Pages

Showing posts with label agro. Show all posts
Showing posts with label agro. Show all posts

Friday, October 23, 2015

Berapa Kerugian Kabut Asap bagi Perekonomian Indonesia?

Kerugian yang dialami oleh ekonomi Indonesia akibat dari kabut asap, bisa jauh di luar perkiraan. Memang tidak ada perhitungan yang pasti, namun bisa menunjukan nilai kerugian yang fantastik. Apalagi dengan manajemen baru di pemerintahan, membuat kabut asap semakin tak terkontrol.

Diduga pergantian pejabat di penangangan bencana, telah mereset segala pengelolaan dan manajemen yang sudah ada. Pengalaman menangani kabut asap dari tim sebelumnya tidak bisa optimal dengan orang baru yang belum diketahui kapasitasnya. Seperti biasa pergantian pejabat di negeri ini tidak berkelanjutan.

Pejabat baru akan menunjukan egonya dengan system baru dan tidak mau melanjutkan endorsement yang sudah diberikan oleh pejabat lama. Akibatnya semua mulai dari titik nol (“growing pain”), hingga pengendalian kabut asap tidak optimal. Ini sama dengan pengelolaan ekonomi di negeri ini, endorsemen yang dilakukan tak ada artinya, karena direset dan mulai dari awal.

Dari data terakhir kabut asap sudah menyebar dari kawasan Thailand selatan, Malaysia, singapura, hingga philipina selatan. Juga dikabarkan kawasan papua juga mengalami kabut asap dari kebakaran hutan pula. Ini membuat kabut asap ini sudah menyelimuti hampir seluruh kawasan asia tenggara bagian tengah, tempat dimana jantung perekonomian berputar.

Terjadi pembatalan banyak penerbangan di kota-kota yang diselimuti kabut asap. Ini saja sudah bisa dihitung sangat berat sekali, belum lagi penutupan kegiatan hiburan, bisnis dan aktifitas masyarakat sehari-hari. Nilai kerugiannya bisa lebih besar bila menyangkut gangguan kesehatan yang dialami penduduk di daerah terdampak kabut asap.

Beberapa organisasi keuangan dalam estimasinya memperkirakan sudah ratusan trilyun rupiah kerugian akibat kabut asap ini. Angka ini masih berkembang karena memang kabut asap semakin tak terkendali. Bila pemerintah bersikukuh perekonomian masih oke-oke saja, karena memang kawasan jantung ekonomi Indonesia di jawa yang menguasai 75 persen, masih belum tersentuh kabut asap.

Arah anginnya memang cenderung membawa kabut asap ini ke utara dan timur dari lokasi asal kabut asap. Ini membuat jantung ekonomi Indonesia relatif aman, mungkin cerita akan lain bila kabut asap ini menyelimui kawasan padat dan pusat ekonomi di jawa. Bisa-bisa pemerintah harus mengoreksi seluruh indikator ekonominya.

Tindakan otoritas pemerintahan di Negara terdampak asap kabut patut diperhitungkan pula. Mereka mulai melakukan tindakan sepihak, dengan boikot produk dari kawasan penyebab kabut asap. Tindakan sepihak ini tidak bisa disepelekan begitu saja, harus segera dicari penyelesaian, apalagi dengan ekonomi lesu, boikot produk bisa menurunkan kapasitas ekspor yang sangat diharapkan dalam menopang rupiah.

Reaksi pejabat kita yang meremehkan aksi boikot ini memang bersifat politis daripada memandang sisi ekonomi yang lebih krusial. Ini membuat kerugian dari kabut asap ini bisa semakin besar dan merembet kemana-mana. Ada persepsi dari Negara-negara yang terdampak kabut asap sebagai pembiaran dari pemerintah Indonesia yang terlihat lamban dan tidak responsif dalam menangani kabut asap, sehingga wajar boikot produk adalah cara relevan untuk menekan Indonesia.

Boleh dibilang kabut asap tahun ini menjadi yang terburuk dalam sejarah Indonesia. Kerugian secara ekonomi mungkin tak bisa diabaikan, dampaknya bisa membekas sampai bertahun-tahun dan persoalannya bisa merembet kemana-mana.

Sunday, October 11, 2015

Mampukah Kartel Sawit Indonesia-Malaysia Mengontrol Harga Pasar?

Pihak Jakarta dan Kuala Lumpur sepakat untuk membentuk aliansi dalam industri sawit mereka. Tujuannya memang untuk bisa meningkatkan harga sawit yang saat ini sudah turun tajam, sebagai akibat dari persaingan di antara kedua Negara.

