Pages

Sunday, November 22, 2015

Dilema Freeport dikelola BUMN

Sebenarnya pengelolaan Freeport sudah waktunya diserahkan ke Indonesia. Hanya memang menjadi dilemma saat BUMN yang harus mengelola industri tambang raksasa ini. Bukan karena BUMN tidak mampu, tapi karena manajemen atau SDM BUMN yang masih kurang professional, bisa membuat nasib Freeport seperti pertamina nantinya.

Siapapun tahu bagaimana pertamina yang merupakan BUMN besar dengan monopoli di usaha minyak, tapi pada akhirnya hanyalah perusahaan gendut tak bertenaga. Pertamina masih kalah dengan petronas, yang sebenarnya anak asuh sebelumnya. Pertamina tidak berkembang karena memang tidak dikelola secara professional, terlalu banyak kepentingan didalamnya.

Sebagai BUMN memang wajar peran Negara atau pemerintah dalam hal ini, tapi harusnya tidak sampai mengurusi hal-hal operasional. Harusnya pemerintah mengedepankan pengawasan daripada ikut mencampuri dapur BUMN yang hanya membuat perusahaan Negara ini tidak berkembang. Namun persoalan monopoli juga membuat BUMN ini semakin kalah bersaing dengan diri mereka sendiri.

Sudah banyak BUMN yang meminta PMN dan hanya memberatkan anggaran belanja Negara. Sumbangsihnya pada Negara amat minim, kebanyakan inefisiensi karena memang amburadul pengelolaannya. Mungkin sebaiknya BUMN ini dijadikan sebagai perusahaan terbuka, agar bisa ditingkatkan pengelolaannya sekaligus menjauhkan dari campur tangan politis.

Mungkin benar adanya penunjukan komisaris BUMN oleh pemerintah, tapi hendaknya diisi oleh orang yang kompeten di bidangnya. Juga harusnya diimbangi dengan komisaris independent untuk memutus mata rantai KKN atau nepotisme di dalam perusahaan Negara. Sudah lama BUMN ini kalau subkontrak proyek akan jatuh ke orang itu-itu saja, dalam hal ini orang yang memiliki hubungan dengan pejabat BUMN.

Tentunya ini yang menyebabkan inefisiensi dan korupsi, soalnya pasti akan ada penggelembungan harga tender subkontrak atau markup untuk menutup komisi pihak-pihak yang terkait. Inilah yang menyebabkan BUMN diragukan bisa membuat Freeport berkembang lebih besar lagi. Soalnya itu tadi inefisiensi dalam manajemen operasional yang hanya membuat perusahaan tambang raksasa ini, sama nasibnya seperti pertamina. Hanya jadi katak dalam tempurung, besar karena monopoli.

Sebaiknya memang Freeport menjadi perusahaan publik, dengan sahamnya dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Ini bisa dilakukan dengan IPO 51 persen sahamnya di bursa efek Indonesia. Biarkan masyarakat yang memiliki Freeport dan dikelola secara terbuka dan professional.

Saturday, November 21, 2015

Kerjasama RI-Cina Tercoreng Defisit Perdagangan yang Membengkak

Banyak pihak yang mulai meragukan kualitas hubungan RI-Cina yang semakin mesra ini akan menguntungkan Indonesia. Defisit perdagangan yang makin membengkak adalah pangkal persoalan. Ini membuat RI tekor banyak dan hanya menjadi pasar dari industri Cina.

Akibat dari membanjirnya produk cina yang murah ini, diduga telah menghantam industri nasional Indonesia. Banyak PHK terjadi akhir-akhir ini dengan penyebab dari industri kita yang kalah bersaing dengan Produk murah cina. Diduga tidak hanya produk legal yang membanjiri pasar domestik, tapi produk yang illegal jauh lebih banyak lagi.

