Pages

Showing posts with label saham. Show all posts
Showing posts with label saham. Show all posts

Sunday, January 3, 2016

Investasi bergeser dari Internet ke Ruang Angkasa

Dominasi pertumbuhan investasi di sector internet nampaknya akan segera tersaingi oleh pesatnya pertumbuhan bisnis ruang angkasa. Perlahan tapi pasti arah investasi sudah mulai bergerak ke ruang angkasa. Salah satu milestone-nya adalah reusable roket yang menjadi tonggak pergeseran ini.

Internet tentu saja akan terus berkembang, namun sudah mulai menemui titik puncak atau jenuhnya. Orang sudah mulai menyadari peluang semakin menipis, meskipun internet tetap menjanjikan hal baru untuk dikembangkan. Internet akan tetap berkembang mengikuti pertumbuhan teknologi.

Dalam beberapa bulan ini semenjak privatisasi sector ruang angkasa oleh amerika, telah merubah posisi eksplorasi ruang angkasa yang sebelumnya cenderung stagnan. Tentu saja sejak pendaratan manusia di bulan tidak ada perkembangan yang berarti, meskipun teknologi ruang angkasa terus berkembang, seperti pendaratan robot di mars adalah sekian dari kemajuan berarti, namun tetap memberikan berita bahwa eksplorasi ruang angkasa masih sangatlah mahal.

Selama ini biaya peluncuran ke ruang angkasa yang mahal menjadi kendala perkembangan bisnis ruang angkasa. Bayangkan butuh jutaan dollar untuk sekali peluncuran ke ruang angkasa. Namun hal ini mulai berubah sejak reusable roket mulai diperkenalkan.

Diperkirakan biaya peluncuran roket yang biasanya jutaan dollar ini, bisa dipangkas menjadi ribuan dollar. Tentunya ini akan merubah seluruh perkembangan industri ruang angkasa. Memang masih menjadi awal teknologinya, tapi sudah merubah visi eksplorasi ruang angkasa menjadi lebih cepat. 

Bukan tidak mungkin inilah saat yang tepat mengoleksi saham-saham yang berhubungan dengan industri ruang angkasa. Seperti saham perusahaan internet yang bisa berlipat-lipat nilainya. Dengan perkembangan industri ruang angkasa yang pesat, akan menjadi saham blue chip baru yang sangat bernilai.

Saat ini terbuka lebar eksplorasi di mars, mining atau penambangan asteroid, pariwisata di luar angkasa, yang semuanya ini membuka pundit-pundi berharga. Seperti perjalanan Columbus menemukan benua amerika, reusable roket adalah perubahan besar, bahkan bisa disebut revolusi besar untuk eksplorasi manusia ke dunia baru yang tidak terbatas.

Meskipun ekonomi Indonesia masih kurang menggembirakan, namun masih banyak peluang di bursa seiring perkembangan teknologi ruang angkasa ini. Berpikir ke depan untuk melihat pergeseran investasi ruang angkasa yang semakin besar. Inilah waktunya mengoleksi saham-saham yang berhubungan dengan industri luar angkasa.

Monday, December 21, 2015

Libur Akhir Tahun, Bursa Makin Sibuk

Siapa bilang pemain bursa akan libur saat liburan akhir tahun? Memang sih lantai bursa akan libur, namun tidak untuk para pemain bursa. Dimana terjadi kesibukan luar biasa menyambut tahun baru.

Pada saat liburan akhir tahun, momen ini digunakan oleh emiten menyiapkan langkah besar di awal tahun. Biasanya kegiatan di belakang layar ini sangat krusial dan sangat cepat terjadi. Seperti rencana akuisisi, bisa sangat cepat terjadi.

Di amerika misalnya, para jajaran eksekutif korporasi melakukan lobi-lobi ketat selama liburan akhir tahun. Sampai-sampai para pengawai atau staff perusahaan tidak mengetahui bahwa perusahaannya sudah berpindah tangan atau dicaplok perusahaan lain di awal tahun. Semua ini bisa terjadi dengan cepat dan mengagetkan pada awalnya.

