Pages

Showing posts with label rupiah. Show all posts
Showing posts with label rupiah. Show all posts

Thursday, December 10, 2015

Depresiasi Yuan kembali Menekan Rupiah

Buruknya kinerja perdagangan Cina direspon kembali dengan melakukan depresiasi yuan. Memang merosotnya kinerja ekspor-impor Negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini sudah diduga sebelumnya. Namun imbas dari depresiasi yuan kembali menekan mata uang di kawasan asia, tak terkecuali rupiah yang sudah tertatih-tatih oleh indikator ekonomi akhir tahun yang tidak menggembirakan.

Rupiah terus merosot selama beberapa minggu ini, dengan tembusnya level psikologis maka akan lebih rawan terus menuju ke level terburuknya. Apalagi dengan cadangan devisa BI yang terus tergerus, maka potensi pelemahan lebih dalam semakin besar. Tidak ada indicator ekonomi yang bisa membantu, meskipun di akhir tahun window dressing akan sedikit mengurangi tekanan ini.

Diperkirakan tekanan bertubi-tubi akan terus menghantui rupiah, seperti pembayaran utang jatuh tempo baik dari pihak pemerintah maupun swasta. Juga tingginya permintaan dollar untuk liburan, akan membuat rupiah semakin tertekan. Memang lebih baik menyimpan dollar jauh hari, sebelum rupiah jatuh semakin dalam dan akan semakin mahal membeli dollar.

Kondisi ini nampaknya dipersiapkan banyak kalangan yang biasanya punya hajat besar di akhir tahun. Dari pengalaman tahun lalu, cenderung rupiah akan mengalami tekanan berat di akhir tahun, dengan permintaan dollar atau valuta asing yang sangat tinggi. Hanya memang kondisi ekonomi cina yang melemah, membuat tekanan pada rupiah semakin besar.

Diperkirakan bila tahun lalu tekanannya tak begitu berat, dengan banyaknya sentimen negative ini, maka rupiah bisa lebih melemah jauh lebih dalam lagi. Meskipun BI tidak akan tinggal diam, namun kondisi cadangan devisa yang menipis bisa menimbulkan dampak psikologis pasar yang lebih berat. Para spekulan bisa tersenyum lebar, bila cadangan devisa merosot di bawah level psikologisnya.

Para spekulan ini bisa berpesta pora membombardir rupiah dengan tekanan yang semakin berat. Disini nampak pemerintah bakal kewalahan dan kemungkinan besar tak bisa berbuat banyak. Rupiah ada kemungkinan besar kembali ke level terburuknya.

Dengan posisi sekarang yang masih cukup murah, memang masih menjadi kesempatan emas bagi yang membutuhkan valas atau dollar. Setelah melewati pertengahan bulan, maka tekanannya akan semakin berat dan valas sudah sangat mahal sekali.

Wednesday, November 18, 2015

Sentimen Negatif Bermunculan, Rupiah Kembali Melemah

Setelah menikmati masa stabil beberapa minggu, akhirnya rupiah kembali melemah. Kali ini dengan tekanan yang semakin berat. Sebelumnya isu suku bunga amerika menjadi sandungannya, tapi saat ini bertambah dengan isu terror yang semakin mengemuka.

Seperti kasus-kasus terror sebelumnya, dollar akan semakin perkasa. Demikian pula saat ini posisi dollar menguat hampir terhadap semua mata uang dunia. Amunisi dollar cukup banyak, dari rencana kenaikan suku bunga, sebagai mata uang safe haven saat situasi keamanan beresiko tinggi hingga kondisi perekonomian amerika yang membaik.

Memang nasib rupiah masih kurang beruntung, masa tenang dengan posisi rupiah yang stabil ini sudah berlalu. Rupiah kembali dalam spotlight, menjadi sorotan dengan kemungkinan terburuk menembus level terendah sebelumnya. Ini dimungkinkan dengan minimnya sentiment positif.

Pemerintah dengan dana yang besar, masih kurang responsif menyikapi kondisi ekonomi yang berkembang. Masih terlalu pede dan fokus dengan proyek infrastrukturnya, padahal kalau bisa bijak membelanjakan anggaran pada sektor ekonomi produktif, maka nasib rupiah bisa lebih baik. Pemerintah masih percaya model ekonomi “warung kopi” akan mampu mengundang investor dan menguatkan rupiah.

Pemerintah masih percaya dengan proyek infrastruktur akan mampu mengundang investor dan memperkuat rupiah. Namun kenyataannya rupiah kembali dalam tekanan berat dan balik ke level terendahnya. Kondisi ini akan jauh berbeda, bila pemerintah bisa memanfaatkan waktu yang sempit dan anggaran yang besar dengan menggerakan ekonomi produktif hingga bisa memperkuat rupiah.

Boleh dibilang pemerintah salah strategi dalam menghadapi masa depan rupiah yang semakin suram. Banyak Negara bisa dengan cepat konsolidasi saat tekanan terhadap mata uangnya mereda. Namun ini tidak dilakukan oleh pemerintah dan masih keukeuh dengan proyek infrastrukturnya.

Memang proyek infrastruktur sangat penting untuk memperbaiki perekonomian, tapi masih kalah urgensinya dengan membangun ekonomi produktif. Dalam beberapa minggu ke depan, konsentrasi pemerintah akan kembali terseret oleh pergerakan rupiah. Suatu persoalan yang sering terjadi dan pemerintah tak mampu untuk mengelolanya dengan baik, karena memang tidak memiliki strategi yang jitu dalam menghadang pelemahan rupiah lebih lanjut.

