Pages

Showing posts with label riil. Show all posts
Showing posts with label riil. Show all posts

Monday, December 7, 2015

Peluang Bisnis Lebah Madu yang “Menyengat”

Kebutuhan akan madu semakin meningkat, seiring kesadaran masyarakat akan pentingnya madu bagi kesehatan. Diperkirakan konsumsi madu murni maupun olahan semakin besar hingga banyak petani lebah madu ini kewalahan. Persoalannya terletak pada pakan atau tanaman yang menjadi sumber makanan lebah yang semakin menipis.

Sebenarnya bila masyarakat mau menjaga kelestarian alam maka kawasan hutan dan stok tanaman bagi lebah madu ini tidak akan kekurangan. Meskipun tidak dipungkiri kondisi iklim saat ini juga membuat tantangan tersendiri bagi peternak lebih madu. Iklim yang cenderung panas di sepanjang tahun diduga mengurangi stok pakan sekaligus populasi lebah madu.

Namun ini menjadi peluang tersendiri bagi peternak lebah madu, dimana stok yang terbatas dengan permintaan yang tinggi, telah membuat harga madu semakin mahal. Ada kenaikan harga yang signifikan dengan permintaan yang tidak terpenuhi. Kisarannya bisa lebih dari 10 persen pertahunnya.

Ini membuat bisnis lebah madu ini masih sangat menguntungkan. Dengan perkembangan pengetahuan budidaya lebah madu, maka diperoleh keanekaragaman pakan bagi beberapa spesies lebah. Ini membuat variasi baru pada jenis madu yang diproduksi oleh para peternak lebah madu ini.

Industrialisasi di budidaya lebah madu ini tampaknya juga membantu meningkatkan keuntungan para peternak lebah madu ini. Salah satunya dengan meningkatnya aneka olahan dari budidaya lebah madu. Dari madunya sendiri, olahan seperti sarang tawonnya sampai polen yang digunakan untuk pengobatan, membuat terobosan yang meningkatkan penghasilan para peternak madu ini.

Saat ini sudah banyak peternak madu yang lebih lihai melihat peluang. Mereka juga mengembangkan budidaya lebah madu dengan agro wisata atau agro madu yang menjadi tren saat ini. Disini budidaya madu tidak sekedar berternak, melainkan menjadi obyek wisata dan pengetahuan sekaligus edukasi bagi masyarakat.

Agro tawon ini semakin banyak diminati oleh masyarakat sebagai sarana hiburan di akhir pekan. Meskipun tidak dipungkiri butuh dana besar untuk mengembangkan agri tawon ini untuk lebih komersial lagi. Namun semuanya impas dengan kehadiran banyak pengunjung di agro tawon ini.

Bisnis lebah madu ini akan selalu menguntungkan karena memang bisa diperoleh banyak peluang dari budidaya lebah madu ini. Modal yang tidak terlalu besar, bisa menjadi peluang bagi para penyuka lebah madu atau peternak lebah madu. Bila berminat ada banyak agro tawon yang menawarkan pelatihan sekaligus kerjasama dalam bisnis madu ini.

Wednesday, December 2, 2015

Polemik Freeport, saatnya Pemerintah menjadi Regulator bukan Operator

Kisruh tentang perpanjangan kontrak Freeport sebenarnya hanyalah pucuk gunung es dari persoalan mendasar di perusahaan Negara. Sudah waktunya peran pemerintah sebagai regulator tidak lagi dicampur adukan dengan operator perusahaan Negara. Tumpang tindih inilah yang memunculkan kepentingan terselubung dari eksekutif maupun legislative dalam pengelolaan perusahaan Negara.

Memang dalam undang-undangnya kekayaan alam dikuasai oleh Negara, tapi hendaknya sudah harus dipisahkan peran pemerintah hanya sebagai regulator. Perusahaan Negara memang sebaiknya dibuat menjadi perusahaan terbuka, ini untuk mengontrol kepentingan dari pihak yang bermain di dalamnya. Meskipun sebenarnya ada kode etik tentang pejabat Negara dalam batas wewenangnya, namun kebanyakan mereka menyalahgunakan wewenang ini dengan dalih menjalankan undang-undang atau fungsi pengawasan.

Memang system ketatanegaraannya masih tumpang tindih, membuat persoalan selalu timbul tanpa harus dibuat. Sebenarnya dengan era perubahan dan perbaikan di segala sector, sudah waktunya pembenahan ini lebih transparan dan mengedepankan kemajuan bangsa. Bila pejabatnya masih bermain bisnis dalam kaitan dengan wewenangnya sebagai pejabat Negara, maka harusnya mereka sudah dinyatakan gugur.

