang mencekik, aturan birokratif yang mbulet serta pajak resmi dan yang tidak resmi yang membuat ongkos produksi semakin mahal. Wajar bila para pengusahanya “bosan” menjadi industrialist atau entrepreneur, banyak yang memilih menjadi pedagang atau importir, karena lebih beruntung dengan impor barang dari cina yang murah meriah.

Semua ini tergambar jelas di neraca perdagangan dengan cina yang “jomplang” alias berat sebelah. Ekspor Indonesia ke cina nggak ada apa-apanya dengan impor kita dari cina, defisitnya sudah sangat besar sekali, jauh melebihi surplus neraca perdangangan berjalan. Andai neraca perdagangan dengan cina ini dibikin adil, maka hampir separuh persoalan bangsa bisa diatasi.

Defisit neraca perdagangan dengan cina ini telah merusak sendi perekonomian Indonesia. Membanjirnya produk cina telah merusak industri nasional, merumahkan banyak pekerja atau PHK masal, membuat angka penggangguran melonjak tajam dalam setahun ini. Pemerintah harusnya melihat hal ini secara serius.

Sebenarnya pemerintah bisa meniru cara pemerintah amerika saat mengalami defisit neraca perdagangan yang luar biasa dengan jepang. Pemerintah amerika dengan segala cara bisa memaksa pemerintah jepang untuk menyeimbangkan neraca perdagangan di antara keduanya, defisit yang luar biasa itupun pada akhirnya bergerak menipis. Memang pada akhirnya jepang terpaksa harus membeli banyak produk amerika untuk menyeimbangkan neraca perdagangan tersebut.

Amerika memang tidak main-main dengan kondisi neraca perdagangan yang berat sebelah, karena bisa merusak perekonomian amerika. Demikian pula dengan kita dalam menyikapi defisit neraca perdagangan dengan cina ini, harus disikapi secara serius, bahkan kalau perlu bisa meniru cara pemerintah amerika. Memang perlu G to G dalam menyikapi hal ini, pemerintah jangan diam saja atau membiarkan defisit ini berakibat semakin buruk pada perekonomian.

Monday, October 26, 2015

Akankah Indonesia bergabung dengan TPP?

Tak banyak yang tahu tentang TPP ini karena memang ekslusif hanya diikuti oleh 12 negara di kawasan pasifik. TPP atau Trans Pacific Partnerships ini merupakan kerjasama perdagangan Negara kawasan pasifik yang dimotori Amerika dengan menghapus beberapa hambatan perdagangan, seperti tariff, aturan perdagangan yang membatasi pertumbuhan perdagangan. Memang mendekati free trade, dengan membuka pasar seluas-luasnya atau menjadi bagian dari system ekonomi yang lebih berkembang.

Tentu saja acuannya adalah aturan perdagangan atau ekonomi Amerika yang menjadi rujukannya. Anehnya pula cina tidak termasuk di dalamnya, diduga cina akan membuat kerjasama perdagangan sendiri dengan Negara asia lainnya. Apalagi proses perundingan atau persetujuan TPP ini sangat alot dan berlarut-larut. Diduga sulitnya mencapai kesepakatan karena masing-masing Negara masih ingin melindungi pasar maupun industrinya.

Meski secara bertahap TPP ini mulai disetujui oleh 12 negara, namun masing-masing Negara masih berusaha melindungi pasar dan industrinya. Banyak yang tidak sepakat, terutama persoalan hak intelektual atau copyright yang menjadi usulan amerika. Memang amerika mendorong hak intelektual ini karena pasarnya sangat besar dan menjadi penghasilan utama Negara tersebut.

Lihat saja produk lagu, film, software yang berasal dari amerika dan menguasai pasar dunia, kebanyakan hilang penghasilannya di Negara-negara di luar amerika. Dengan adanya TPP ini setidaknya Amerika akan diuntungkan dengan pemasukan yang luar biasa. Meskipun pasarnya akan dibanjiri produk luar, tapi secara rantai ekonomi amerika sudah di atas posisi yang enak.

Sebenarnya bagi Indonesia, amerika adalah pasar yang besar dan menjanjikan. Lihat saja ekspor Indonesia terbesar adalah ke amerika, bukan ke cina. Justru Indonesia jadi bulan-bulanan produk cina dan menjadi pasar empuk industri cina. Indonesia hanya menjadi rantai bawah ekonomi cina.

Ekspor Indonesia ke cina sangat kecil sekali dari nilai impornya, dan memang berat sebelah. Indonesia hanya dijadikan pasar saja oleh cina tanpa memberi pengaruh positif bagi perkembangan ekonomi nasional. Justru berhubungan dengan ekonomi Cina, industri nasional banyak yang gulung tikar dan terjadi PHK besar-besaran.

Karakter ekonomi Indonesia memang sama dengan cina yang sama padat karya, sehingga hubungan ekonomi yang terjadi akan menghancurkan ekonomi Indonesia. Justru bila berhubungan dengan Amerika maka bisa menjadi bagian dari system ekonomi amerika yang lebih berkembang. Ini seperti partnership yang sudah dibangun amerika dengan Negara atlantik di eropa barat. Eropa barat berkembang pesat mengiringi perkembangan amerika.

Memang system ekonomi Indonesia tidak sama karakternya dengan Amerika, sehingga bisa menjadi bagian daripada menghancurkan. Saat ini saja, ekonomi Indonesia terbantu dengan ekspor yang besar ke Amerika. Bila Indonesia masuk ke TPP, maka besar kemungkinan akan lebih berkembang daripada condong ke cina.