Monday, November 16, 2015

Teror Meluas, Rupiah Tertekan

Seperti yang sudah-sudah, saat teror mengganas di Indonesia, rupiah berada dalam masa suram. Ini cukup wajar, dengan tingkat keamanan yang meningkat maka resiko investasi semakin tinggi. Apalagi Indonesia memiliki riwayat kelam menjadi medan tempur para teroris, maka teror di paris membuat mata uang garuda akan kembali mengalami tekanan berat.

Beberapa investor asing sudah mendapatkan peringatan dari pemerintah masing-masing akan resiko keamanan yang semakin tinggi. Ini berarti sudah waktunya memperhatikan tempat-tempat yang rawan jangkauan teroris. Meskipun saat ini sudah tak ada tempat lagi yang aman, tapi setidaknya sudah ada guideline untuk mulai meninggalkan tempat-tempat dengan resiko keamanan yang tinggi.

Rupiah yang selama ini rentan oleh gejolak eksternal, juga tak bisa menghindari dampak dari teror di paris, prancis ini. Sejak peristiwa pengeboman pesawat rusia dan penembakan di paris, rupiah lambat laun melemah cukup tajam. Dalam beberapa hari cenderung turun dengan cepat dan tak ada respon untuk balik.

Ini menandakan akan terjadi hal besar pada rupiah, meski indikator makro masih menunjukan tren positif. Boleh dibilang akan ada adu kuat antara sentiment positif dan negative dengan kemungkinan besar rupiah akan masih melemah. Selama ini rupiah amat bergantung pada investor asing, lihat saja dominasi mereka di pasar keuangan.

Tentu saja ini membuat posisi rupiah maupun ekonomi Indonesia dalam masa kritis. Harga sebuah kenyamanan dan keamanan memang sangat mahal, namun efek dan dampaknya juga bisa lebih mahal lagi. Begitu besar kerugian yang diderita Indonesia saat menjadi medan tempur para teroris, maka dari itu pemerintah harus siaga satu saat terror di paris terjadi.

Meskipun jauh sekali antara Indonesia dan paris, tapi kita memiliki sejarah yang sama dengan Prancis dalam menghadapi terror. Perancis di kenal sebagai Negara multiras dan menerima pendatang dengan terbuka. Meskipun gerakan garis keras ultranasionalis mulai berkembang, tapi perancis masih terbilang moderat dan ramah dengan pendatang.

Demikian pula dengan Indonesia yang multiras ini yang dengan mudahnya memanas bila dipicu oleh isu yang sensitif, maka inilah yang menjadi concern investor maupun pemerintah asing dalam memandang Indonesia sebagai Negara yang tingkat keamanannya masih diawasi. Tentu saja ini membuat aspek ekonomi mengikuti policy yang menjadi dasar dalam menghadapi Indonesia.

Rupiah tertekan akhir-akhir ini sudah bisa diprediksi dan akan terus terjadi sampai isu keamanan bisa dikontrol dengan baik. Disini pemerintah harus terus siaga dan waspada, agar terror tidak kembali ke Indonesia. Apalagi dengan kondisi ekonomi yang masih sulit, kebobolan sedikit saja bisa memicu eksodus investor asing keluar Indonesia.

Monday, November 9, 2015

Awas Cadangan Devisa Menipis, Rupiah Bakal Bergejolak

Ditengah penguatan rupiah yang signifikan, ada kabar mengkhawatirkan dari posisi cadangan devisa yang semakin menipis. Padahal ke depan harus berhadapan dengan kenaikan suku bunga amerika. Besar kemungkinan para spekulan akan semakin berpesta pora menguasai pasar rupiah.

BI tentu saja akan semakin berhati-hati untuk intervensi di pasar keuangan, dengan kondisi cadangan devisa yang mendekati level psikologis. Nampaknya sia-sia kerja keras tim ekonomi sebelumnya yang bisa mencetak cadangan devisa jauh diatas level psikologis. Sekarang harus kembali terpuruk dan berada dalam kondisi kritis.

Memang benar-benar kritis, posisi keuangan yang ada saat ini. Apalagi dengan defisit anggaran berjalan yang semakin melebar, bisa dipastikan beban utang semakin bertambah dan tanggung jawab BI dalam menjaga serta menyediakan dollar semakin besar. Tidak heran bila posisi rupiah sangat fluktuatif akhir-akhir ini.

Seberapa keras BI menjaga agar rupiah bisa stabil akan semakin memakan posisi cadangan devisa yang aman. Meski berkali-kali BI bilang situasi terkendali, dengan siapapun tahu cadangan devisa yang menipis, besar kemungkinan melahirkan peluang baru di mata para spekulan. Ini terlihat dalam beberapa hari ini investor asing pada mulai bergerak mengalihkan modalnya keluar.

Besar kemungkinan persiapan kenaikan suku bunga amerika yang terlihat akan menjadi kenyataan. Hanya keajaiban yang mungkin bisa menunda kenaikan suku bunga amerika ini. Soalnya kondisinya sudah benar-benar memenuhi, disamping gambaran yang diberikan oleh the fed sudah diamini oleh banyak pihak.

