Pages

Thursday, October 8, 2015

Cadangan Devisa Turun Tajam buat Menghadang Pelemahan Rupiah

Rupiah dalam beberapa hari memang naik tajam hampir 5 persen. Diduga kenaikannya akibat dari intervensi BI di pasar keuangan. Tidak heran cadangan devisa turun cukup tajam untuk menahan pelemahan rupiah.

Posisi rupiah memang sangat kritis, dan berada di ambang psikologis yang memungkinkan jatuh lebih dalam bila tidak di-intervensi. Memang hasil yang diperoleh seimbang dengan penguatan rupiah. Meskipun sebenarnya untuk sementara waktu, karena rupiah akan bergejolak lagi.

Disini nampaknya para spekulan tersenyum senang saat cadangan devisa turun tajam. Ini berarti gejolak rupiah bakal bisa lebih besar saat kemampuan BI menjadi semakin terbatas untuk intervensi. Meskipun secara verbal BI akan intervensi lagi bila rupiah melemah, namun bisa jadi tak akan dilakukan atau intervensi dengan berat hati.

Posisi cadangan devisa yang terus tergerus sudah menandakan ada yang tidak beres di perekonomian Indonesia. Diduga manajemen fiskal yang buruk bisa menjadi penyebab utama. Diberitakan pula oleh BI, cadangan devisa juga dipakai untuk membayar utang dollar yang cukup banyak disamping untuk intervensi.

Ini pertanda buruk, bahwa pola pengelolaan utang sudah beresiko tinggi. Posisi utang yang sudah memberi gejolak pada rupiah dan indikator ekonomi, harus diwaspadai sebagai lampu merah dan harus segera diperbaiki tata kelolanya. Kebiasaan pemerintah menerbitkan surat utang sudah harus dikendalikan.

Utang yang membumbung tinggi, ibarat bom waktu yang bisa meledak seiring dengan gejolak rupiah. Bagaimanapun cadangan devisa akan menemui batasnya saat kebutuhan untuk membayar utang semakin tinggi, sedang pasokan dollar semakin turun akibat kinerja perdagangan yang buruk. Sudah beberapa tahun ini kinerja ekspor semakin menurun, oleh karena turunnya daya saing dan kebijaksaan ekonomi dari pemerintah sendiri yang kurang fokus.

Sebuah ironi saat rupiah melemah harusnya kinerja ekspor bisa ditingkatkan. Namun justru kebalikannya, kinerja impor yang semakin kuat. Ini membuat tata kelola fiskal menjadi semakin tidak sehat.

Utang yang membengkak dan impor yang tak terkendali akan menjadi bom waktu di kemudian hari. Tidak saja merusak ketahanan fiskal, juga merusak fundamental ekonomi ke depannya. Apapun alasannya budaya utang ini sudah harus dirubah, bukan lagi untuk menutup belanja APBN tapi fokus pada industri yang produktif.

Wednesday, October 7, 2015

Panen Raya Investor Asing di Bursa

Aksi beli investor asing masih terus terjadi di bursa saham. Diperkirakan mereka akan terus masuk memburu saham unggulan yang sudah sangat murah. Ini karena memang belinya pake dollar, dapat rupiahnya banyak sehingga dapat sahamnya sangat murah sekali.

Bukankah ini namanya untung besar, dengan memanfaatkan gejolak rupiah dan anjloknya harga saham di bursa. Pola ini sudah terbaca, saat capitol outflow dari emerging market dalam jumlah yang sangat besar. Ini mengikuti isu kenaikan suku bunga amerika, akibatnya rupiah melemah sangat dalam, diikuti bursa yang sudah secara massif ditinggalkan oleh investor asing.

Dalam kondisi ini investor asing berada dalam posisi yang paling menguntungkan. Saat masuk ke bursa, dollar mereka sudah sangat tinggi nilainya terhadap rupiah. Apalagi dengan posisi saham yang sudah turun hampir 20 persen dari awal tahun, maka harga saham sudah sangat murah sekali.

