Pages

Showing posts with label industri hiburan. Show all posts
Showing posts with label industri hiburan. Show all posts

Saturday, November 5, 2016

Film Jack Reacher Never Go Back Raih Box Office

Hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, film Jack Reacher Never Go Back ini telah tembus 100 juta dollar atau 1,3 trilyun rupiah. Film bertema action thriller ini berhasil menarik penonton di Amerika dan berbagai Negara, dan angka penghasilan yang dicapai akan terus bertambah karena masih belum tayang di beberapa Negara. Di Indonesia sendiri film ini sukses meraih 1,9 juta dollar atau sekitar 25 milyar rupiah hanya dalam beberapa hari.

Film ini sebenarnya film aksi tapi pada akhirnya menjadi film yang cukup menyentuh di akhir cerita. Ini tak bukan karena pengalaman berakting Tom Cruise dan debutan Danika Yarosh yang mampu mengimbangi keahlian Cruise dalam berakting. Juga alur cerita yang berdasar pada novel yang memiliki misi menarik audien.

Film ini cocok sekali diperankan Tom Cruise yang mengalami hak asuh anak bersama, yaitu Suri Cruise dengan Katie Holmes. Jadi tahu bagaimana perasaan saat rindu atau berpisah dengan anak dan membuat film ini begitu emosional.

Disini dikisahkan Jack Reacher yang merupakan mantan polisi militer atau provos ini mendapat info adanya komplain menelantarkan anak dari seorang wanita yang mengaku bernama Candice Dayton. Jack lalu berusaha menelusuri hal ini, namun keburu musuhnya berencana menyakiti putrinya tersebut, maka tak ada jalan lain berusaha menyelamatkan anak tersebut. Meskipun sebenarnya sempat ragu karena tidak pernah mengenal wanita bernama Candice Dayton.

Disini mulai terjadi ikatan antara ayah dan anak saat bersama menghadapi musuh-musuh mereka. Pada akhirnya saat semua sudah berlalu, Jack Reacher dan Samantha Dayton bertemu di sebuah restoran. Ternyata Jack tidak mengenal ibu Samantha yang menjadi waitres disitu dan berarti Samantha bukan anak Jack Reacher.

Hal yang menyentuh di saat keduanya enggan untuk berpisah di akhir cerita film ini. Oke selamat menikmati film Jack Reacher Never Go Back ini, meski action-nya kalah dengan sequel Jack Recher sebelumnya, tapi pesan moralnya sangat menyentuh.

Tuesday, August 30, 2016

Narkoba Pembunuh Karir Nomor Satu

Industri hiburan lagi-lagi diwarnai dengan kasus narkoba yang menerpa beberapa bintangnya. Memang bukan yang pertama dan bukan yang terakhir kejadiannya, tapi kasus narkoba ini telah menghancurkan banyak talenta di Indonesia. Mereka yang tenar dan berbakat hancur karir dan hidupnya oleh narkoba.

Meskipun beberapa masih bisa bangkit dari dua kali terkena kasus narkoba, seperti sang bintang yang baru-baru ini bertemu presiden kemarin, tapi tetap saja narkoba telah menghancurkan banyak segi kehidupan. Apalagi bila ini menerpa kawula muda atau anak usia sekolah, maka tidak heran mendiknas sebelumnya memasang jam sekolah lebih lama agar siswa disibukan dengan aktifitas yang positif dan jauh dari narkoba.

Peredaran narkoba memang sudah memasuki masa yang mengkhawatirkan, dengan pengguna yang mencapai jutaan orang dan omset yang melebihi anggaran pendidikan nasional. Bangsa ini seakan sudah memasuki masa kelam dimana penghuninya sudah tak mampu lagi hidup di alam nyata, lari dari tekanan hidup dan berlindung pada narkoba.

Dari kondisi ini cukup wajar hingga ada hukuman mati bagi Bandar dan pengedar narkoba kelas kakap. Namun pemidanaan kasus-kasus pengguna narkoba masih menjadi perdebatan dan Indonesia cukup sulit dalam menentukan arah. Bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa di belahan dunia lain, memang kita masih tertinggal dalam perang melawan narkoba.