Persaingan yang ketat di antara importir nasional hingga menghalalkan segala cara dalam mendapatkan produk cina yang lebih murah. Modusnya amat banyak dari mulai impor bahan baku setengah jadi yang sebenarnya hanya rekayasa untuk mengelabuhi larangan impor barang jadi. Semua ini sebagai reaksi dari hubungan perdagangan dengan cina yang sudah tidak terkontrol.

Banyak aturan impor yang berhasil didiktekan oleh bisnis besar hingga aliran produk cina semakin tak terbendung. Apalagi di tengah birokrasi yang rentan akan pengaruh luar, semakin membuat kebijakan impor tidak terkontrol. Defisit perdagangan dengan cina yang membengkak ini seakan dianggap angin lalu, bahkan dengan korban yang sudah berjatuhan seperti hancurnya industri nasional dan PHK masal, bukan menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan.

Impor terbesar Indonesia berasal dari Cina dan terbesar pula defisitnya, namun ironinya justru ekspor Indonesia ke cina masih kalah dengan ekspor Indonesia ke Amerika. Memang ekspor ke Amerika menjadi penyokong dalam mengurangi defisit perdagangan dengan Cina. Tidak heran bila pemerintah ingin bergabung dengan TPP, lebih menguntungkan dari sisi perdagangan dalam mengenjot ekspor.

Politik perdagangan kita memang amat lemah dalam melihat defisit perdagangan dengan cina yang semakin membengkak. Diduga beragam kerjasama bisnis yang berujung pemberian loan dengan bunga rendah, membuat pemerintah tak berkutik dalam menghadapi defisit neraca perdagangan dengan cina. Tentu saja ada rasa “pakewuh” bila harus complain masalah defisit perdagangan dengan cina.

Padahal defisit perdagangan dengan cina ini sudah bukan main-main lagi, angkanya sudah sangat mengkhawatirkan. Potensi kerugian terhadap ekonomi nasional semakin besar, semakin dibiarkan defisitnya akan semakin membengkak. Perlahan tapi pasti akan semakin banyak industri nasional yang akan gulung tikar dan jangan menyesal bila angka pengangguran akan semakin besar pula serta bisa menimbulkan dampak sosial yang mengerikan.

Friday, November 20, 2015

Cepat Kaya di Investasi Trading Online?

Bagi yang ingin memiliki tambahan income dari usaha sampingan, trading online merupakan solusi yang tepat. Tidak perlu keluar rumah atau meninggalkan pekerjaan yang ada, trading online bisa dilakukan kapan saja dan dimanapun. Persyaratan yang flesibel inilah membuat trading online menjadi favorit investasi banyak orang.

Hanya saja untuk bisa profit atau untung dari trading online butuh ketrampilan dan analisa yang mumpuni. Tanpa pengetahuan dan keahlian dalam menganalisa pasar bisa membuat trading online menjadi pintu kebangkrutan. Ini sudah terjadi pada banyak orang, mereka menyerah saat profit yang diharapkan tak kunjung datang.

Sebenarnya ada rahasia dibalik trading online yang bisa menguntungkan dan bisa pula merugikan. Kuncinya terletak pada strategi yang dimainkan oleh “Bandar”, dalam hal ini host dari trading online ini. Kebijakan atau policy yang diterapkan oleh Bandar bisa dipelajari sebelum terjun secara serius di trading online.

Mulai dari fee transaksi, fee deposit, fee withdraw, sampai algoritma dari system trading. Semua ini bisa dipelajari dan didapatkan celahnya, sehingga bisa menjadi pintu untuk bisa untung dalam trading. Memang begitulah teknis yang harus dilakukan bila ingin untung di trading online.

Apapun jenis trading online, baik itu emas, forex, bitcoin, saham atau komoditas lainnya. Setiap system ada kelemahan dan itu yang harus dipelajari dulu, bisa diawali dengan porsi kecil sebelum main ke porsi yang lebih besar. Jangan tergiur untuk cepat kaya, namun menyukai tantangan adalah hal yang harus dikedepankan.