Mereka yang sudah menyalahgunakan wewenangnya, harusnya mundur atas inisiatif sendiri atau tekanan lembaga tempat dia bernaung atau dengan terpaksa atas tekanan public. Namun dari semua ini tidak ada yang berfungsi, mentalitas pejabat Negara masih rendah.

Jarang ada yang mau mundur saat menyalahgunakan wewenangnya. Demikian pula lembaga yang menaungi pejabat tersebut, tidak memiliki kredibilitas sama sekali saat anggotanya menyalahgunakan wewenang. Publikpun demikian, masih antipati akan penyalahgunaan yang dilakukan oleh para pejabat Negara ini.

Disini media juga sudah terkotak-kotak dan dimiliki oleh kepentingan maing-masing. Mereka bersuara lunak atas penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh pihaknya. Harusnya media mengutamakan kemajuan bangsa, transparansi, kode etik yang harus dijunjung tinggi untuk mengawasi jalannya pemerintahan.

Kasus Freeport mengemuka tanpa penyelesaian yang jelas. Masalah yang sama bisa timbul lagi di kemudian hari tanpa perbaikan yang jelas. Bangsa ini tidak akan pernah bisa maju, bila hanya berputar-putar pada persoalan yang sama.

Saturday, November 21, 2015

Kerjasama RI-Cina Tercoreng Defisit Perdagangan yang Membengkak

Banyak pihak yang mulai meragukan kualitas hubungan RI-Cina yang semakin mesra ini akan menguntungkan Indonesia. Defisit perdagangan yang makin membengkak adalah pangkal persoalan. Ini membuat RI tekor banyak dan hanya menjadi pasar dari industri Cina.

Akibat dari membanjirnya produk cina yang murah ini, diduga telah menghantam industri nasional Indonesia. Banyak PHK terjadi akhir-akhir ini dengan penyebab dari industri kita yang kalah bersaing dengan Produk murah cina. Diduga tidak hanya produk legal yang membanjiri pasar domestik, tapi produk yang illegal jauh lebih banyak lagi.

Persaingan yang ketat di antara importir nasional hingga menghalalkan segala cara dalam mendapatkan produk cina yang lebih murah. Modusnya amat banyak dari mulai impor bahan baku setengah jadi yang sebenarnya hanya rekayasa untuk mengelabuhi larangan impor barang jadi. Semua ini sebagai reaksi dari hubungan perdagangan dengan cina yang sudah tidak terkontrol.

Banyak aturan impor yang berhasil didiktekan oleh bisnis besar hingga aliran produk cina semakin tak terbendung. Apalagi di tengah birokrasi yang rentan akan pengaruh luar, semakin membuat kebijakan impor tidak terkontrol. Defisit perdagangan dengan cina yang membengkak ini seakan dianggap angin lalu, bahkan dengan korban yang sudah berjatuhan seperti hancurnya industri nasional dan PHK masal, bukan menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan.

Impor terbesar Indonesia berasal dari Cina dan terbesar pula defisitnya, namun ironinya justru ekspor Indonesia ke cina masih kalah dengan ekspor Indonesia ke Amerika. Memang ekspor ke Amerika menjadi penyokong dalam mengurangi defisit perdagangan dengan Cina. Tidak heran bila pemerintah ingin bergabung dengan TPP, lebih menguntungkan dari sisi perdagangan dalam mengenjot ekspor.

Politik perdagangan kita memang amat lemah dalam melihat defisit perdagangan dengan cina yang semakin membengkak. Diduga beragam kerjasama bisnis yang berujung pemberian loan dengan bunga rendah, membuat pemerintah tak berkutik dalam menghadapi defisit neraca perdagangan dengan cina. Tentu saja ada rasa “pakewuh” bila harus complain masalah defisit perdagangan dengan cina.

Padahal defisit perdagangan dengan cina ini sudah bukan main-main lagi, angkanya sudah sangat mengkhawatirkan. Potensi kerugian terhadap ekonomi nasional semakin besar, semakin dibiarkan defisitnya akan semakin membengkak. Perlahan tapi pasti akan semakin banyak industri nasional yang akan gulung tikar dan jangan menyesal bila angka pengangguran akan semakin besar pula serta bisa menimbulkan dampak sosial yang mengerikan.

Monday, November 16, 2015

Neraca Perdagangan masih surplus, hanya Defisit dengan Cina masih Melebar

Surplus neraca perdagangan lebih dikarenakan nilai impor yang menurun tajam. Meski nilai ekspor juga turun, tapi tak sebesar penurunan nilai impor. Besar kemungkinan turunnya daya beli masyarakat membuat konsumsi masyarakat akan barang impor berkurang.

