Pages

Friday, November 27, 2015

IHSG Charging hingga tidak lebih buruk dari Singapura

Sejak awal tahun IHSG terpuruk hingga menempati posisi terburuk dari beberapa bursa utama di kawasan. Berkat kinerja positif bulan ini, IHSG berhasil lebih baik dari Singapura. Meski masih masih minus diatas 10 persen pertumbuhannya, tapi bisa lumayan lebih baik dari minusnya bursa singapura.

Memang selama ini tampak sekali IHSG mengekor bursa singapura dalam segala hal. Ini dimungkinkan dengan investor yang share dalam pasar yang sama, maka buruk-baiknya akan tidak beda jauh. Namun pada dalam bulan ini nampak ada perubahan besar di bursa saham Indonesia.

Diduga penguatan rupiah dan suksesnya beberapa emiten meningkatkan jumlah saham, telah membuat IHSG tumbuh positif bulan ini. Diperkirakan kondisi ini akan terus berlanjut, mengingat akhir tahun dan window dressing yang akan mendorong pergerakan di bursa Indonesia. Namun naiknya suku bunga amerika bisa menjadi tantangan ke depan.

Ini ditandai dengan tekanan yang makin kuat pada rupiah akhir-akhir ini, sehingga membuat laju pergerakan IHSG terhambat. Memang persoalan rupiah dengan suku bunga amerika ini sulit terpecahkan. Meski dengan berbagai paket kebijakan, tak mampu menjinakan pergerakan dollar-rupiah yang semakin liar.

IHSG dalam beberapa hari ini juga tertekan pada persoalan rupiah yang makin iminen. Besar kemungkinan beberapa investor akan mengurangi share sahamnya ke posisi dollar sampai isu kenaikan suku bunga amerika ini terjadi. Besar kemungkinan pula IHSG akan bergerak sangat lambat, meski masih dalam posisi yang positif.

Setidaknya bisa keluar dari posisi terburuk adalah hal yang bisa dibanggakan. Meski performanya boleh dibilang paling jelek dalam beberapa tahun ini. Sampai-sampai pemerintah cukup gusar dengan menembak kiri-kanan atas performa IHSG yang tak kunjung membaik. 

Isu suku bunga deposito yang dikemukakan, tak lain adalah bentuk kekuatiran pemerintah atas kinerja IHSG yang tak kunjung membaik. Padahal IHSG adalah patokan bagi investor melihat kondisi ekonomi Indonesia. Memang kondisinya masih belum begitu membaik, meski melambat masih bisa tumbuh.

Investor akan melihat  IHSG sebagai tolok ukur sebelum melakukan investasi secara riil. Diduga banyak FDI atau foreign direct investment yang menunda pelaksanaannya sampai kondisi IHSG membaik. Ini tampaknya disikapi dengan gusar oleh pemerintah dalam memperbaiki kinerja IHSG agar investor bisa percaya dan cepat masuk kembali ke Indonesia.

Thursday, November 26, 2015

Terjebak dalam Investasi Busuk

Tidak semua portofolio investasi sesuai dengan harapan yang diinginkan. Kadangkala harus bertemu dengan investasi busuk, bila tetap dipegang tidak menghasilkan dan kalau dijual masih merugi. Kondisi ini tentunya menjadi dilema, berada dalam pilihan-pilihan yang buruk untuk segera keluar dari investasi busuk ini.

Dalam kondisi ini tentu saja perlu analisa mendalam tentang prospek investasi busuk ini kedepannya. Bila memang tidak ada harapan dalam jangka pendek, coba dulu melihatnya pada prospek jangka menengah atau jangka panjang. Bisa jadi masih memberi hasil, maka tidak ada salahnya untuk tetap dipegang, dengan berharap ini bisa menguntungkan di jangka panjang.