Namun dengan ritme yang biasa terjadi, maka di Amerika sendiri sudah biasa berganti majikan atau pemilik tanpa gejolak berarti. Biasanya perampingan hanya dilakukan di jajaran manajerial, sedangkan para staff atau pekerja masih dipertahankan saat proses akuisisi atau pencaplokan terjadi.

Di amerika memang caplok mencaplok sering terjadi pada awal tahun, dengan proses yang sangat cepat di liburan akhir tahun. Para korporasi ini mampu tumbuh dengan cepat dengan dicaplok atau mencaplok perusahaan lain. Biasanya memang ada proposal yang tidak bisa ditolak oleh kedua belah pihak.

Soalnya proses akuisisi akan sangat menguntungkan kedua belah pihak, baik dari kalangan investor atau kreditor kedua perusahaan. Biasanya mereka akan sangat diuntungkan dengan prospek atau goreng-menggoreng yang dilakukan dengan cepat saat proses akuisisi. Mereka memanfaatkan momen yang baik sehingga mampu meraih hati investor di bursa saham.

Meskipun kadang dalam perjalanannya setelah proses akuisisi bisa saja nilai sahamnya akan meredup. Namun setidaknya mereka sudah diuntungkan dari memiliki saham unggulan di awal tahun. Di bursa saham Indonesia kegiatan awal tahun biasanya tak semeriah di amerika.

Pertumbuhan emiten masih sangat lambat dengan pergerakan aktifitas yang masih sangat pelan sekali. Apalagi yang namanya proses akuisisi perusahaan lain masih sangat lambat untuk dibicarakan apalagi dilakukan. Emiten kita masih belum begitu aktif seperti korporasi di amerika, mungkin kedepannya akan banyak corak mewarnai awal tahun di bursa saham Indonesia.

Monday, November 30, 2015

Rupiah dalam Tekanan, Investor Asing pada Kabur dari Bursa

Inilah titik balik yang ditunggu oleh investor asing untuk kabur, setelah cukup mendapatkan keuntungan yang lumayan. Momen ini adalah kilas balik dari saat masuknya investor asing beberapa bulan lalu yang membuat rupiah menguat dengan tajam dari posisi terburuknya. Sebenarnya kondisi ini sudah diduga, aksi massif investor asing melepas saham adalah sudah diperkirakan akan terjadi.

Investor asing memanfaatkan kuatnya rupiah untuk segera melaksanakan aksi beli dollarnya dan melepas saham yang sudah naik cukup tinggi. Memang ada dua momen yang dimanfaatkan yaitu saat nilai saham sudah mature dan nilai tukar yang masih menguntungkan. Diperkirakan bila terlambat melakukan aksi ini, maka keuntungan dari kurs dan saham tidak terlalu besar.

Kejadian seperti ini sebenarnya sudah diperingatkan sebelumnya agar pemerintah maupun investor domestik mewaspadai aksi investor asing yang masuk secara massif saat rupiah melemah dan nilai saham anjlok. Soalnya akan terjadi aksi balik yang bisa menekan rupiah dan merusak ketahanan ekonomi. Memang begitulah “hot money” mudah masuk dan mudah keluar, sangat sulit untuk dipercaya akan tinggal selamanya.

Meskipun pemerintah mengeluarkan kebijakan yang sangat ramah pada investor asing, namun ekonomi domestik yang melambat, membuat investor asing hanya bermain jangka pendek. Mereka main aman dan memanfaatkan peluang yang sudah terlihat dengan jelas. Disini nampaknya pemerintah kurang bisa memanfaatkan pula kondisi yang bakal terjadi.

Harusnya saat investor asing masuk secara massif, segera perbaiki ekonomi domestik dengan cepat. Pemerintah harus bisa konsolidasi secara cepat, tidak saja aturan tapi anggaran pula harus bisa mencerminkan perubahan kebijakan ekonomi yang telah dikeluarkan. Namun hal ini tidak dilakukan oleh pemerintah hingga apa yang diprediksi menjadi kenyataan.