Apalagi dengan pelemahan rupiah beberapa waktu lalu, maka praktis membuat barang impor lebih mahal. Bagi bahan produksi mungkin masih terus jalan impornya, tapi tidak untuk produk impor yang mulai mencari substitusi yang lebih murah. Meski sangat sulit mencari produk yang lebih murah dari negeri cina.

Lihat saja bila kita amati produk-produk cina yang masuk pasar tradisional dan supermarket modern, rata-rata memiliki harga yang jauh lebih murah dari pesaingnya. Contoh sederhana seperti lampu hemat energi, mainan anak-anak, yang boleh dibilang merajai pasar di dalam negeri. Ini membuat sulit sekali untuk bisa keluar dari defisit yang sangat besar dengan cina.

Disamping itu pula melambungnya investasi cina di Indonesia, mendorong pemakaian barang-barang cina. Seperti mesin-mesin untuk industri, peralatan konstruksi, yang sebenarnya ada dan bisa diproduksi di dalam negeri, namun karena tender proyek dimenangkan oleh perusahaan cina, maka menjadi hak “prerogatif” menggunakan barang mereka.

Diperkirakan defisit neraca perdagangan dengan cina yang semakin melebar ini dikesampingkan oleh pemerintah saat ini. Pertimbangan investasi dari cina yang besar, kucuran hutang atau pinjaman dari cina, cukup membantu finansial rupiah yang kembang kempis diterjang gejolak global. Pertimbangan inilah yang membuat pemerintah adem ayem atas defisit perdagangan dengan cina yang semakin melebar.

Padahal diperkirakan defisit yang besar ini sudah menekan sendi perekonomian rupiah. Penyebabnya adalah posisi bargain Indonesia yang tidak seperti amerika saat menghadapi defisit perdagangan dengan Jepang. Amerika bisa teriak-teriak dan marah terhadap Jepang hingga pemerintah Jepang mengalah dengan impor lebih banyak dari Amerika untuk menyeimbangkan neraca perdagangan.

Ini tidak mungkin dilakukan oleh pemerintah Indonesia, Protes ataupun permintaan penyeimbangan neraca perdagangan adalah hal yang mustahil dilakukan. Kuncuran investasi dan pinjaman yang besar sudah mengikat dan membelenggu langkah yang benar dalam menyeimbangkan neraca perdagangan dengan cina. Kita sudah takluk secara ekonomi sehingga menihilkan langkah politis di masa depan. Defisit neraca perdagangan yang semakin melebar dengan cina akan menjadi bumerang di kemudian hari.

Sunday, October 18, 2015

Begitu tidak Adilnya Perdagangan Indonesia-Cina yang Berat Sebelah

Dari data Ekspor-impor yang baru saja dirilis oleh BPS menunjukan adanya ketimpangan perdagangan Indonesia-Cina dengan minus yang sangat besar. Perbedaannya sangat besar hingga nilai minusnya melebihi ekspor Indonesia ke cina. Suatu hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.

Ini mengingat pelemahan rupiah juga bisa disebabkan oleh tidak adilnya perdagangan dengan Cina. Membanjirnya impor baju bekas illegal, tekstil illegal yang dilegalkan yang membuat PHK masal di industri tekstil. Semua akar permasalahannya berasal dari perdagangan dengan Cina.

Ini seandainya, bila perdagangan dengan cina distop, maka akan tercipta surplus perdagangan yang luar biasa dan ini bisa menjadi kunci dari gejolak rupiah akhir-akhir ini. Berapa banyak devisa yang dilahap oleh cina akibat perdagangan berat sebelah ini. Selama ini tanpa disadari kita menjadi pasar yang subur bagi cina, sedang cina bukan menjadi Negara tujuan ekspor yang besar.

Justru nilai ekspor terbesar kita malah dengan Amerika, memang perdagangan dengan amerika lebih menguntungkan dari berdagang dengan Cina. Diduga dalam banyak hal kecurangan seperti dumping, insentif kredit ekspor, kemurahan tariff listrik, upah buruh, membuat produk cina sangat-sangat murah sekali dan membunuh industri di Negara tujuan ekspornya. Tak pelak ini harusnya menjadi catatan bagi pejabat di kementrian perdagangan dan harus melakukan langkah antisipasi seperti protes atau semacamnya.