Namun bila prospeknya sudah sangat buruk, baik dalam jangka pendek maupun jangka menengah, maka jangan berharap lagi untuk jangka panjang. Pertimbangannya terlalu lama untuk berharap pada investasi yang kadang sudah overvalue saat dibeli. Ini berakibat tidak akan mengalami pertumbuhan sama sekali dalam jangka pendek maupun jangka menengah. Lalu buat apa pula menunggu terlalu lama untuk sesuatu yang tidak pasti, bila masih meragukan prospeknya memang lebih baik segera dijual.

Kadang perlu dijual rugi untuk bisa mengambil posisi investasi yang menguntungkan. Ini tentunya dengan syarat akan adanya portofolio yang lebih menjanjikan prospeknya. Disini memang perlu kajian mendalam, agar jangan sampai jatuh di lubang yang sama, ketemu lagi dengan investasi busuk pada portofolio yang akan dibeli.

Di pasar saham memang sangat banyak portofolio investasi yang menjanjikan, meski kebanyakan memang sudah digoreng hingga melebihi dari nilai yang sebenarnya. Namun seringkali pula memiliki prospek yang menjanjikan, hanya kadang tersembunyi oleh sentiment negative yang lebih besar. Contohnya pada saat ini dimana ekonomi sedang melambat, beberapa saham lapis dua sangat bagus prospeknya.

Saham lapis dua ini memang masih kalah dengan saham unggulan yang memiliki prospek lebih jelas. Pada beberapa kasus, justru saham lapis dua ini memiliki pertumbuhan yang lebih baik. Semua ini karena sentiment negative ekonomi global sehingga investor biasanya berpegang pada saham unggulan yang lebih aman dan menguntungkan.

Menabur Investasi, Menuai Kerugian

Sudah cukup lama pertumbuhan IHSG masih minus, sehingga menimbulkan keresahan di pemerintahan. Munculnya ide suku bunga deposito yang lebih rendah adalah buah dari keresahan ini. Padahal persoalannya bukan masalah bunga deposito, memang kondisi riil yang melambat membuat pertumbuhan bursa saham tidak menggembirakan.

Ini sudah disikapi oleh investor asing jauh-jauh hari sebelumnya. Memang sebagian besar investor asing yang mengais rejeki di bursa saham Indonesia tidak sepenuhnya kembali sejak “black Monday” yang lalu. Kebanyakan lebih memilih portofolio investasi lainnya di luar Indonesia.

Ini terlihat dari perkembangan IHSG yang terseok-seok dibandingkan bursa utama asia maupun dunia lainnya, nampak posisi IHSG paling terbelakang. Ini tentu pukulan yang sangat serius bagi pemerintahan saat ini, soalnya di pemerintahan sebelumnya mampu mencatatkan pertumbuhan bursa yang spektakuler, bahkan pernah menjadi yang terbaik di seluruh dunia.

Kondisi ini tentunya bisa dikatakan masa sulit, meski banyak kalangan ekonom melihat shifting policy yang tidak “smoothly”. Banyak investor asing yang dibuat ragu dengan arah kebijakan pemerintah ini, terutama sebelum reshuffle cabinet, membuat investor asing lari tunggang langgang dan tak kembali lagi. Perubahan tim ekonomi juga masih disikapi dengan hati-hati.

Ada beberapa investor asing yang kembali memburu beberapa saham unggulan hingga membuat rupiah melonjak ke level lebih baik. Namun tetap saja tidak mampu memperbaiki minusnya pertumbuhan saham yang masih menjadi yang terbelakang. Besar kemungkinan kondisi ini akan semakin berlarut, ini mengingat indicator makro yang masih tidak menggembirakan sampai akhir tahun, apalagi dengan target pajak yang jauh tidak tercapai.

Ini membuat kondisi anggaran dalam pertaruhan, bisa saja utang akan membengkak dengan cepat. Namun konsekwensinya akan memberatkan neraca keuangan dan berdampak pada perekonomian ke depannya. Memang serba sulit hingga wajar pemerintah mengambil ide ekstrim tanpa menimbang kondisi indicator ekonomi yang sedang berjalan.