Kaburnya investor asing secara massif ini memang cukup memprihatinkan, bahwa iklim investasi di tanah air masih belum kondusif. Banyak indicator ekonomi yang masih memprihatinkan sedang pejabatnya ramai sendiri dan adu argument di depan public. Harusnya pemerintah satu arah, ramai boleh tapi harusnya di belakang layar, saat rilis ke public harusnya sudah final dan tidak menimbulkan preseden buruk tentang arah ekonomi yang tidak jelas.

Thursday, November 26, 2015

Menabur Investasi, Menuai Kerugian

Sudah cukup lama pertumbuhan IHSG masih minus, sehingga menimbulkan keresahan di pemerintahan. Munculnya ide suku bunga deposito yang lebih rendah adalah buah dari keresahan ini. Padahal persoalannya bukan masalah bunga deposito, memang kondisi riil yang melambat membuat pertumbuhan bursa saham tidak menggembirakan.

Ini sudah disikapi oleh investor asing jauh-jauh hari sebelumnya. Memang sebagian besar investor asing yang mengais rejeki di bursa saham Indonesia tidak sepenuhnya kembali sejak “black Monday” yang lalu. Kebanyakan lebih memilih portofolio investasi lainnya di luar Indonesia.

Ini terlihat dari perkembangan IHSG yang terseok-seok dibandingkan bursa utama asia maupun dunia lainnya, nampak posisi IHSG paling terbelakang. Ini tentu pukulan yang sangat serius bagi pemerintahan saat ini, soalnya di pemerintahan sebelumnya mampu mencatatkan pertumbuhan bursa yang spektakuler, bahkan pernah menjadi yang terbaik di seluruh dunia.

Kondisi ini tentunya bisa dikatakan masa sulit, meski banyak kalangan ekonom melihat shifting policy yang tidak “smoothly”. Banyak investor asing yang dibuat ragu dengan arah kebijakan pemerintah ini, terutama sebelum reshuffle cabinet, membuat investor asing lari tunggang langgang dan tak kembali lagi. Perubahan tim ekonomi juga masih disikapi dengan hati-hati.

Ada beberapa investor asing yang kembali memburu beberapa saham unggulan hingga membuat rupiah melonjak ke level lebih baik. Namun tetap saja tidak mampu memperbaiki minusnya pertumbuhan saham yang masih menjadi yang terbelakang. Besar kemungkinan kondisi ini akan semakin berlarut, ini mengingat indicator makro yang masih tidak menggembirakan sampai akhir tahun, apalagi dengan target pajak yang jauh tidak tercapai.

Ini membuat kondisi anggaran dalam pertaruhan, bisa saja utang akan membengkak dengan cepat. Namun konsekwensinya akan memberatkan neraca keuangan dan berdampak pada perekonomian ke depannya. Memang serba sulit hingga wajar pemerintah mengambil ide ekstrim tanpa menimbang kondisi indicator ekonomi yang sedang berjalan.

Andai bunga deposito dibikin nol persen sekalipun orang belum tentu mau masuk ke bursa. Buat apa menabur investasi yang beresiko, bila pada akhirnya akan merugi. Justru dengan kondisi ekonomi yang masih melambat ini, investasi yang berpendapatan tetap adalah pilihan investasi yang tepat.

Thursday, November 12, 2015

Ingin Investasi Saham Naik, Perbaiki dulu Sektor Riil

Kinerja bursa saham adalah cerminan dari kondisi riil dan perekonomian secara keseluruhan. Tidak ada yang namanya bursa saham tumbuh pesat bila kondisi ekonomi masih amburadul. Jangan berharap investasi saham tumbuh bila PHK masal dan penggangguran masih tinggi.

Meski diakui masyarakat atau para investor saat ini lebih suka berinvestasi di deposito atau yang berpenghasilan tetap. Ini melihat pertumbuhan bursa saham juga kurang menggembirakan. Lihat saja dalam setahun pertumbuhannya masih minus diatas 10 persen.