Sekali lagi betapa rentannya posisi rupiah untuk saat ini. Kondisi fiskal benar-benar sangat mengkhawatirkan, terlihat bagaimana dangkalnya program ekonomi pemerintah saat ini. Hanya memikirkan membangun dan membangun tanpa pernah melihat kondisi fiskal yang terancam.

Mungkin disini yang dipandang oleh pemerintah adalah masih mampu melakukan kewajibannya, seperti membayar hutang, memenuhi target defisit anggaran yang disyaratkan oleh undang-undang, tapi pada kaidahnya sudah menempatkan rupiah dan keuangan Negara di ujung tanduk. Dengan posisi rupiah yang meleset jauh dari yang dipatok di anggaran belanja, maka bakal merubah kondisi keuangan Negara secara keseluruhan.

Disini mulai terlihat bahwa program pembangunan ekonomi pemerintah tidak produktif. Apa yang sudah dikeluarkan ribuan trilyun dari anggaran tidak mampu menghasilkan perbaikan ekonomi. Justru kondisi ekonomi semakin sulit dan kritis.

Thursday, October 22, 2015

Rupiah Fluktuatif, Arah Ekonomi masih belum Pasti

Setelah menguat tajam beberapa minggu lalu, rupiah nampak sudah tertahan di level terbaiknya. Namun level tersebut masih cukup susah untuk dipertahankan. Rupiah cenderung fluktuatif dengan kisaran yang lebar.

Pasar nampaknya belum menemukan arah perbaikan atas kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Investor cenderung main aman, dengan membeli portofolio yang berpendapatan tetap. Investor asing di bursa juga nampak menahan diri, dengan volume perdagangan yang semakin menurun.

Padahal pemerintah sudah mengeluarkan semua kerja kerasnya lewat paket kebijakan ekonomi yang sudah berjilid dan berseri. Ini belum menyakinkan investor secara keseluruhan. Investor asing yang masuk beberapa waktu yang lalu hanya memanfaatkan harga saham yang sudah sangat murah.

Selebihnya mereka menyimpan dan sudah beberapa yang ambil profit taking atau keluar saat dollar sudah melemah. Ini membuat penguatan rupiah tertahan dan terjadi tarik ulur dengan rentang fluktuasi yang melebar. Namun dari grafik yang terlihat adanya potensi pelemahan rupiah kembali.

Memang tidak ada berita yang menarik, setelah data ekonomi cina yang buruk, diikuti isyarat dari bank dunia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa dibawah ekspektasi. Lebih rendah dari yang diyakini oleh pemerintah. Ini disikapi oleh pasar dengan menunggu berita lain yang lebih menyakinkan.

Memang window dressing sebentar lagi, namun masih banyak data-data ekonomi yang bisa menekan pergerakan rupiah. Terutama melebarnya target penerimaan pajak hingga timbul kekawatiran akan defisit anggaran yang semakin melebar. Ini memberi tekanan tersendiri bagi rupiah, disamping memang indikator ekonomi lainnya masih sangat minim.

Kemungkinan rupiah melemah akan semakin iminen, lihat saja cadangan devisa yang menipis, anjloknya impor cina, banjirnya stok minyak Amerika. Semua ini memberi sinyal yang buruk bagi rupiah. Ditambah lagi mendekati akhir tahun, waktunya juga menyelesaikan hutang-hutang yang jatuh tempo.

Kebutuhan akan dollar akan semakin tinggi, diperkirakan ini akan menekan rupiah lebih dalam lagi. Kemungkinan tembus ke level terburuknya tidak bisa dikesampingkan. Bisa jadi jauh sebelum akhir tahun rupiah sudah balik lagi ke level terburuknya.

Tuesday, October 13, 2015

Cina Lesu, Rupiah kembali Tersungkur

Melambatnya ekonomi cina, lebih cepat dari yang diperkirakan. Dari data ekspor-impor terbaru, sudah diketahui seberapa cepat perlambatannya. Ini mengirim sinyal buruk ke seluruh belahan dunia, termasuk rupiah yang kembali melemah di perdagangan kemarin.

Diperkirakan kondisi ekonomi cina yang pelan tapi pasti akan menuju ke stagnan, maka akan menyeret Negara yang berhubungan dengan cina. Tak terkecuali Indonesia yang menjadi bagian dari gerbong lokomotif perekonomian cina. Nampaknya akan terkena imbasnya dengan segera, baik di sektor rill maupun di pasar keuangan.

Bila mengacu pada data impor cina yang anjlok sangat dalam pada bulan kemarin, nampaknya sudah memberi alarm bagi ekonomi Indonesia. Rupiah diperkirakan akan mendapatkan tekanan yang lebih besar. Investor akan lebih memilih dollar ketimbang rupiah.

Meskipun data ekonomi amerika juga tak lebih baik dari cina, namun dollar masih menjadi safe haven. Apalagi dengan ekspektasi tidak ada lagi uang murah, ada kemungkinan eksodus aliran modal dari emerging market. Tak terkecuali Indonesia yang akan mengalami dampak terburuk dari gejolak ekonomi dunia.

Rupiah akan kembali bergejolak dan rentan oleh pengaruh eksternal. Ini karena memang system perekonomian kita yang konsumtif dan enggan untuk bertransformasi ke ekonomi produktif. Kita terbelenggu oleh sumber daya alam yang melimpah, hingga rasanya lebih enak main kartu, ngopi di warung sambil menunggu rejeki lewat.