Para investor asing ini mengeruk dobel keuntungan, dari nilai tukar rupiah dan dari murahnya harga saham. Diperkirakan bila dihitung keuntungan investor asing ini bisa mencapai lebih dari 30-45 persen dalam menukarkan dollarnya dengan saham unggulan di bursa. Apalagi IHSG juga bergerak naik dengan cepat, maka bisa diperkirakan keuntungan para investor asing ini bisa bertambah 10 persen dalam beberapa hari-minggu kedepannya.

Memang pasar emerging market seperti Indonesia ini sangat mudah digoyang dan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Pola ekonomi konsumtif yang dianut oleh Indonesia memang sangat bermanfaat bagi investor asing. Meski secara ekonomi bagi Indonesia, pola ekonomi konsumtif ini sangat merugikan karena menjadi bulan-bulanan gejolak eksternal.

Diperkirakan bursa akan terus bergejolak lagi, ini mengingat dengan naiknya IHSG, maka posisi investor asing sudah untung lebih dari 50 persen. Mereka bisa dengan mudahnya keluar lagi memburu dollar, karena posisi dollar yang berbalik melemah sehingga sangat murah untuk dibeli. Posisi yang sudah untung ini memang menawarkan kemungkinan profit taking di bursa saham.

Apalagi dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang masih dangkal. Paket kebijakan ekonomi jilid 1, 2, 3 dan seterusnya masih belum menyentuh fundamental ekonomi, maka besar kemungkinan rupiah masih bisa bergejolak dan ini adalah peluang besar bagi investor asing meraih keuntungan. Dengan main dollar dan saham sudah untung banyak dalam waktu singkat.

Menghitung Batas Spekulatif Trend Penguatan Rupiah

Penguatan rupiah pada beberapa hari ini tak lepas dari masuknya investor asing di pasar keuangan, disamping peran BI lewat “operasi senyap”. Ini menandakan penguatan rupiah sebatas aksi spekulatif, bukannya akibat dari faktor fundamental dari ekonomi. Bila dilihat di grafik penguatan rupiah menunjukan fluktuasi yang sangat tinggi.

Terjadi lompatan yang tinggi atas permintaan rupiah yang melonjak tajam. Padahal tidak ada data resmi yang positif dari pemerintah yang bisa mendorong penguatan rupiah. Pasar keuangan lebih bergerak pada aksi spekulatif para pemainnya.

Diperkirakan pula volume perdagangan rupiah tidak terlalu besar, sehingga dengan mudahnya dipengaruhi oleh masuknya investor asing. Selama ini permintaan rupiah hanya sekadar masuknya investor asing, pinjaman dalam bentuk dollar dan kinerja ekspor yang tidak seberapa. Lain ceritanya bila Indonesia memiliki kinerja ekspor yang mumpuni seperti beberapa tahun yang lalu, maka tren penguatan rupiah bisa disebut fundamental atau tidak spekulatif.

Memang dalam periode ini kita tidak memiliki kinerja perdagangan yang bagus, sehingga masuknya dollar amat terbatas dan cenderung dari luar. Ini membuat potensi fluktuasi menjadi sangat tinggi, dan menjadi “barang dagangan” atau “taruhan” yang sangat menarik. Kemungkinan untuk melemah dan menguat sangat tinggi, sehingga resikonya sangat tinggi pula.

Mungkin kasusnya akan lain bila Indonesia bisa memperbaiki kinerja ekspornya maka tren pelemahan rupiah sejak 2011 bisa “dipatahkan”. Namun sayangnya pejabat ekonomi lebih memilih ekonomi konsumtif daripada ekonomi yang berorientasi ekspor, maka wajar tren pelemahan rupiah akan terus terjadi. Bisa saja ada penguatan rupiah, namun sifatnya akan terbatas.