Andai bunga deposito dibikin nol persen sekalipun orang belum tentu mau masuk ke bursa. Buat apa menabur investasi yang beresiko, bila pada akhirnya akan merugi. Justru dengan kondisi ekonomi yang masih melambat ini, investasi yang berpendapatan tetap adalah pilihan investasi yang tepat.

Wednesday, November 25, 2015

Lemahnya Transparansi di Perusahaan Negara

Sudah lama perusahaan Negara atau BUMN menjadi lahan bisnis yang menggiurkan bagi para elit politisi dan kroni-kroninya. Meskipun sudah mulai berubah dan bergerak menuju keterbukaan, namun isu transparansi masih mengemuka. Banyak transaksi mencurigakan yang berujung dari nepotisme atau hubungan bisnis dengan manajemen BUMN.

Memang Negara memiliki kuasa atas modal yang ditaruh di BUMN dengan menempatkan wakilnya di perusahaan tersebut, namun kondisi ini cenderung disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Ini membuat BUMN lebih dari rekening para pemegang kekuasaan. Kondisi ini sudah berlarut-larut hingga membuat banyak BUMN ini sudah sangat kronis operasionalnya.

Siapapun yang berkuasa tetap tak rela melepaskan pengaruh untuk mendapatkan dana dari BUMN tersebut. Penempatan wakil pemerintah di BUMN tak lebih dari ajang memeras daripada mengembangkan BUMN ini lebih maju. Ini artinya BUMN tak lebih dari sebuah perusahaan politis dan menjadi milik penguasa.

Padahal harusnya sudah dipisahkan antara kepentingan politis dan pengawasan yang lebih professional. Justru penempatan komisaris independent bisa lebih baik dari para komisaris yang ditunjuk oleh pemerintah. Mungkin perlu perubahan menyeluruh atas aturan dalam pengelolaan BUMN yang lebih baik.

Aturan yang lebih terbuka dengan menempatkan orang-orang yang kapabel di bidangnya, bahkan kalau perlu BUMN sudah harus diprivatisasi. Ini untuk membuat BUMN menjadi perusahaan yang lebih terbuka dan lebih transparan dari transaksi-transaksi yang mencurigakan antara manajemen BUMN dengan kroni-kroninya. Sampai saat ini boleh dibilang masih terjadi transaksi mencurigakan dan tender terselubung yang dilakukan oleh manajemen BUMN.

Ini bukan rahasia lagi, soalnya hanya meng-gemuk-kan para subkontraktor yang notabene milik orang-orang dilingkaran kekuasaan dan manajemen BUMN. Tentu saja akan sulit ditelusuri bukti akan transaksi mencurigakan ini, soalnya semua dilakukan di bawah tangan dengan sepengetahuan manajemen BUMN. Isu ini sudah lama terjadi, tapi sulit untuk diberantas karena pihak penguasa memiliki kepentingan akan hal ini.

Disini memang pentingnya BUMN menjadi perusahaan terbuka, lebih transparan atas transaksi bisnis yang dilakukan dengan mitra bisnisnya. Sudah saatnya memutus mata rantai BUMN dari pengaruh kepentingan politis dan menempatkan BUMN sebagai ujung tombak penggerak ekonomi. Bila ini bisa dilakukan, akan banyak BUMN yang tumbuh besar menyamai BUMN Negara tetangga.

Tidak Online, Bisnis akan Gulung Tikar

Boleh saja core bisnisnya masih mengandalkan cara konvensional dalam mengembangkan usahanya. Namun tanpa akses ke dunia maya, bisnis tersebut akan segera gulung tikar. Persaingan usaha akan semakin ketat, tidak saja dari luar tapi juga dari dalam bisnis itu sendiri.

Sekarang ini begitu mudah orang memiliki akses ke ponsel dan internet, orang beralih dari cara-cara konvensional dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, ke cara online yang lebih cepat dan murah diakses. Fenomena ini sudah lama terjadi, bila bisnis atau perusahaan tidak berubah ke online maka akan semakin tertinggal dengan para kompetitornya.