Sudah waktunya untuk pemerintah bekerja lebih keras dalam membentuk perekonomian lebih produktif. Di saat harga komoditas sudah tidak ada harganya ( karena memang sering lebih mahal biaya eksplorasinya dari hasil yang didapatkan), maka sudah waktunya beralih ke industri-industri produktif. Industri yang kalau bisa berorientasi ekspor, sehingga tidak selalu dipusingkan oleh gejolak rupiah.

Meski rupiah akan terus bergejolak, tapi setidaknya dengan kuatnya kinerja ekspor maka ketahanan fiskal akan menjadi lebih baik. Tentunya ini akan menjadi modal baik bagi rupiah dalam menghadang faktor eksternal. Harusnya memang tidak ada lagi komentar akibat faktor eksternal ekonomi kita memburuk.

Harusnya kita memiliki daya tahan ekonomi yang kuat dengan menjadi Negara industri yang produktif dan berorientasi ekspor. Memang tidak mudah, namun dengan anggaran yang kita miliki dan kerja keras kita semua, apapun bisa diwujudkan.

Saturday, October 10, 2015

Rupiah Menguat, Ekonomi Menguat?

Penguatan rupiah memang belum berarti fundamental ekonomi Indonesia yang menguat. Bila dilihat penguatan rupiah yang tajam, cukup beralasan adanya faktor spekulatif yang sangat besar. Diduga masuknya investor asing di bursa secara besar-besaran mendorong penguatan rupiah secara tajam. Selebihnya fundamental ekonomi masih sama seperti sebelumnya.

Mungkin saja sih penguatan rupiah ini bisa membuat para pejabat ekonomi bisa tersenyum lebar, setelah sekian lama menjadi bulan-bulanan pelemahan rupiah. Boleh jadi setiap pertanyaan tentang rupiah adalah pertanyaan yang menyebalkan bagi pejabat ekonomi, namun kini tidak lagi karena situasinya berbalik arah. Benarkah rupiah menguat berarti ekonomi menguat?

Jawabannya secara politis mungkin iya, namun secara ekonomi belum tentu iya. Penguatan rupiah hanya mekanisme saja saat permintaan terhadap rupiah menjadi begitu tinggi. Namun bila dikaji latar belakang penguatan rupiah kemarin, sebenarnya rupiah sudah sangat murah, apalagi dengan harga saham yang juga sangat murah, maka tindakan investor asing yang masuk menukar dollar ke rupiah untuk membeli saham, adalah langkah bisnis semata.

Memang penguatan rupiah akibat ulah investor asing yang memanfaatkan pelemahan rupiah dan murahnya harga saham. Bukan suatu yang fundamental, apalagi tidak ada sentiment positif dari indikator ekonomi Indonesia. Inflasi masih tinggi, pertumbuhan ekonomi yang dikoreksi beberapa kali, kinerja perdagangan yang tidak menggembirakan.

Semua hal yang fundamental masih tidak menggembirakan, maka wajar penguatan rupiah spekulatif dan bukan fundamental. Justru penguatan rupiah dikatakan bagus bila kinerja perdagangan dalam hal ini ekspor sangat tinggi, seperti terjadi pada tahun 2008-2011. Bisa dilihat di grafik dan tabel ekspor-impor, maka akan terlihat penguatan rupiah yang fundamental dan yang spekulatif.

Selebihnya ekonomi Indonesia saat ini memang masih mengekor kondisi sebelumnya. Kinerja perdagangannya semakin memburuk, sehingga wajar pelemahan rupiah terjadi secara konstan. Hanya memang kondisinya berbalik arah, saat ada peluang ambil untung atau profit taking oleh investor asing.

Saat nilai tukar rupiah sudah sangat murah dan harga saham juga sudah sangat murah. Ini kesempatan untuk masuk dan saat semuanya naik, mereka bisa kabur lagi dengan membawa keuntungan spekulatif tadi. Sorry bos our economy being used by spekulan.

Friday, October 9, 2015

Rupiah Menguat Tajam, Investor Asing Pesta Pora

Dalam waktu beberapa hari rupiah menguat lebih dari 1400 poin atau lebih dari 10 persen. Penguatan rupiah yang tajam ini menghapus lelah para pejabat ekonomi yang telah bekerja keras, lembur sampai pagi akibat memikirkan nasib rupiah. Mata merah dan kurang tidur terlihat dari para pejabat ekonomi jelang menyiapkan paket ekonomi untuk menghadang pelemahan rupiah. Ternyata kerja mereka ditelikung oleh para investor asing dengan masuk ke pasar keuangan secara besar-besaran.

Hasilnya dollar yang masuk besar-besaran ini memutar balik keadaan di pasar valuta asing. Rupiah yang biasanya terseok-seok dihantam keperkasaan dollar, akhirnya bisa unjuk gigi menguat 10 persen hanya dalam hitungan hari. Jauh lebih perkasa dari kerja dollar yang butuh berbulan-bulan untuk naik 10 persen terhadap rupiah.

Penguatan rupiah yang sangat tajam ini tak lebih dari kerja investor asing yang memanfaatkan kondisi rupiah yang sudah jatuh dan harga saham yang sangat murah ini. Tentu saja para investor asing ini meraih untung ganda dengan masuk ke pasar keuangan Indonesia. Mereka mendapatkan nilai tukar yang lebih baik dan harga saham yang lebih murah.