Memang Indonesia dan Malaysia menguasai 85 persen pasar sawit dunia, namun tak mampu mengontrol harga sawit dunia. Justru pihak pembeli sawit di Eropa yang menjadi pengendali harga, sekaligus pengontrol tata niaga sawit. Apalagi dengan persaingan antara Indonesia dan Malaysia dalam berebut pasar sawit, maka semakin membuat produksi sawit tidak terkontrol dan cenderung over produksi.

Kondisi ini nampaknya yang membuat Jakarta dan Kuala Lumpur untuk membalik kondisi yang ada. Agaknya mereka mulai belajar atau setidaknya bisa membentuk organisasi seperti OPEC yang bisa mengontrol harga minyak dunia. Boleh dibilang bila melihat kapasitas produksi sawit kedua Negara yang menguasai 85 persen, sudah melebihi kapasitas OPEC yang hanya memiliki produksi kurang dari 80 persen minyak dunia.

Namun diperkirakan akan ada jalan panjang dalam menemukan titik temu diantara kedua Negara dalam mengatur produksi sawit mereka. Selama ini sudah terjadi persaingan tidak sehat yang justru merugikan keduanya, termasuk kampanye hitam diantara industri sawit mereka. Ini nampaknya yang membuat kedua Negara yang menguasai mayoritas produksi sawit tak mampu mengontrol harga sawit dunia.

Apalagi dengan pembukaan lahan sawit yang massif dan tidak terkontrol, semakin menyulitkan dalam mengontrol produksi sawit kedua Negara. Disini nampaknya perlunya kerjasama yang bisa menjembatani pengaturan produksi sawit yang terkendali. Sekaligus membalikan posisi pengontrol tata niaga sawit dunia.

Selama ini konsumen sawit di Eropa membuat standar dan aturan yang sangat ketat akan tata niaga sawit. Ini yang sering merugikan kedua Negara, mereka dipaksa mengikuti aturan yang dibuat oleh pihak pembeli. Akibatnya harga sawit bisa dipermainkan oleh pihak konsumen Eropa.

Terlebih juga persoalan over produksi sawit dunia yang menjadi pangkal persoalan. Memang kedua Negara ini “jor-joran” dalam membuka lahan sawit sekaligus meningkatkan produksi sawit, bahkan kasus asap yang melanda asia tenggara, tak lebih karena industri sawit ini. Diperkirakan banyak perusahaan Malaysia yang beroperasi di Indonesia, ikut melakukan pembukaan lahan dengan membakar hutan.

Kondisi ini nampaknya harus pula diperhatikan oleh organisasi bentukan kedua Negara ini. Mereka harus pula komit dalam menjaga lingkungan, membatasi pembukaan lahan baru, mengatur produksi sawit bersama, sekaligus membangun industri pengolahan sawit sendiri. Bila ini tercapai, bisa jadi kartel sawit bentukan kedua Negara ini akan menguasai pasar sawit dunia.

Friday, September 25, 2015

Dampak Impor Beras saat Panen Raya

Sudah bukan sekali ini saja impor beras dilakukan pada saat panen raya terjadi. Alasannya karena stok beras nasional belum mencukupi dan ditakutkan akan terjadi gejolak harga. Padahal bisa saja data stok beras ini tidak diupdate dengan baik, karena akibatnya bisa merugikan petani yang sedang panen raya.

Diberitakan pula kemarau panjang telah membuat banyak gagal panen. Ini juga menjadi alasan dari pemerintah melakukan impor beras. Meskipun bila data diupdate dengan baik, maka stok beras bisa lebih dari cukup setelah panen raya.

Dari beberapa peninjauan, banyak petani yang merasakan keganjilan. Tidak biasanya panen raya sepi peminat, karena dulunya padi baru menguning saja para tengkulak sudah gatal ingin memborong padi tersebut. Namun sekarang sampai mendekati panen, padi para petani ini tak ada yang menawar.

Diperkirakan sepinya peminat ini karena memang stok beras sudah cukup banyak di pasar. Apalagi dengan impor beras yang terus menerus dilakukan pemerintah. Dari data yang ada memang pemerintah impor beras dalam jumlah besar saat mendekati panen raya.

Akibatnya bisa dipastikan akan seperti sama pada panen-panen sebelumnya, harga padi akan turun dan ini sering merugikan petani. Rugi disini karena memang modal untuk mengarap sawahnya tidak tertutup oleh hasil panen. Tentu saja ini membuat pusing para petani dan menurunkan minat untuk bertani.