Contoh yang tampak sangat jelas adalah kehadiran ojek online, yang mampu menggusur pendapatan bisnis transportasi yang sudah ada, bahkan mampu menggoyang sebuah perusahaan angkutan yang sudah melantai di bursa. Tentunya fenomena ini hanyalah sebagian kecil dari tanda pentingnya akses ke dunia maya bagi semua bisnis, apapun jenisnya, baik bisnis jasa maupun penjualan barang.

Sebenarnya tidaklah terlalu mahal untuk membuka akses bisnis ke dunia maya. Apalagi banyak portal internet yang menyediakan secara gratis dengan persyaratan terbatas atau yang berbayar dengan beberapa kelebihan sesuai biaya yang dikeluarkan. Bila masih meraba-raba sampai dimana sumbangan akses online ini bagi bisnis, bisa dimulai dari yang gratis, kemudian dikembangkan ke lebih professional.

Intinya tentu saja mengikuti kompetisi yang sedang berjalan, semua bisnis sudah online dengan berbagai kelebihan dan kemajuan yang didapatkan. Pada dasarnya memang memanjakan konsumen, mempermudah akses untuk mendapatakan pelayanan atau barang yang dibutuhkan. Tentunya dengan kondisi penawaran yang sama, mereka yang memberikan layanan yang lebih praktis dan murah akan memenangkan persaingan ini.

Memang masih ada saja perusahaan yang membebankan ongkos atau biaya akses online ke konsumennya. Ini bisa dimaklumi dengan pengeluaran biaya investasi layanan yang sangat besar, butuh banyak aliran pemasukan untuk menjalankannya. Namun pada akhirnya, konsumen akan memilih yang lebih baik dan murah.

Disini kembali bisnis atau usaha, harus memiliki visi pula dalam menyediakan layanan dan biaya yang harus dikeluarkan. Ada banyak program atau software yang tidak berbayar tapi memang cukup sulit maintenance-nya. Butuh skilled staff dan biaya di awal yang cukup besar, tapi sangat murah pengeluaran selanjutnya. Pilihan layanan ini akan selalu ada, dan bisa disesuaikan dengan kemampuan usaha atau bisnis tersebut.

Tuesday, November 24, 2015

Ekonomi Stagnan, Investasi Berpendapatan Tetap jadi Pilihan

Tiada yang bisa menduga ekonomi yang melambat ini akan berakhir, bahkan bisa semakin memburuk. Ini membuat orang malas berinvestasi dan memilih usaha atau bisnis yang pasti-pasti saja. Salah satunya adalah investasi di portofolio berpendapatan tetap.

Setidaknya modal yang disimpan akan tetap menghasilkan, daripada beresiko bahkan merugi. Seperti investasi di bursa saham yang masih minus lebih dari 10 persen dalam setahun ini. Bukan tidak mungkin kondisinya bisa semakin memburuk, soalnya tidak ada tanda-tanda perbaikan, bahkan indikator cederung tidak mengembirakan.

Bicara soal harapan, semua akan berkeinginan untuk optimis, tapi harus tetap pula didasari atas pijakan yang valid. Keajaiban tidak bisa diharapkan dalam perekonomian selama indikatornya masih kurang menyenangkan. Justru dengan tetap berinvestasi dan memiliki pilihan yang aman, maka modal atau kekayaan akan tetap tumbuh.

Banyak investasi berpendapatan tetap yang masih lebih menguntungkan daripada pasar saham yang masih minus pertumbuhannya. Boleh saja memberitakan bahwa pasar saham bisa membuat nilainya berlipat-lipat. Itu dulu saat sedang booming, masa itu sudah berlalu.

Ekonomi sudah mencapai peak atau puncaknya, dan tidak ada kemungkinan untuk didorong lebih ke atas. Siklusnya akan menurun dulu sebelum bertahap untuk berkembang. Persoalannya masa penurunan atau perlambatan ini tidak bisa diduga waktunya, bahkan mungkin cenderung merosot lebih dalam.