Penguatan rupiah yang terjadi saat ini tak lebih dari kembalinya investor asing ke bursa,. Ini adalah reaksi balik dari akselerasi pelemahan rupiah, saat mereka secara teratur meninggalkan bursa beberapa bulan yang lalu. Lihat saja di grafik pelemahan rupiah yang mengalami akselerasi pelemahan yang begitu tinggi.

Kurvanya amat menyakinkan bahwa gejolak atau fluktuasi rupiah adalah ulah investor asing ini. Mereka bisa semaunya pergi dan datang dan membuat rupiah menjadi bulan-bulanan. Gejolak rupiah adalah bisnis bagi mereka, sedang bagi ekonomi Indonesia hanya menyebabkan gejolak perekonomian yang menyita waktu pejabat ekonomi hingga tak fokus dalam membangun perekonomian.

Tuesday, October 6, 2015

Penyebab Maraknya Ilegal Mining

Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa, hanya pembagian keuntungan ke bawah yang sering tidak fair. Wajar bila sering muncul illegal mining atau penambang illegal yang merusak lingkungan. Lha wong Negara sendiri yang memberi contoh tidak adil ini.

Negara sering mengeruk SDA sekuat tenaga tanpa mempedulikan nasib warga sekitar. Kebanyakan mereka mendapatkan “sampah” atau lingkungan yang hancur daripada royalty ataupun keuntungan dari eksploitasi SDA. Sentralisasi penambangan memang memunculkan penambangan illegal yang tidak puas dengan nasib yang tersisihkan.

Pada banyak kasus yang kaya dan makmur hanya segelintir orang dari penambangan legal ini. Tidak heran rasa iri dan cemburu membuat rakyat layak menentukan nasibnya sendiri. Lha wong Negara tak peduli dengan urusan perut mereka.

Ketidakadilan ini juga buah dari sempitnya lapangan pekerjaan dan kemiskinan di sekitar daerah tambang. Lagi-lagi Negara patut dipersalahkan, dalam hal ini pemerintah sebagai kepanjangan tangan dari Negara, bisa disebut sebagai pihak yang rakus, tidak fair dan membiarkan terjadinya illegal mining. Kesalahan pemerintah yang paling besar adalah tidak mendistribusikan hasil penambangan legal secara adil.

Saat muncul tuntutan dari warga sekitar tambang, pemerintah cuci tangan dengan melemparkan tanggung jawab ke pemerintah daerah. Ini menimbulkan dan memberi kesempatan munculnya “lintah” baru setelah pemerintah. Para pemerintah daerah ini menjadi sole agent yang mendayagunakan daerah tambang untuk keuntungan diri sendiri dan kelompoknya.

Para pemda ini muncul sebagai raja baru atau mafia atas pengolahan tambang. Siapapun yang melawan akan digencet bahkan dihilangkan nyawanya. Ini terbukti kasus-kasus penganiayaan, intimidasi pada mereka yang melawan aparat pemda dalam mengolah daerah tambang. Raja-raja kecil ini jauh lebih kejam dari pemerintah, karena menjadi penjajah bagi rakyatnya sendiri.

Demokrasi dan otonomi ternyata bisa memunculkan diktator-diktator baru di daerah. Apalagi dengan sokongan politik dari pusat, maka sulit sekali rakyat keluar dari tekanan para raja kecil ini. Negara yang harusnya hadir melindungi rakyatnya, malah memberi ruang dan kongkalikong menindas rakyatnya.

Perlawanan rakyat kecil ini bukan tidak mungkin akan semakin bergelora bila Negara tak mampu hadir melindungi rakyatnya. Percikan bunga api yang bisa membakar seluruh kehidupan sosial dan menghancurkan negeri ini. Sebaiknya Negara dalam hal ini pemerintah, melakukan evaluasi atas aturan tambang, pembagian royalty dan dampak penambangan bagi masyarakat sekitar.

Sudah saatnya penambangan illegal diberantas secara tuntas, jangan ada lagi yang jadi korban. Mereka yang sudah menikmati hasil tambang secara illegal, harus mendapatkan hukuman yang setimpal.