Hal ini ditenggarai karena system dan instrument Negara yang masih buruk serta didukung mentalitas sosial yang terbelakang. Memang masih bisa dikatakan terbelakang, dengan mayoritas pendidikan masyarakat yang hanya pendidikan dasar, masih sangat lemah dalam menentukan arah negeri ini.

Tidak heran ulasan ekonomi dari badan kredibel dunia selama beberapa tahun ini masih menempatkan Indonesia dengan masalah leadership dan infrastruktur. Human resourse dan fasilitasnya masih terbelakang. Demokrasi masih belum menempatkan orang yang benar-benar berkualitas dan memiliki leadership dalam memimpin negeri ini. Mereka yang berkualitas banyak yang dibuang atau enggan hidup di negeri yang politiknya masih tidak sehat.

Kembali pada kasus narkoba yang membuat negeri ini masih terbelakang, karena memang mentalitas tempe yang masih dimiliki system di negeri ini. Kasus fredy budiman misalnya hanya puncak gunung es kecil yang muncul ke permukaan. Kalau sistemnya tidak bersih, gimana mau lepas dari kasus narkoba.

Negeri ini masih akan tetap terbelakang dan tak mampu mengejar dari ketertinggalan, bahkan banyak Negara yang dulunya dibawah kita malah sudah semakin maju. Vietnam misalnya dalam beberapa tahun ini menjadi the asian tiger mampu mengalahkan Indonesia yang sudah berkembang duluan. Bila negeri ini masih mempercayakan orang-orang yang tidak berkualitas dalam system negeri ini, maka Indonesia tidak akan pernah menang dari narkoba dan berpotensi menjadi surga narkoba di asia.

Tuesday, October 27, 2015

Masuk TPP, Download Ilegal bisa jadi Perkara Besar

Bagi yang “hobi” download lagu, film, software, game secara illegal pasti akan pusing bila Indonesia masuk TPP. Bukan itu saja bisa jadi perkara besar bila benar-benar Indonesia mau menanda-tangani perjanjian TPP atau Trans Pacific Partnership yang sudah diikuti oleh 12 negara ini. Soalnya “law enforcement” akan benar-benar dilakukan.

Sebenarnya illegal download memang dilarang, namun penegakan hukumnya masih abu-abu. Siapa yang mau mengurusi perkara warga asing bila tidak ada aduan dan bukti yang jelas. Nah bila menanda tangani TPP maka Indonesia harus menaati hak intelektual atau copyright, sekaligus penegakan hukumnya.

Sebenarnya soal bukti illegal download bagi amerika sangat mudah. Bisa ditelusuri dari IP yang digunakan saat download dan bisa diproses secara hukum. Namun banyak pengguna internet di Negara kita yang masih pakai IP dinamis, ini konsekwensinya akan dilakukan perubahan bila mengikuti TPP.

Demikian pula dengan hukum atau aturan tentang hak intelektual yang mendasari akan segera berubah mengikuti aturan di TPP, ini bila benar-benar masuk bergabung ke TPP. Memang Indonesia harus menghitung untung ruginya bila benar-benar ingin ikut serta di TPP, karena persoalannya tidaklah sederhana. Banyak untung-ruginya hingga wajar bila pemerintahan sebelumnya belum berani ikut TPP.

Indonesia adalah salah satu hotspot illegal downloading di dunia. Banyak IP dari Negara Indonesia yang masih aktif melakukan download illegal. Dengan menandatangani TPP maka royalty atas hak intelektual atau hak cipta akan harus dipenuhi. Bisa jadi akan mengalir banyak dollar keluar negeri.

Bisa jadi “nggak sumbut” atau tidak beruntung dengan ikut TPP. Lha wong orang kita sangat konsumtif dalam masalah hak cipta. Kita lebih suka menikmati karya luar negeri daripada karya sendiri.

Coba survey, siapa yang tak suka film barat, lagu barat, game luar, program atau software dari luar. Bisa diperoleh mayoritas menyukai karya luar negeri, ini konsekwensinya akan membuat transaksi perdagangan seperti dengan amerika bisa berat sebelah bila hak intelektual diberlakukan. Makanya banyak Negara yang keberatan dengan permintaan amerika ini tentang hak intelektual, konsekwensinya sangat “menyesakkan”.