Ekonomi akan tetap dihadapkan pada realita, memang pasar saham adalah investasi pada sebuah harapan. Di saat harapan sudah mencapai puncaknya, mau kemana lagi akan dibawa harapan tersebut. Bila kondisi riil masih sangat tertinggal, jangan harap harapan akan bisa dicapai, yang ada adalah turun dulu sebelum kembali tumbuh.

Ada semacam efek domino atas kondisi ekonomi yang terjadi, hanya perkecualian pada sektor konsumsi dimana orang akan tetap makan, maka disinilah investasi berpendapatan tetap bergantung. Buat apa beresiko untuk investasi yang masih rugi, meski dengan janji yang menggiurkan. Justru lebih baik realistis, dan melihat investasi dari sisi peluang yang ada.

Jangan mudah percaya akan janji yang tanpa didasari data yang jelas dan akurat. Jangan pula tergiur atas hal-hal yang sudah berlalu. Kenyataan dan data harus terus dikedepankan agar investasi tetap menghasilkan.

Monday, November 23, 2015

Jalan Berliku Industri Pesawat Terbang Indonesia

Sepertinya pengembangan industri pesawat nasional bakal mengikuti nasib mobnas yang terbengkalai di tengah jalan. Ini karena kurang terlihat visi, kurang mengikuti pasar dan lebih bersifat politis. Memang industri pesawat terbang bisa masuk kategori proyek mercusuar, dengan membanggakan sebagai salah satu Negara asean yang bisa bikin pesawat.

Padahal dana pengembangan industri pesawat nasional ini tidaklah sedikit. Pada akhirnya saat masalah keuangan mendera, maka perjalanannya akan mandek seperti yang sudah-sudah. Sebelumnya laju industri pesawat terbang juga dihentikan saat sudah membuat prototype yang sudah siap terbang.

Memang masuk kategori proyek mercusuar, karena hanya gaya-gayaan dan tidak melihat market yang berkembang. Boleh saja akan ada pesanan yang bakal ngantri saat prototipenya sudah siap terbang. Namun pada akhirnya kembali ke persoalan harga, biaya perawatan dan manajemen pengelolaan pesawat yang mahal.

Kondisi ini juga terjadi pada industri mobil nasional yang berhenti di tengah jalan. Persoalan klasik akan selalu mendera, reabilitas pesawat dan efisiensi bisa menjadi hambatan yang sangat besar. Harusnya manajemen dan pengambil keputusan di industri pesawat terbang bisa berkaca dari yang sudah-sudah.

Mereka bisa berkaca pada nasib industri mobil nasional yang mati suri. Bukan masalah dana atau teknologi, tapi kembali pada reabilitas dan efisiensi. Dengan persaingan di industri sejenis, kita sebenarnya sudah tertinggal jauh. Kita tidak memiliki basic industri manufaktur yang mumpuni, sehingga meski sudah namanya mobnas atau pesawat nasional, komponennya masih diimpor.

Industri nasional tak lebih dari tempat perakitan saja, karena kita membiarkan industri dasar atau industri manufaktur hancur oleh serbuan produk cina. Lalu apa yang bisa dibanggakan bila hanya merakit saja, bila Negara asal komponen tak mau memberi ijin ekspor maka matilah industri pesawat terbang tersebut. Semua ini harusnya menjadi pertimbangan sebelum menghamburkan dana rakyat hanya untuk publisitas atau nasionalisme dangkal.

Ditenggarai banyak proyek pemerintah yang hanya bersifat gaya-gayaan, banyak proyek mercusuar yang masuk dalam anggaran belanja Negara dengan imbal balik yang minim bagi laju perekonomian. Pada akhirnya akan kembali pada persoalan keuangan, utang yang semakin membengkak, karena memang pola pembelanjaan yang tidak produktif. Anggaran Negara tidak digunakan secara ekonomis sehingga terbelenggu oleh pertumbuhan yang minim, inflasi yang tinggi dan ekonomi menjadi stagnan.