Trading online itu memang sangat tricky, Bandar biasanya tidak mudah untuk dikalahkan. Dia memiliki banyak kaki dan tangan untuk mempengaruhi trading, butuh kesabaran untuk tetap mencari celah dan tetap fokus pada celah tersebut. Beberapa yang terlalu bernafsu ingin cepat kaya akan berarkhir dengan kebangkrutan.

Kuncinya memang pada kesabaran dalam melihat celah yang ada. Banyak yang sukses dari trading online ini sehingga membuat beberapa broker masuk ke trading online. Mereka menggunakan dana nasabah untuk bermain di trading online ini, karena memang keuntungannya bisa mengiurkan, bisa menutupi kerugian pada saham yang sedang minus.

Rumor Penggerak Pasar yang Ampuh

Rumor adalah berita yang tidak bisa dipercaya dan tidak diakui keakuratannya, namun seringkali menjadi motor penggerak pasar. Tidak jarang investor lebih mempercayai berita rumor ini daripada laporan keuangan emiten. Padahal ini bisa menjadi bumerang manakala saham yang dikoleksi akhirnya masuk kategori saham busuk.

Kondisi ini berlaku pula di pasar keuangan lainnya, seperti trading forex, emas atau jenis lainnya. Begitu gampangnya pemain atau investor ini digoyang keyakinannya oleh rumor yang belum pasti kebenarannya. Tentu saja ada pihak-pihak yang diuntungkan, dalam hal ini pemain di dalamnya atau broker yang mempunyai kepentingan atas komisi dari investor.

Rumor memang bisa menjadi penggerak pasar yang ampuh, dan ini dilakukan oleh banyak pihak. Dalam sebuah trading floor seringkali keputusan yang dibuat dipengaruhi secara kuat oleh rumor. Tak peduli itu posisi yang dipegangnya sedang bagus, bila arah angin berhembus kelain arah, maka buyarlah keyakinan itu.

Broker yang berpengalaman bisa memanfaatkan hal ini atau menggunakan rumor ini. Demikian pula sebaliknya, broker yang mengerti rumor ini akan bisa menelaah dengan cepat berita ini sambil memasang posisi yang aman untuk ke depannya. Namun pihak yang paling lemah dalam menangkap rumor ini seringkali menjadi korban.

Ini bisa diambil contoh kasus rupiah yang secara eksplisit lebih dikendalikan oleh rumor daripada kondisi rupiah yang sebenarnya. Memang benar posisi rupiah sedang melemah, namun gara-gara rumor posisinya bisa lebih buruk. Sesuatu yang buruk bisa dihubung-hubungkan hingga menjadi sentiment negative bagi rupiah.

Begitulah kalau trading di pasar keuangan, apalagi yang online dimana pemainnya atau brokernya bisa saling berkomunikasi, maka peran rumor akan semakin besar. Saat broker yang berkepentingan ingin menggerakan pasar, hanya dengan berita satu arah bisa membuat pasar bergerak dengan cepat. Tidak heran situasi di trading ini bisa sangat kacau, panik sehingga keputusan yang dibuat bisa beresiko menjadi blunder.

Ada dilemma dijual bisa rugi kalau tidak dijual akan rugi banyak. Biasanya ini membayangi trader jangka pendek yang akan “loss” bila terlambat dalam mengambil sikap. Disini pasar jangka pendek digerakan oleh rumor yang sebenarnya belum tentu benar atau akurat.

Thursday, November 19, 2015

Dampak Teror, Pemeriksaan di Bandara diperketat kembali

Mengulang kisah teror di amerika, pemboman atas pesawat rusia dan teror Paris telah membangunkan kembali kesiagaan di bandara. Pemeriksaan kembali diperketat dengan waktu screening yang lebih lama dari sebelumnya. Bisa jadi lebih lama waktu screeningnya dibandingkan lamanya penerbangan.