Bukankah berinvestasi agar harta atau modal yang ditanam bisa tumbuh nilainya? Bila bursa saham masih terus minus, maka wajar siapapun akan mencari portofolio investasi yang menguntungkan. Andai bunga deposito dibikin 1 persen atau nol persen sekalipun, akan tetap diminati bila kinerja bursa masih minus.

Jadi jangan mencari hal lain yang tidak mungkin untuk menggerakan bursa saham. Penurunan bunga deposito malah bisa membuat rupiah terkapar, orang akan beralih ke simpanan dollar yang lebih menarik dan menguntungkan. Sekali lagi menurunkan bunga deposito bukan solusi yang tepat untuk menggerakan bursa.

Justru lebih baik, pemerintah memperbaiki sektor riil dan perekonomian secara keseluruhan. Jangan mau menangnya sendiri dengan melakukan hal-hal yang merugikan sisi lain perekonomian. Jangankan menurunkan bunga deposito, BI saja sangat enggan bila harus menggeser suku bunga rupiah. Efek dominonya sulit dihitung dan pada akhirnya menekan rupiah.

Seringkali kita melihat pemerintah putus asa atas perlambatan ekonomi sehingga memunculkan ide yang tak terduga. Iya kalau berakibat baik, tapi membuat perekonomian menjadi tak karuan malah lebih baik diam saja atau autopilot. Kadang membiarkan segalanya berjalan apa adanya bisa memperbaiki keadaan.

Dalam setahun inipun mungkin keadaan bisa lebih baik tanpa campur tangan pemerintah. Perubahan kebijakan yang salah arah membuat perekonomian lebih tenggelam dari ekonomi global. Lihat saja bursa saham yang minusnya paling parah dibandingkan dengan beberapa bursa di kawasan.

Banyak investor asing yang keluar dari bursa dan belum kembali, padahal sebagian besar mereka sudah kembali di Negara emerging market lainnya. Namun ini tidak terjadi disini, kinerja bursa masih paling buruk. Diduga investor masih meragukan kondisi riil perekonomian Indonesia hingga tak berani masuk.

Dalam hal ini pemerintah lebih baik tidak menelurkan ide yang aneh-aneh yang bisa memberatkan perekonomian. Lebih baik pemerintah fokus memperbaiki kondisi rill, memperbaiki daya beli masyarakat sehingga perekonomian bisa bergerak dan mampu menggerakan bursa kembali.

Sunday, June 28, 2015

Inflasi Tinggi, Inikah saham yang Harus Dikoleksi?

Kondisi inflasi tinggi memang tidak begitu menguntungkan dalam berbisnis. Apapun yang dilakukan akan tergerus keuntungannya oleh inflasi. Namun  ada beberapa sektor yang bisa dikoleksi sahamnya saat inflasi tinggi.

Salah satunya adalah sektor pertambangan. Meskipun harga saham pertambangan ini sempat lesu sejak awal kuartal pertama, namun bisa diharapkan prospeknya pada sisa kuartal tahun ini. Jadi masih bisa diharapkan kebangkitannya pada masa datang.

Memang faktor eksternal masih kuat pengaruhnya, seperti dollar yang menguat dan krisis utang Yunani membuat saham-saham pertambangan ini sulit diprediksi. Banyak investor yang masih wait n see. Kondisinya benar-benar masih lesu, andaipun ada yang masuk adalah pemain jangka panjang yang mencari peluang.

Kondisi bursa juga masih mixed, belum terlihat arah yang jelas. Kebijakan tim ekonomi juga tak bisa membawa sentiment positif di bursa. Justru faktor eksternal yang lebih banyak bicara.

Bisa jadi banyak yang pesimis dengan kondisi stagnan ini, dengan kemungkinan menuju ke resesi. Ingat kondisi yang tak berubah atau stagnan selama beberapa kuartal sudah masuk tanda-tanda resesi. Meskipun masih ada pertumbuhan, tapi sudah susah sekali.