Diperkirakan jumlah petani murni atau yang mengeluti usaha tani secara penuh ini sudah menurun. Kebanyakan sudah tidak bisa lagi mengandalkan profesi tani ini, mereka banyak yang lari menjadi pekerja atau buruh di luar sektor pertanian. Karena memang sudah tidak mencukupi untuk hidup dari bertani.

Bila kondisi ini dibiarkan terus, maka otomatis akan menurunkan produksi beras itu sendiri. Mana mungkin pula program swasembada beras akan tercapai, bila produksi beras tidak bisa meningkat. Ada yang aneh dengan program pemerintah yang tidak konsisten dalam swasembada beras ini.

Terlihat pemerintah lebih mementingkan kondisi makro dalam menekan inflasi, daripada memikirkan nasib petani maupun program swasembada itu sendiri. Harusnya pula kebijakan impor beras ini tidak dilakukan saat panen raya. Pemerintah hendaknya bisa memiliki data logistik beras yang update hingga tidak merusak harga beras di tingkat petani.

Wednesday, July 1, 2015

Peluang Usaha Budidaya Lele

Ikan lele sudah menjadi kebutuhan lauk sehari-hari, maka wajar permintaan akan lele tetap ada. Ini membuat budidaya lele masih menguntungkan dan menjanjikan. Meskipun dari sisi ongkos budidaya sudah tidak murah lagi.

Sekarang pakan lele sudah memiliki nilai dan dihargai keberadaannya. Bila sebelumnya untuk cari pakan lele bisa dengan cara murah, yaitu dengan mencari sisa-sisa di pasar ikan. Itu tidak lagi bisa dilakukan, para peternak ikan lele ini harus merogoh kocek untuk mendapatkan pakan lele.

Memang semuanya jadi serba mahal, saat orang tahu barang buangan masih berguna, semuanya akan dinilai dengan uang. Tidak ada lagi barang gratis. Kondisi inilah yang menciptakan para peternak ikan lele ini membuat pakan sendiri.

Bila harus membeli pelet ikan, jelasnya sudah tidak ekonomis lagi. Keuntungan nantinya bisa menipis, bahkan rugi bila sampai hasil panen tak sesuai harapan. Cara inilah yang membuat peternak ikan lele ini bisa bertahan.

Rata-rata pakan lele ini menjadi modal utama disamping benih lele. Namun bagi yang sudah bisa usaha bibit lele, tentunya bisa memangkas ongkos budidaya lele ini. Sebenarnya teknis sudah banyak yag mengerti, hanya aplikasinya yang kadang kecil rasio kesuksesannya.

Budidaya lele kadang gampang-gampang susah, persoalannya memang di pakan dan kualitas bibit. Keduanya harus bagus, bila tidak panen lele bisa tidak optimal. Tentu saja pasti ada keuntungannya, hanya sudah cukup menipis akhir-akhir ini.

Penyebabnya juga karena persaingan dari sesama pembudidaya ikan lele juga. Biasanya mereka tidak mau mencari daerah baru untuk menjual lele. Akibatnya harga lele sering dipermainkan oleh pedagang.

Belum ulah pengepul yang sering merusak harga, ini membuat para peternak lele ini mulai mencari cara baru dalam menjual hasil budidayanya. Salah satunya dengan membina hubungan atau mitra dengan beberapa warung maupun restoran. Cara ini memang membuat kerja mereka lebih ribet lagi, tapi inilah jalan buat mendapatkan harga lele yang bagus.

Para pembudidaya ikan lele ini juga sudah mulai membuat olahan sendiri dari lele yang tak terjual. Meskipun saat panen sudah pasti ada yang memborong hasil budidaya, tapi tetap saja masalah harga yang jadi kendala. Solusinya adalah dengan memperluas teknis pengolahan lanjutan dari ikan lele.

Sunday, June 28, 2015

Peluang Usaha Bibit Tanaman

Bisnis seputar tanaman hias ini sudah banyak pemainnya, orang mulai melirik peluang pada bibit tanaman. Ini tidak terbatas pada bibit tanaman hias saja, ada bibit tanaman buah, bibit tanaman sayuran dan jenis tanaman langka lainnya. Prospeknya cukup cerah, karena tanaman akan selalu menjadi daya tarik bagi yang melihatnya.

Memang permintaan akan tanaman ini seringkali tidak cukup dengan menyediakan pohonnya saja. Bibit tanaman yang ada dinilai bisa memangkas biaya bila harus membeli tanamannya langsung. Bibit tanaman ini lebih ringkas dan memudahkan dalam distribusi maupun penanaman.