Lihat saja hitung-hitungannya, misal investor asing ini membawa masuk uang 1 juta dollar. Dengan nilai tukar rupiah waktu itu 14700, maka uang 1 juta dollar ini mendapatkan 14,7 milyar rupiah. Lalu dibelikan saham yang harganya sudah turun 20 persen dalam setahun ini, maka dengan IHSG yang sudah melonjak 5 persen dalam beberapa hari ini, maka nilai saham yang mereka tanam sudah naik nilainya sekitar 735 juta rupiah. Jadi total nilai sahamnya jadi 15,4 milyar rupiah.

Bila sahamnya dijual lagi ke dalam bentuk dollar, dengan nilai 1 dollar yang sekarang menjadi 13300 atau lebih rendah lagi, maka mereka  mendapatkan 1,16 juta dollar atau lebih besar lagi. Tentunya mereka sudah untung 16 persen hanya dalam waktu beberapa hari saja. Keuntungannya akan semakin meningkat bila rupiah terus menguat dan nilai sahamnya terus meningkat.

Andai investor asing ini keluar saat ini juga, mereka sudah untung minimal 16 persen tadi. Suatu keuntungan yang besar hanya dalam beberapa hari, maka tidak heran investor asing ini masuk secara besar-besaran memburu saham-saham unggulan yang sudah sangat murah dan pastinya akan naik dengan cepat. Inilah nasib ekonomi kita yang dengan mudahnya dipengaruhi faktor eksternal dan dengan mudahnya dimanfaatkan oleh investor asing, lalu siapakah sebenarnya yang senyumnya paling lebar saat rupiah menguat?

Wednesday, October 7, 2015

Menghitung Batas Spekulatif Trend Penguatan Rupiah

Penguatan rupiah pada beberapa hari ini tak lepas dari masuknya investor asing di pasar keuangan, disamping peran BI lewat “operasi senyap”. Ini menandakan penguatan rupiah sebatas aksi spekulatif, bukannya akibat dari faktor fundamental dari ekonomi. Bila dilihat di grafik penguatan rupiah menunjukan fluktuasi yang sangat tinggi.

Terjadi lompatan yang tinggi atas permintaan rupiah yang melonjak tajam. Padahal tidak ada data resmi yang positif dari pemerintah yang bisa mendorong penguatan rupiah. Pasar keuangan lebih bergerak pada aksi spekulatif para pemainnya.

Diperkirakan pula volume perdagangan rupiah tidak terlalu besar, sehingga dengan mudahnya dipengaruhi oleh masuknya investor asing. Selama ini permintaan rupiah hanya sekadar masuknya investor asing, pinjaman dalam bentuk dollar dan kinerja ekspor yang tidak seberapa. Lain ceritanya bila Indonesia memiliki kinerja ekspor yang mumpuni seperti beberapa tahun yang lalu, maka tren penguatan rupiah bisa disebut fundamental atau tidak spekulatif.

Memang dalam periode ini kita tidak memiliki kinerja perdagangan yang bagus, sehingga masuknya dollar amat terbatas dan cenderung dari luar. Ini membuat potensi fluktuasi menjadi sangat tinggi, dan menjadi “barang dagangan” atau “taruhan” yang sangat menarik. Kemungkinan untuk melemah dan menguat sangat tinggi, sehingga resikonya sangat tinggi pula.

Mungkin kasusnya akan lain bila Indonesia bisa memperbaiki kinerja ekspornya maka tren pelemahan rupiah sejak 2011 bisa “dipatahkan”. Namun sayangnya pejabat ekonomi lebih memilih ekonomi konsumtif daripada ekonomi yang berorientasi ekspor, maka wajar tren pelemahan rupiah akan terus terjadi. Bisa saja ada penguatan rupiah, namun sifatnya akan terbatas.

Penguatan rupiah yang terjadi saat ini tak lebih dari kembalinya investor asing ke bursa,. Ini adalah reaksi balik dari akselerasi pelemahan rupiah, saat mereka secara teratur meninggalkan bursa beberapa bulan yang lalu. Lihat saja di grafik pelemahan rupiah yang mengalami akselerasi pelemahan yang begitu tinggi.

Kurvanya amat menyakinkan bahwa gejolak atau fluktuasi rupiah adalah ulah investor asing ini. Mereka bisa semaunya pergi dan datang dan membuat rupiah menjadi bulan-bulanan. Gejolak rupiah adalah bisnis bagi mereka, sedang bagi ekonomi Indonesia hanya menyebabkan gejolak perekonomian yang menyita waktu pejabat ekonomi hingga tak fokus dalam membangun perekonomian.

Monday, October 5, 2015

Rupiah Menguat Tajam

Diperkirakan rupiah “meng-KO” dollar hampir 2 persen pada perdagangan kemarin. Ditengah sentiment positif penundaan kenaikan suku bunga amerika. Ini akibat dari membaiknya data tenaga kerja di amerika yang membuat dollar “berhamburan” menyerbu emerging market.

Dari dalam negeri isu koreksi harga BBM diperkirakan akan mendorong rupiah menguat lebih jauh. Hal ini karena banyak opini yang melihat harga BBM saat ini sudah tidak ekonomis lagi, ditengah turunnya harga minyak mentah dunia. Namun simpang siur penurunan harga BBM ini masih tarik ulur dengan posisi rupiah yang masih fluktuatif.