Korban PHK ini Sukses Buka Usaha Mie Ayam

Andri dua bulan yang lalu masih bekerja di perusahaan tekstil. Namun semenjak gonjang-ganjing rupiah, pabrik tempatnya bekerja gulung tikar dan dia salah satu yang menjadi korbannya. Saat ini dengan uang dari pencairan JHT digunakan sebagai modal usaha buka mie ayam.

Masalah modal dari pencairan JHT memang pas-pasan untuk buka usaha, maka Andri mencari lokasi usaha numpang di dekat pabrik pengolahan ikan. Kebetulan pabrik tersebut masih bisa bertahan dari gejolak rupiah. Justru bersinar karena memang orientasinya ekspor, sehingga masih banyak karyawan yang bekerja.

Kalau masalah pengalaman, andri sebelumnya pernah jualan soto sebelum bekerja di pabrik tekstil. Namun di lokasi tempatnya jualan sudah ada yang buka usaha soto, maka dia banting stir jualan mie ayam. Suatu pertimbangan yang nekad karena dia tahu resikonya bisa bangkrut bila usahanya tak laku.

Seperti biasa usaha kuliner juga memiliki resiko yang tinggi, bila tak laku tentunya modal usaha bisa melayang. Maka disini andri sangat hati-hati menggunakan uang hasil pencairan JHT tersebut semaksimal mungkin. Untuk beli rombong mie ayam dan peralatannya sudah menghabiskan separuh dari uang JHT.

Separuhnya digunakan untuk modal usaha, buat beli bahan-bahan usaha mie ayam. Memang kemampuannya memasak menjadikan modal tambahan untuk bisa bertahan hidup. Dulu juga sebenarnya pernah sukses jualan soto, hanya memang capek harus keliling dan tergiur dengan teman-temannya yang berbaju rapi kerja di pabrik tekstil.

Namun sekarang sudah tak peduli masalah baju kerja, yang penting ada penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Sebenarnya masalah jenis pekerjaan akan dijalani oleh siapapun korban PHK selama masih bisa menghasilkan uang. Apalagi di tengah sulitnya mencari pekerjaan karena memang banyak pabrik atau usaha yang gulung tikar.

Sektor UKM ini memang menjadi pintu utama para korban PHK untuk mencari penghasilan. Uang hasil pencairan JHT akan dengan mudahnya habis bila harus digunakan mencari pekerjaan dan mencukupi kebutuhan sehari-hari. Justru dengan buka usaha, uang bisa diputar, meskipun resikonya bisa bangkrut bila usahanya tidak jalan.

Monday, October 5, 2015

Rupiah Menguat Tajam

Diperkirakan rupiah “meng-KO” dollar hampir 2 persen pada perdagangan kemarin. Ditengah sentiment positif penundaan kenaikan suku bunga amerika. Ini akibat dari membaiknya data tenaga kerja di amerika yang membuat dollar “berhamburan” menyerbu emerging market.

Dari dalam negeri isu koreksi harga BBM diperkirakan akan mendorong rupiah menguat lebih jauh. Hal ini karena banyak opini yang melihat harga BBM saat ini sudah tidak ekonomis lagi, ditengah turunnya harga minyak mentah dunia. Namun simpang siur penurunan harga BBM ini masih tarik ulur dengan posisi rupiah yang masih fluktuatif.

Memang semua komponen ekonomi bagai asap yang tidak bisa dipegang keberadaan maupun posisinya. Ini membuat rupiah akan terus menjadi komoditas spekulatif di pasar mata uang. Lebih banyak rupiah tertekan daripada menguat dalam beberapa bulan ini.

Hal ini membuat posisi rupiah sudah mengalami depresiasi lebih dari 20 persen dalam setahun ini. Memang penguatan 2 persen masih belum apa-apa, masih sangat jauh dari posisi terbaiknya pada setahun yang lalu. Namun setidaknya memunculkan harapan akan sinyal positif membaiknya posisi rupiah.