Amerika pernah melakukan protes keras pada Jepang saat terjadi ketimpangan neraca perdagangan dengan Jepang. Amerika menuduh jepang melakukan dumping atau semacamnya, dan meminta jepang menyeimbangkan neraca perdagangannya dengan Amerika. Hasilnya waktu itu jepang dengan sukarela membeli produk amerika, seperti pesawat dalam jumlah besar hingga bisa menyeimbangkan perdagangannya dengan Amerika.

Ini harusnya bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menyikapi ketimpangan perdagangan dengan Cina yang sudah tidak adil dan gila-gilaan ini. Departemen perdagangan harusnya mengkaji lagi hubungan dagang dengan cina, merubah policy atau kebijakan impor dari cina. Jangan hanya diam saja, lakukan langka melindungi industri dalam negeri yang sudah hancur oleh produk impor dari Cina.

Membanjirnya produk impor cina ini sama dengan penjajahan secara ekonomi oleh cina di Indonesia. Padahal kita memiliki persoalan serius batas wilayah kepulauan Natuna dengan cina, dimana dengan sepihak cina memasukan perairan kepulauan natuna ke dalam 9 dash line di background paspor mereka. Ini sebenarnya sudah menjadi pertimbangan Indonesia dalam menjalin perdagangan dengan Cina.

Apalagi dengan persoalan PHK masal di industri tekstil akibat membanjirnya impor baju bekas dan tekstik illegal. Hendaknya pemerintah segera mengevaluasi lagi perdagangannya dengan cina. Jangan sampai neraca perdagangan dengan cina semakin timpang dan kita hanya menjadi pasar cina atau seperti salah satu provinsi dari cina.

Sunday, October 11, 2015

Rupiah Menguat kok PHK masih Terjadi

Rupiah boleh menguat, namun dampak pelemahan rupiah masih menyisahkan persoalan panjang. Diduga masih banyak pabrik atau perusahaan yang akan gulung tikar, penyebabnya bukan saja karena gejolak rupiah tapi lebih mendasar pada kondisi usaha yang sudah kembang kempis. Sebagian yang masih bertahan, masih bisa melakukan pengurangan produksi sekaligus jam kerja.

Bila kondisinya tidak berubah bisa berlanjut menjadi PHK masal. Memang kondisi perekonomian bukan sekedar nilai tukar rupiah. Jauh di awal tahun kondisinya sudah cukup lesu. Padahal waktu itu rupiah masih di angka 12 ribuan, dengan kondisi pelemahan rupiah yang semakin dalam, penguatan beberapa hari ini masih belum seberapa.

Posisi perusahaan seperti unit usaha tekstil mengalami tekanan yang sangat besar dengan mahalnya bahan baku impor. Ini belum tekanan lainnya dari maraknya impor tekstil illegal dan baju bekas. Ini membuat industri tekstil yang padat karya ini siap-siap melakukan PHK masal.

Pemerintah dalam hal ini sudah bagus, lewat badan investasi memcoba menjembatani persoalan di perusahaan tekstil tersebut. Hanya memang kasusnya sudah cukup berat, bukan lagi persoalan makro. Beban perusahaan tekstil ini sudah cukup berat, bila pemerintah mau membantu ini bisa berarti menambah BUMN baru di industri tekstil.

Sungguh ironi di saat industri tekstil ini pernah mengalami kejayaan dengan ekspornya yang merajai pasar amerika. Namun pada akhirnya dipencundangi oleh produk tekstil cina yang merajalela di pasar-pasar tradisional maupun modern. Hampir tidak ada tempat tanpa produk tekstil cina, diduga masuknya lebih besar illegal lewat pelabuhan-pelabuhan yang tidak resmi.

Memang inilah kelemahan kita memiliki banyak pintu masuk yang tidak resmi. Apalagi didukung mental pengusaha kita yang asal kaya dengan berbagai cara. Tidak mengedepankan industri nasional yang menghidupi banyak tenaga kerja.

Jadi situasinya sudah sangat komplek, industri tekstil kita ini banyak yang memang sudah terlalu berat untuk hidup. Beberapa pengusaha tekstil ini sangat tekun dan bermental baja, demi menyelamatkan ribuan tenaga kerjanya masih bertahan dari banyak tekanan yang sebagian besar adalah faktor eksternal.

Bila pemerintah membantu usaha tekstil sekarang, boleh dibilang sudah sangat terlambat. Lebih baik fokus dengan faktor eksternal yang menjadi musuh industri tekstil nasional, seperti impor baju illegal, baju bekas impor baik yang legal maupun illegal serta mahalnya bahan baku akibat melemahnya rupiah. Disini pemerintah harus bisa mengerahkan seluruh resource-nya untuk memberantas musuh industri tekstil yang padat karya ini.