Memang semua komponen ekonomi bagai asap yang tidak bisa dipegang keberadaan maupun posisinya. Ini membuat rupiah akan terus menjadi komoditas spekulatif di pasar mata uang. Lebih banyak rupiah tertekan daripada menguat dalam beberapa bulan ini.

Hal ini membuat posisi rupiah sudah mengalami depresiasi lebih dari 20 persen dalam setahun ini. Memang penguatan 2 persen masih belum apa-apa, masih sangat jauh dari posisi terbaiknya pada setahun yang lalu. Namun setidaknya memunculkan harapan akan sinyal positif membaiknya posisi rupiah.

Bila dilihat lebih jauh, ada beberapa sentiment positif yang akan mendorong rupiah menguat. Salah satunya adalah belanja anggaran tersisa yang masih sangat besar, hampir 40 persen sisa anggaran yang masih belum dibelanjakan disisa kurun waktu yang hanya kurang dari 3 bulan. Ini membuat window dressing bisa berangkat lebih awal dari yang diperkirakan.

Dari berbagai kementrian nampaknya juga terjadi “rush” dalam menghabiskan anggaran yang tersisa. Ini membuat sektor riil mulai bergerak lebih cepat dan membuat investor asing mulai masuk ke bursa kemarin. Volume aksi beli yang dilakukan investor asing kemarin cukup besar, hingga mendongkrak bursa tertinggi di kawasan asia pasifik.

Tentunya permintaan rupiah yang tinggi ini membuat lonjakan penguatan tajam rupiah kemarin. Berikutnya bisa jadi akan berubah menjadi aksi profit taking, ini mengingat kebiasaan setelah ramainya aksi beli investor asing akan diikuti dengan aksi ambil untung keesokan harinya.

Penguatan rupiah mungkin akan tertahan, atau bahkan masih harus bergulat di angka yang lebih rendah lagi. Ini mengingat kondisi perekonomian masih belum bagus amat. Pemerintah masih berjuang menggerakan sektor riil yang menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi, ditengah isu PHK masal yang masih terjadi.

Thursday, October 1, 2015

Mungkinkah ini Akhir dari Pelemahan Rupiah?

Dalam beberapa hari indeks bursa saham dan rupiah sama-sama kompak menghijau. Ini merespon kebijakan September 2 yang dinilai oleh pemerintah berhasil mengerem pelemahan rupiah dan pelarian investor asing di bursa. Namun benarkah ini semua sudah berakhir?

Meski pemerintah optimis, dunia usaha dan investor nampaknya masih ragu. Ini terlihat dari tekanan pada rupiah yang masih tinggi. Ada semacam keanehan di pasar keuangan maupun beberapa sektor riil akan adanya pergerakan positif yang merupakan dorongan dari stimulus yang dilakukan oleh pemerintah.

Boleh dibilang situasinya masih belum jelas atau abu-abu. Rupiah boleh saja sedikit bernafas lega untuk sementara waktu oleh gelontoran stimulus, namun perlu diketahui masih belum ada perubahan secara fundamental pada perekonomian. Kebijakan yang dikeluarkan masih sebatas insentif atau kemudahan, tidak menyentuh hal-hal fundamental yang menjadi penyebab pelemahan rupiah.

Tidak ada perubahan dalam anggaran belanja yang bisa mendorong ekonomi produktif. Pemerintah masih keukeuh dengan proyek infrastruktur yang telah dijalankan akan bisa menggerakan perekonomian, menarik investor masuk dan menguatkan rupiah. Suatu pertaruhan yang sudah bisa diketahui hasilnya.

Soalnya ini sudah dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya, dan ini tidak bisa menahan pelemahan rupiah yang konstan ini. Persoalan pelemahan rupiah sudah mendasar, sudah menyangkut fundamental perekonomian yang konsumtif yang tak bisa menguatkan rupiah. Apalagi di tengah perlambatan ekonomi global, kebijakan lips servis pemerintah ini sudah dilakukan oleh pemerintah cina dan tidak memberi hasil, bahkan dalam pertemuan terakhir tampak gubernur bank sentral cina putus asa akan langkah yang harus dilakukan untuk menahan perlambatan ekonomi ini.

Semua ini harusnya sudah menjadi pertimbangan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan ekonomi yang serius. Pertaruhannya adalah 250 juta penduduk Indonesia yang pelan-pelan menjadi lebih miskin akibat pelemahan rupiah. Bila melihat pada grafik pelemahan rupiah, harusnya pemerintah bisa menyimpulkan adanya pola yang konstan pada pelemahan rupiah akibat kebijakan ekonomi konsumtif.

Ini harusnya disikapi dengan perubahan mendasar pada system perekonomian menjadi lebih produktif, lebih berorientasi ekspor. Harusnya anggaran sudah digunakan sepenuhnya mengenjot sektor-sektor ekonomi produktif yang berorientasi ekspor. Langkah tim ekonomi tahun 2008-2011 hendaknya bisa dijadikan contoh akan perubahan ekonomi produktif yang berorientasi ekspor.

Bila pemerintah masih mengandalkan kebijakan stimulus atau insentif saja, maka tak akan memberi hasil yang signifikan. Permasalahan ekonomi akan sama saja mengekor kebijakan pemerintah sebelumnya. Itu tidak bisa diandalkan untuk menahan pelemahan rupiah.