Banyak investor yang lebih melakukan aksi jual daripada mengoleksi saham-saham di bursa. Mereka lebih mengalihkan investasinya ke instrument lainnya yang tak tergerus oleh inflasi. Memang dalam kondisi begini saham-saham perbankan akan mengalami pukulan yang dalam.

Sebaiknya memang saham-saham perbankan ini dihindari, meskipun banyak yang cukup profit dengan membagi dividen. Namun dalam jangka menengah harga sahamnya sudah tidak bisa diharapkan pertumbuhannya. Dalam kondisi inflasi tinggi, perbankan akan menjadi sektor yang paling terpukul.

Saham ritel mungkin masih bisa dikoleksi, dengan beberapa momen besar yang dilalui. Ini akan diharapkan pertumbuhannya yang positif. Namun sekali lagi keuntungannya tidak besar, ada penurunan keuntungan dan itu sudah pasti dirasakan oleh semua sektor.

Maka dari itu saham-saham pertambangan masih memberikan masa depan yang lebih baik. Ini dengan pertimbangan setelah turun dari tahun kemarin akibat anjloknya harga minyak. Namun akan ada peningkatan di sisa kuartal tahun ini.

Wednesday, June 24, 2015

Cara Sederhana Analisa Saham Jual-Beli

Prinsip sederhana untuk jual beli saham adalah mengetahui saham tersebut under atau over. Cara ini bisa dijadikan landasan dalam jual beli saham, baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Untuk menentukan posisi saham tersebut bisa digunakan analisa saham yang sederhana ini.

Bagi para trader yang suka bermain dalam jangka pendek, mereka akan mengoleksi saham-saham top gainer dan top losser yang memiliki volatilitas tinggi. Semua ini bisa dilihat di kurva atau grafik yang disediakan oleh pihak bursa. Data-data ini bisa dianalisa pergerakannya.

Sebuah saham yang mengalami penurunan pada kategori top losser, akan mencapai titik poin undervalue-nya. Ini bisa diketahui dengan melihat grafik golongan saham tersebut. Misal ini saham PT anu sedang mengalami penurunan cukup tajam atau top losser, kondisi ini akan terjadi beberapa hari. PT anu ini bisa dilihat masuk dalam kategori saham apa, pertambangan, ritel atau apa, lihat kurva penurunan saham-saham sector ini.

Saat sudah mencapai ambang bawah penurunannya, ini saat yang tepat mengoleksi saham ini. Bid saja saham ini di harga lebih tinggi sedikit dari harga terakhir. Pasti harga saham ini bisa tertahan penurunan dan berbalik naik.

Perhatikan pula selama saham tersebut masih overvalue akan terjadi penurunan terus, meskipun diselingi dengan koreksi. Pada hakekatnya lihat pula sentimen positif pada saham ini. Bila cukup kuat ini akan memberi dorongan untuk rebound, dan saat inilah untuk siap-siap posisi bid jual.

Memang ini yang dilakukan oleh trader, analisa saham yang dilakukan cukup sederhana. Pemain jangka pendek hanya butuh analisa sentimen positif atau negative yang kuat dan posisi saham tersebut sudah over atau under. Memang pondasi perusahaan tersebut harus diketahui saat melakukan analisa saham ini.

Sedang untuk pemain jangka menengah dan jangka panjang, harus lebih hati-hati saat membidik saham yang akan dikoleksi. Perusahaan tersebut harus dalam posisi undervalue, ini bisa dibeli saat IPO, bisa pula saat sedang mendapatkan banyak sentiment negative. Saham perusahaan yang akan dikoleksi untuk disimpan harus masuk 10 besar atau 25 besar pertumbuhannya, ini tentunya dimiliki oleh saham-saham bluechip.

Perhatikan grafik pertumbuhannya pada tahun kemarin, bandingkan dengan kondisi asetnya, jumlah utang yang dimiliki dan posisi dividen yang dibagikan. Memang lebih banyak data perusahaan yang harus dianalisa.