Model penyediaan bibit tanaman juga beragam, ada yang jual dalam bentuk biji, seperti jenis bibit bagi tanaman sayuran. Produknya bisa dikemas dalam sebuah box berisi bibit yang siap tanam. Tentunya dengan manual atau petunjuk di dalam box untuk menanamnya.

Cara ini dinilai sebagai langkah maju dalam menjual bibit tanaman. Ada nilai edukasi dalam berkebun atau cara menanam tanaman. Juga sekaligus menguntungkan dari dua sisi penjual tanaman dan yang membelinya.

Model penjualan bibit tanaman dalam bentuk biji ini sebenarnya sudah lama dilakukan. Hanya semakin popular saat banyak toko bibit tanaman ini menjualnya secara online. Ini membuat pengenalan bibit tanaman ke pasar semakin luas.

Bibit tanaman yang biasanya hanya bisa dikembangkan oleh perusahaan agro atau sebuah toko pertanian, kini sudah bisa dikembangkan secara personal. Banyak yang memulai dari hobi hingga berkembang menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan. Animo masyarakat akan tanaman tetaplah tinggi, ini yang menjadi pendorongnya.

Masalah harga bibit tanaman ini bisa bervariasi, tergantung pada jenis bibit yang dijual. Juga penyajian maupun cara penanamannya, ini membuat persaingan semakin bagus. Ada banyak variasi, sehingga harga bisa lebih ekonomis.

Peluang bisnis jual bibit tanaman ini masih cukup bagus, meskipun pemainnya sudah banyak. Bisnis ini juga bisa dikemas menjadi sebuah industri agro yang menawan, sehingga bisa dilipat-gandakan omset maupun kapasitasnya. Kedepannya bisnis bibit tanaman ini akan menjadi primadona bagi bisnis agro secara keseluruhan.

Thursday, June 25, 2015

Jenis Agro Bisnis Rumahan yang pakai Modal Kecil

Sebuah agro bisnis tidak harus butuh lahan luas dan modal yang besar. Sebuah lahan kecil di rumah bisa dipakai sebagai usaha agro yang tak membutuhkan modal besar. Ini tentunya sangat cocok buat usaha sampingan ataupun bisa menjadi usaha awal yang bisa dikembangkan menjadi lebih besar lagi.

Sebuah bisnis selalu berhubungan dengan modal dan sering ketiadaan modal menjadi penghalang membuka usaha. Jenis agro bisnis memiliki pilihan yang banyak, bisa memilih usaha yang modalnya kecil dan tak butuh lahan yang luas. Bisnis ini memang akan terlihat remeh, tapi jangan lihat saat usahanya berkembang.

Lihat saja bisnis tanaman hias, ini bisa dikembangkan dari rumah dengan lahan yang sempit. Asal mulanya bisa dari hobi menyukai dan memelihara tanaman hias. Lalu tanaman hias yang asal mulanya satu biji bisa dibiakan menjadi beberapa biji.

Tentunya lama-lama lahan di rumah ini akan penuh dengan tanaman hias. Sudah pasti tanaman hias ini bisa memiliki nilai jual, dan uangnya bisa diputar lagi dengan jenis tanaman hias lainnya. Boleh dibilang pemeliharaan dan budidaya tanaman hias ini bisa ditekan biayanya.

Kebutuhan pupuk bisa bikin sendiri dari kompos yang berasal dari sampah rumah tangga sehingga biaya pupuk bisa dibikin nol. Ini tentunya membuat usaha agro ini semakin menguntungkan. Biaya sedikit, tapi bisa dijual dan menghasilkan lebih banyak uang, tentunya ini amat menguntungkan.

Lalu ada juga usaha agro jenis budidaya jamur yang juga cukup popular dan banyak dikembangkan orang. Usaha ini bisa dimulai dari lahan kecil di depan atau belakang rumah. Modalnya bisa disesuaikan dengan jumlah jamur yang dikembang-biakan.

Dalam waktu 25-30 hari sudah bisa dipanen jamurnya dan bisa dijual di pasar atau ke tetangga. Bila ingin bertambah nilainya jamur bisa diolah lagi menjadi beragam jenis makanan. Ini membuat usaha agro ini lebih menguntungkan.

Banyak yang lebih focus pada usaha pengolahan jamur, seperti diolah menjadi sosis, nugget dan olahan kuliner lainnya. Tentunya ini bisa dipilih mana peluangnya yang paling besar dan menguntungkan. Usaha agro jamur ini sudah banyak dikembangkan orang dan tak begitu butuh modal besar dan bisa jadi usaha sampingan.