Namun yang perlu diperhatikan, penumpang pesawat wajib check-in lebih awal, agar memiliki waktu yang lebih longgar dengan saat boarding. Ini tentunya agar tidak sampai ketinggalan pesawat. Juga saat transit untuk ganti pesawat, usahakan tidak belanja dulu karena masih ada screening lagi. Semua ini memang gara-gara aktifitas teror yang semakin meluas.

Waktu perjalanan dengan pesawat terbang tidak bisa diharapkan lebih cepat lagi, ini terutama dengan penerbangan internasional. Namun diperkirakan tak begitu berpengaruh pada dunia pariwisata. Hanya memang adanya peningkatan pemeriksaan di bandara ini bisa mengurangi rasa nyaman perjalanan dengan pesawat terbang.

Bagi turis mungkin masih memiliki waktu lebih longgar dibandingkan mereka yang melakukan perjalanan bisnis. Waktu adalah uang mungkin akan berbentur dengan waktu adalah keselamatan dalam perjalanan. Semua akan rela mengorbankan waktunya demi mendapatkan rasa aman yang sekarang semakin mahal dan sulit didapat.

Terjadinya teror Paris memang tidak terduga, bahkan pihak intelejen Prancis maupun Amerika tak mendeteksi adanya sinyal akan adanya serangan tersebut. Hanya pihak Israel yang mencium gelagat serangan tapi terlambat untuk berkoordinasi. Perlu juga diperhatikan, teror tidak lagi memandang siapa secara individu.

Saat ini teroris banyak mengincar kawasan landmark untuk menaikan popularitas mereka. Diduga ini menyangkut funding, dari ulasan banyak kalangan memang menyarankan untuk menghindari tempat wisata popular yang mungkin menjadi target para teroris. Hindari keramaian di kawasan wisata yang memiliki rasio resiko lebih tinggi dibandingkan daerah wisata yang sepi pengunjungnya.

Untuk sementara dampak aksi teror paris akan berpengaruh pada kunjungan wisata di tanah air. Disini pemerintah harus segera merespon dengan meningkatkan kesiagaan, memberi sinyal ke publik bahwa ada respon positif untuk menjaga keselamatan dan keamanan dari ancaman teroris. Tindakan yang tepat secara implisit akan meningkatkan kepercayaan turis terutama wisman akan keseriusan pemerintah menjaga keselamatan para turis.

Divestasi Saham Freeport lewat pasar modal lebih Menguntungkan dibandingkan Diambil Alih oleh Negara

Kekayaan alam yang vital memang pantas dikuasai oleh Negara, tapi tidak oleh BUMN. Dalam sejarahnya SDA yang melimpah tidak melahirkan perusahaan raksasa seperti yang terjadi di Negara lain. BUMN lebih sekedar hanya sapi perah kepentingan politik hingga tidak pernah berkembang seperti BUMN di Negara lainnya.

Lihat saja Petronas yang bisa mengalahkan Pertamina, ini bukan karena SDA Malaysia lebih besar dari Indonesia. Namun Petronas memang dikelola oleh SDM yang mumpuni dan jauh dari kepentingan politis. Apalagi kalau dibandingkan dengan BUMN-nya Singapura, maka lebih tidak ada apa-apanya.

Semua ini karena kepentingan politis sudah berurat akar di BUMN kita. Setiap tender yang diadakan tidak pernah efisien, subkontrak akan jatuh ke orang itu-itu saja, meski ditenderkan dengan cara apapun. Itulah BUMN kita, sehingga inefisiensi dan mismanajemen membuat perusahaan Negara tidak pernah berkembang.

Sudah berkali-kali BUMN selalu minta suntikan modal dari Negara, istilahnya juga dari rakyat. Tanpa pernah memberikan perkembangan yang menggembirakan. Jauh dari BUMN tetangga sebelah yang bisa dikelola secara professional. Kondisi ini bisa terjadi bila Freeport diambil alih oleh Negara, situasinya akan sama seperti pertamina.