Sunday, September 27, 2015

Rupiah terus Melemah karena tidak Kompetitif, lalu apa Penyebabnya?

Gejolak rupiah masih belum berakhir, rupiah terus melemah meski pemerintah sudah berjibaku menahannya. Pemerintah biasanya akan menyalahkan kondisi global atau faktor eksternal yang mengalami perlambatan. Atau dengan membandingkan Negara lain yang lebih buruk mata uangnya dari rupiah.

Namun kondisi pelemahan yang terus menerus ini disikapi oleh pasar dan investor dengan kawatir. Persoalannya investasi mereka sudah susut cukup banyak, dengan rupiah melemah praktis nilai investasi juga ikut merosot. Hal ini memang kontradiksi dengan sikap pemerintah yang santai, dengan alasan pondasi ekonomi masih kuat.

Tentunya ini membuat kesabaran investor makin terkikis, wajar bila terjadi terus-menerus aksi jual di pasar saham. Diperkirakan performa IHSG menjadi yang terburuk tahun ini, dengan susut lebih dari 18 persen. Jauh sekali dengan kondisi tahun sebelumnya.

Nasib investasi di pasar keuangan ini memang mengikuti performa rupiah yang jeblok. Lalu apa yang sebenarnya membuat rupiah terus melemah dan tidak kompetitif?

Banyak pandangan yang menilai tingginya inflasi akibat penghapusan subsidi BBM menjadi awal mula kejatuhan rupiah. Meskipun sebenarnya rupiah sudah melemah secara konstan sejak 2012, lihat di grafik pelemahan rupiah, akan terlihat pelemahan rupiah yang konstan semenjak kinerja ekspor merosot pada tahun 2012. Sedang inflasi tinggi hanya sebagai katalis bagi kejatuhan rupiah lebih dalam.

Bisa jadi pondasi ekonomi sudah melemah sejak tahun 2012 dan pemerintah sampai saat ini tak mampu memperbaikinya. Andai ekspor digenjot secara optimal mungkin masih akan sulit diharapkan keberhasilannya, ini mengingat kondisi ekonomi global sedang melambat. Namun bukankah pemerintah masih bisa menahan laju impor sehingga tercapai neraca perdagangan yang positif?

Harusnya langkah ini bisa dilakukan, namun kondisi tata kelola pedagangan juga masih semrawut. Banyak kasus ijin impor yang tumpang tindih dan terlihat tidak melindungi industri nasional. Pemerintah lebih cepat melakukan impor demi melindungi angka inflasi yang sudah tinggi, bahkan sampai kasus dwelling time mengemuka, yang menjadi sorotan ijin impornya yang lambat, bukan persoalan perlindungan industri nasional yang jadi tumpuannya.

Dengan melihat realita ini maka wajar pasar maupun investor menjadi pesimis akan kondisi perekonomian. Bila mereka mengalihkan investasinya di luar portofolio rupiah, ini sudah pantas terjadi. Rupiah sudah beresiko tinggi buat berinvestasi, tidak menguntungkan dan tidak kompetitif lagi, ini penilaian investor dan pemerintah harusnya bisa melihat dari sudut pandang investor.

Wednesday, September 23, 2015

Hitam Putih Perjalanan Rupiah

Pada beberapa bulan terakhir rupiah menjadi sorotan. Bukan karena prestasi, tapi karena pelemahan yang begitu dalam dan tak terbendung. Pemerintah memang direpotkan oleh gejolak rupiah ini dan kewalahan dalam menahan laju pelemahannya, bahkan pada beberapa minggu terakhir sudah begitu mengkawatirkan karena menunjukkan akselerasi pelemahan dengan lompatan yang begitu besar.

Wajar bila investor semakin kawatir dan publik juga merasakan ada yang tidak beres dengan ekonomi rupiah. Namun ini lebih sering disikapi pemerintah dengan santai, responnya sering terlihat meremehkan kondisi yang ada. Pemerintah dalam hal ini tim ekonomi, merasa fundamental ekonomi masih kuat dan semua akibat dari faktor eksternal.

Mungkin pendapat pemerintah ada benarnya, karena rupiah pernah mengalami level terburuk, dengan indikator ekonomi yang masih lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun bila melihat ke dampak yang ada, nampaknya respon pemerintah ini bisa dianggap kurang responsif. Dampak dari pelemahan rupiah ini sudah mulai terasa di berbagai sisi kehidupan ekonomi. Situasinya sudah boleh dibilang semakin memburuk.

Bila melonggok ke tahun 1998, dimana rupiah jatuh dalam waktu singkat dan bisa bangkit dengan segera. Ini karena faktor politik yang memicu, begitu konsolidasi terjadi, rupiah bisa kembali menguat. Demikian pula dengan tahun 2008 saat terjadi krismon, periode pelemahan dan penguatan bisa dilakukan dengan cepat.

Waktu itu ekonomi memang sedang bergejolak dan semuanya dimulai dari luar atau faktor eksternal. Namun dengan sigapnya Sang arsitek ekonomi Sri Mulyani bisa membawa ekonomi bangkit dan rupiah bisa menguat dengan segera, bahkan bisa menembus level terbaik rupiah semenjak krismon. Ini karena kinerja ekspor yang luar biasa hingga bisa tembus level psikologis ekspor lebih dari 200 milyar dollar, level tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Namun setelah kepergian Sri Mulyani ke Bank Dunia, reformasi ekonomi yang sudah dijalankan mengalami setback. Kinerja ekspor mengalami penurunan secara pasti dan ini diikuti dengan pelemahan rupiah pula. Bila dilihat di grafik perjalanan rupiah, tampak terlihat pola yang pasti, rupiah melemah secara konstan dan mengalami akselerasi pada beberapa bulan yang lalu.