Saturday, October 10, 2015

Dampak Fluktuasi Rupiah

Penguatan rupiah yang tajam hampir 10 persen hanya dalam hitungan hari, membuat spekulasi semakin liar. Pelaku bisnis, investor, bahkan pemerintah sendiri juga tak tahu kearah mana pergerakan rupiah nantinya. Semua seakan diluar prediksi, sehingga tudingan terarah ke spekulan, dalam hal ini investor asing yang ramai-ramai masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Gelontoran dana asing di bursa saham, telah membuat rupiah menguat sangat tajam. Dollar yang “membanjiri” pasar keuangan, membuat rupiah keluar dari tekanan dan menguat tajam. Pemerintah tentu saja sangat senang dengan kondisi ini, namun tidak semua bisa gembira dengan kondisi ini.

Bagi pelaku bisnis, mereka butuh kepastian untuk berusaha, terutama bagi yang berhubungan dengan nilai rupiah. Nilai tukar yang stabil akan lebih disukai daripada rupiah yang berfluktuasi tajam dan tak tentu arah. Fluktuasi tajam rupiah bisa memunculkan keraguan atas kondisi perekonomian.

Dampak terburuk dari fluktuasi rupiah bisa membuat kondisi ekonomi semakin tidak pasti. Ini bisa membuat segala bentuk investasi “on hold”, demikian pula dengan operasional usaha kebingungan dalam membuat rencana bisnis atau implementasi bisnis. Sebuah ketidakpastian bisa lebih buruk dari pelemahan rupiah itu sendiri.

Memang dilema pada kondisi rupiah yang tidak bisa stabil, terus berfluktuasi oleh gejolak perekonomian. Pasar sekarang masih kebingungan dan belum menemukan arah kemana rupiah ini akan bergerak dan stabil. Kondisi riil masih berbeda dengan kondisi rupiah yang ada.

Perlambatan ekonomi yang sudah dimulai dari awal tahun ini, sebenarnya belum memberikan sinyal positif pada indikator ekonomi, bahkan cenderung negatif atau stagnan. Sinyal yang ada memang menunjukan suatu kewajaran rupiah akan terus melemah. Dengan rupiah menguat tajam, tersirat adanya spekulasi yang lebih mendasari daripada prospek perbaikan ekonomi.

Pada akhirnya pasar akan menunggu sampai sejauh mana penguatan rupiah dan range posisi stabilnya. Ini memang bisa membuat bisnis “pause” untuk sementara atau “wait n see” menunggu perkembangan yang terjadi. Fluktuasi rupiah memang menyebalkan bagi pelaku bisnis, namun tidak bagi para spekulan.

Disini mereka bisa meraih untung dari fluktuasi rupiah, mereka yang bermain di pasar keuangan sangat percaya diri bisa mengelola kondisi ini. Diperkirakan mereka inilah yang berpesta pora dengan fluktuasi rupiah ini, karena memang inilah peluang besar meraih keuntungan dengan singkat. Ini membuat sebuah kemungkinan terjadinya gejolak pada rupiah akan terus berlanjut.

Saturday, September 26, 2015

Apa yang tidak bisa Dijual?

Perkembangan teknologi membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi bisa. Seperti kegiatan jual beli yang menjadi dasar dari bisnis modern. Siapapun, apapun bisa melakukan bisnis jual beli ini dan dimanapun berada.

Terima kasih pada revolusi digital yang membuat segalanya menjadi mungkin dan biasa. Tentunya tidak perlu lagi punya toko, ruko, stand pasar, lapak, etalase, hanya untuk berjualan. Ini membuat modal untuk berbisnis menjadi minimal, bahkan tanpa modal.

Kondisi ini sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh semua orang, selama dia tidak gaptek. Tentu ini akan menihilkan angka pengganguran, tak ada lagi orang yang tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan. Jual saja apa yang ada di rumah sudah menjadi sebuah mata pencaharian.

Hanya saja orang sering terhalang oleh sesuatu yang tidak diketahui dan berhenti untuk melangkah atau berbuat. Disini memang yang membedakan orang bernilai dengan yang lainnya. Mereka yang bisa menghasilkan uang adalah orang yang bernilai lebih dari yang lainnya.

Lihat saja barang-barang tak bernilai di rumah, mungkin masih bernilai di mata orang lain. Barang bekas masih menjadi idola banyak orang, selain harganya lebih murah, juga bisa menyelamatkan anggaran belanja bulanan yang sudah mencekik. Jadi bila ada barang yang tak terpakai buat apa dibiarkan, karena dimata orang lain bisa-bisa masih bernilai lebih.

Revolusi jual beli ini bukan tanpa dasar, selama ada permintaan pasti jual beli akan terjadi. Meski barang yang dijual ini terlihat tidak bernilai, bila tak ada pilihan orang bisa memberikan nilai lebih. Disini pentingnya informasi akan seputar barang yang akan dijual, termasuk harga dan manfaatnya.

Sekarang ambil ponsel anda, cari harga setiap barang yang ada di rumah, maka dengan mudah akan diperoleh harga baru maupun bekasnya. Inilah sebuah peluang, dan penolong dari tekanan hidup. Jual saja apa yang anda miliki, seandainya tak punya uang dan tak punya pekerjaan. Ini sudah bisa menghasilkan uang, bahkan anda bisa jual barang teman atau tetangga, dengan margin keuntungan sebagai broker yang bisa diambil.

Jadi sebenarnya selalu ada jalan untuk mendapatkan uang, karena apa saja bisa dijual. Jangan halangi diri anda untuk tidak bernilai dan menghasilkan uang. Sudah saatnya kreatif dan membuka jalan untuk maju dan bernilai.