Bila dilihat lebih jauh, ada beberapa sentiment positif yang akan mendorong rupiah menguat. Salah satunya adalah belanja anggaran tersisa yang masih sangat besar, hampir 40 persen sisa anggaran yang masih belum dibelanjakan disisa kurun waktu yang hanya kurang dari 3 bulan. Ini membuat window dressing bisa berangkat lebih awal dari yang diperkirakan.

Dari berbagai kementrian nampaknya juga terjadi “rush” dalam menghabiskan anggaran yang tersisa. Ini membuat sektor riil mulai bergerak lebih cepat dan membuat investor asing mulai masuk ke bursa kemarin. Volume aksi beli yang dilakukan investor asing kemarin cukup besar, hingga mendongkrak bursa tertinggi di kawasan asia pasifik.

Tentunya permintaan rupiah yang tinggi ini membuat lonjakan penguatan tajam rupiah kemarin. Berikutnya bisa jadi akan berubah menjadi aksi profit taking, ini mengingat kebiasaan setelah ramainya aksi beli investor asing akan diikuti dengan aksi ambil untung keesokan harinya.

Penguatan rupiah mungkin akan tertahan, atau bahkan masih harus bergulat di angka yang lebih rendah lagi. Ini mengingat kondisi perekonomian masih belum bagus amat. Pemerintah masih berjuang menggerakan sektor riil yang menjadi motor bagi pertumbuhan ekonomi, ditengah isu PHK masal yang masih terjadi.

IHSG-Rupiah Kompak Menguat

Masuknya kembali investor asing membuat bursa menjadi bergairah. Semenjak pagi terjadi aksi beli oleh investor asing, memanfaatkan beberapa saham unggulan yang sudah cukup murah. Masuknya investor asing ini selaras dengan penguatan rupiah semenjak sesi perdagangan di bursa dibuka.

Banyak kalangan berpendapat isu koreksi harga BBM mampu menarik minat asing untuk masuk ke bursa. Meskipun banyak yang berpikiran lain soal kemungkinan profit taking. Kondisinya memang masih volatile, belum diketahui pergerakan investor asing yang sebenarnya.

Namun bisa jadi ekspektasi pada sisa kuartal memang cukup tinggi. Apalagi rasio anggaran yang belum keluar masih sangat tinggi. Ini akan selaras bila pemerintah juga menurunkan harga BBM, maka akan ada lebih besar sentiment positif di pasar.

Selama ini pasar tak begitu bergeming dengan paket deregulasi yang dikeluarkan pemerintah. Cenderung ramai saat stimulus dikeluarkan dan balik melemah saat stimulusnya habis. Kondisi kucing-kucingan ini sudah terlihat saat paket kebijakan yang sudah dua kali dikeluarkan.

Pasar benar-benar berisi para spekulan yang lihai dan bisa melihat dimana aliran uang mengalir. Tanpa ini bursa maupun rupiah bisa tenggelam lebih dalam. Bila dilihat pada indeks posisinya juga masih paling buruk dalam setahun ini.

Angka pelemahannya sudah cukup dalam, seiring hal yang sama dialami oleh rupiah. Diprediksi kondisinya masih akan berlanjut sampai beberapa bulan ke depan. Dengan harapan adanya perubahan di kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah.

Sebenarnya adanya koreksi pertumbuhan dari beberapa badan keuangan dunia, sudah seharusnya menjadi evaluasi bagi kebijakan yang akan dikeluarkan. Artinya kondisinya sudah tidak menguntungkan sekali bagi perekonomian. Pemerintah harus bekerja lebih keras dan memperbaiki setiap kelemahan yang ada.

Selama ini kondisi riil sudah sangat buruk dengan ramainya isu PHK yang sudah ditepis kebenarannya oleh pemerintah. Mereka bahkan mengisyaratkan adanya investasi yang masuk secara besar-besaran. Semoga perbaikan di sector riil ini bisa berimbas ke bursa, karena bagaimanapun kondisi bursa sudah sangat buruk akibat keluarnya dana asing secara terus menerus di bursa saham.