Freeport yang sekarang berkembang dengan cepat karena memang dikelola secara professional oleh orang-orang yang berada dibidangnya. Ini sebenarnya yang harus dijaga kelangsungannya agar bisa memberikan sumbangsihnya bagi Negara. Ide divestasi lewat pasar modal jauh lebih menguntungkan daripada diambil alih oleh Negara yang nasibnya bisa sama seperti Pertamina.

Dengan divestasi dan sahamnya dipegang oleh publik, maka Freeport akan tetap menjadi perusahaan publik. Freeport akan dikelola orang yang ahli di bidangnya, bukan orang-orang titipan parpol yang hanya akan memperburuk perkembangan Freeport. Tentu saja dengan divestasi, kendali Freeport akan berada di tangan Negara, namun dengan juga dimiliki publik maka akan membuat perusahaan ini tetap terbuka.

Freeport harus terus berkembang dan dikelola secara professional. Seluruh menajemennya adalah orang-orang yang ahli di bidangnya, dan tak boleh orang politik masuk di dalamnya. Demikian pula dengan seluruh BUMN yang seharusnya diisi oleh orang-orang yang kompeten.

Wednesday, November 18, 2015

Sentimen Negatif Bermunculan, Rupiah Kembali Melemah

Setelah menikmati masa stabil beberapa minggu, akhirnya rupiah kembali melemah. Kali ini dengan tekanan yang semakin berat. Sebelumnya isu suku bunga amerika menjadi sandungannya, tapi saat ini bertambah dengan isu terror yang semakin mengemuka.

Seperti kasus-kasus terror sebelumnya, dollar akan semakin perkasa. Demikian pula saat ini posisi dollar menguat hampir terhadap semua mata uang dunia. Amunisi dollar cukup banyak, dari rencana kenaikan suku bunga, sebagai mata uang safe haven saat situasi keamanan beresiko tinggi hingga kondisi perekonomian amerika yang membaik.

Memang nasib rupiah masih kurang beruntung, masa tenang dengan posisi rupiah yang stabil ini sudah berlalu. Rupiah kembali dalam spotlight, menjadi sorotan dengan kemungkinan terburuk menembus level terendah sebelumnya. Ini dimungkinkan dengan minimnya sentiment positif.

Pemerintah dengan dana yang besar, masih kurang responsif menyikapi kondisi ekonomi yang berkembang. Masih terlalu pede dan fokus dengan proyek infrastrukturnya, padahal kalau bisa bijak membelanjakan anggaran pada sektor ekonomi produktif, maka nasib rupiah bisa lebih baik. Pemerintah masih percaya model ekonomi “warung kopi” akan mampu mengundang investor dan menguatkan rupiah.

Pemerintah masih percaya dengan proyek infrastruktur akan mampu mengundang investor dan memperkuat rupiah. Namun kenyataannya rupiah kembali dalam tekanan berat dan balik ke level terendahnya. Kondisi ini akan jauh berbeda, bila pemerintah bisa memanfaatkan waktu yang sempit dan anggaran yang besar dengan menggerakan ekonomi produktif hingga bisa memperkuat rupiah.

Boleh dibilang pemerintah salah strategi dalam menghadapi masa depan rupiah yang semakin suram. Banyak Negara bisa dengan cepat konsolidasi saat tekanan terhadap mata uangnya mereda. Namun ini tidak dilakukan oleh pemerintah dan masih keukeuh dengan proyek infrastrukturnya.

Memang proyek infrastruktur sangat penting untuk memperbaiki perekonomian, tapi masih kalah urgensinya dengan membangun ekonomi produktif. Dalam beberapa minggu ke depan, konsentrasi pemerintah akan kembali terseret oleh pergerakan rupiah. Suatu persoalan yang sering terjadi dan pemerintah tak mampu untuk mengelolanya dengan baik, karena memang tidak memiliki strategi yang jitu dalam menghadang pelemahan rupiah lebih lanjut.