Puncaknya tentu saja saat rupiah mengalami akselerasi pelemahan hingga membuat banyak kalangan semakin kawatir. Apapun kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah tak memberikan efek sama sekali. Rupiah justru semakin liar, bisa jadi kebijakan yang ada malah menjadi katalis bagi akselerasi pelemahan rupiah.

Banyak kalangan melihat kebijakan pemerintah sudah salah arah, hingga menimbulkan dampak ekonomi yang lebih buruk. Pelemahan rupiah memang sudah meningkatkan resiko berinvestasi, ini membuat iklim investasi menjadi beresiko. Wajar bila terjadi pelarian modal asing di pasar keuangan. IHSG terlihat terjadi aksi jual oleh investor asing terus menerus.

Bila kondisi ini tidak diatasi dengan segera, maka ada kemungkinan ekonomi bisa semakin terpuruk. Bukan tidak mungkin ekonomi akan menjadi krisis, soalnya tak ada yang tahu pasti sampai dimana batas pelemahan rupiah ini. Perbankan yang menjadi motor ekonomi katanya masih kuat bila rupiah sampai 18 ribu terhadap dollar.

Namun ini menandakan pasar atau faktor eksternal dibiarkan begitu saja mendikte perekonomian kita. Kita harusnya jangan mau diperlakukan seperti itu oleh pasar. Pemerintah harusny bisa berkaca pada pengalaman Sri Mulyani mengangkat rupiah ke level terbaiknya dengan mengenjot kinerja ekspor.

Ini harusnya bisa dilakukan oleh pemerintah, dengan menggunakan anggaran yang berlimpah untuk mengenjot kinerja ekspor. Banyak kalangan menilai proyek infrastruktur yang dijalankan tak lebih dari proyek mercusuar, ini mengingat kondisi rupiah yang tertekan dan harusnya menjadi prioritas dalam menahan pelemahan rupiah. Perbaiki dulu kondisi keuangan rupiah sebelum membangun infrastruktur.

Monday, September 21, 2015

Bukan Krisis tapi Kritis

Polemik tentang kondisi ekonomi rupiah yang dilihat investor sebagai krisis dan disanggah oleh pemerintah, adalah lebih bersifat politis. Pemerintah nampaknya tak mau kondisi ekonomi didramatisir. Namun bagi investor maupun publik, kondisi ekonomi sudah terang benderang suram dan lesu.

Investor dan publik hanya ingin perekonomian menjadi lebih baik, dengan harapan pemerintah bisa keluar dari kondisi lesu yang tak boleh disebut krisis ini. Setahun sudah cukup lama untuk ukuran sebuah pembangunan, karena kategori jangka pendek sudah terlampaui. Dengan tenggang menuju kategori jangka menengah. Bila jangka pendek saja tak mampu keluar dari kondisi suram dan lesu, maka akan berpengaruh pada pembangunan berikutnya.

Kondisi rupiah yang menjadi sorotan investor maupun publik memang tidak menggembirakan. Sudah mengalami pelemahan terus menerus dan setiap kebijakan ekonomi yang dikeluarkan tak mampu menahan laju pelemahan rupiah. Bahkan dalam beberapa bulan ini mengalami akselerasi pelemahan yang lebih dalam.

Dari gambar di bawah ini sudah terlihat interval pelemahan rupiah sudah bukan puluhan, tapi ratusan rupiah. Ini menandakan ada semacam akselerasi dan ini tak mampu ditahan oleh pemerintah. Nampaknya pemerintah sudah mencoba segala cara, hingga panik dan sensitif terhadap isu yang berkembang.

Sebenarnya persoalan ekonomi bukan monopoli pemerintah. Bila ingin sukses, pemerintah harus mengikutkan seluruh komponen bangsa dan tidak sensitif atas usulan, saran maupun kritik yang berkembang. Masukan yang positif akan memperkaya data untuk implementasi atau eksekusi kebijakan ekonomi menjadi lebih baik.

Selama ini investor maupun publik sudah cukup sabar melihat posisi rupiah yang sudah turun cukup tajam. Dengan imbas dan dampak yang mulai terasa di sektor riil maupun kehidupan masyarakat. Investor sudah mengalami kerugian cukup banyak, sedang masyarakat mengalami penurunan perekonomiannya.

Kesabaran akan ada batasnya, saat kebutuhan hidup tidak terbeli, maka akan sulit untuk terus membayar kewajiban yang ada. Tentunya bisa timbul gejolak sosial dan efek domino yang sulit diperkirakan dampaknya bagi Negara. Persoalan ekonomi yang terus-terusan tak teratasi, akan menekan kehidupan masyarakat dan menimbulkan gejolak sosial yang lebih buruk.

Disini perlu bagi pemerintah melihat lagi data ekonomi dan menganalisa dengan komprehensif. Ada persoalan mendasar yang harus diprioritaskan, dan ini tidak tersentuh di kebijakan yang dikeluarkan.