Pages

Thursday, September 24, 2015

Rupiah Anjlok, Pasar Mobkas Makin Bergairah

Diperkirakan pasar mobil baru mengalami tekanan yang cukup kuat akibat pelemahan rupiah. Dari data yang masuk, nampaknya angka penjualan akan terkoreksi dan lebih rendah dari capaian tahun lalu. Hal ini wajar mengingat pabrikan sudah mulai melakukan perubahan harga mobil akibat naiknya harga komponen mobil yang masih impor.

Memang untuk keseluruhan komponen mobil baru, masih mengandalkan suku cadang impor yang masih tinggi prosentasenya. Hanya beberapa mobil LCGC yang sudah memiliki suku cadang lokal yang lebih besar. Namun inipun tetap tidak bisa terhindar dari akibat pelemahan rupiah.

Banyak pabrikan yang sudah memberi sinyal telah menaikan harga mobil baru dan mengoreksi target penjualannya. Namun kondisi ini berlawanan dengan mobil bekas atau mobkas yang pasarnya mulai bersinar saat harga mobil baru mulai naik. Selalu pertimbangan harga akan menjadi hal utama, apalagi bila selisih harganya sudah terlalu besar.

Diperkirakan pelemahan rupiah bisa menguntungkan pasar mobkas, meski pasarnya juga terimbas akibat turunnya daya beli masyarakat. Disini terlihat dari angka penjualan mobkas rata-rata perbulan di beberapa diler yang stagnan dan tak kunjung meningkat. Tidak heran banyak diler yang mulai menekan harga beli dari konsumen menjadi lebih rendah lagi.

Ini wajar terjadi, dimana permintaan turun maka stok mobkas yang masih banyak akan bisa digunakan menekan konsumen. Sudah biasa diler akan dengan manis menekan konsumen untuk mendapatkan harga mobil yang ekonomis. Mau tak mau mereka yang jual mobil akan dengan terpaksa melepas dengan harga yang ditawarkan oleh diler.

Apalagi dengan persaingan mobil sejenis dan banyaknya muncul mobil baru, maka akan selalu ada alasan bagi diler untuk menekan harga. Namun saat menjualnya bisa dengan berbagai cara untuk menaikan harganya. Salah satu saat rupiah melemah, pihak diler ini bisa untung banyak.

Mereka punya trik dalam mengolah pasar mobkas yang bergejolak akibat pelemahan rupiah. Margin harga yang dimiliki diler menjadi lebih lebar dengan harga mobil baru yang semakin naik. Disini mereka istilahnya bisa menimbun mobil unggulan atau yang menjadi favorit pengguna mobil.

Biasanya kelas low MPV, pasar mobkasnya sangat dinamis. Ini mengingat permintaannya tetap tinggi, disamping harga mobil barunya yang selisihnya semakin melebar. Disini keuntungan diler mobkas memang sangat besar, peluangnya yang semakin besar dalam mengolah harga mobkas.

Wednesday, September 23, 2015

Hitam Putih Perjalanan Rupiah

Pada beberapa bulan terakhir rupiah menjadi sorotan. Bukan karena prestasi, tapi karena pelemahan yang begitu dalam dan tak terbendung. Pemerintah memang direpotkan oleh gejolak rupiah ini dan kewalahan dalam menahan laju pelemahannya, bahkan pada beberapa minggu terakhir sudah begitu mengkawatirkan karena menunjukkan akselerasi pelemahan dengan lompatan yang begitu besar.

Wajar bila investor semakin kawatir dan publik juga merasakan ada yang tidak beres dengan ekonomi rupiah. Namun ini lebih sering disikapi pemerintah dengan santai, responnya sering terlihat meremehkan kondisi yang ada. Pemerintah dalam hal ini tim ekonomi, merasa fundamental ekonomi masih kuat dan semua akibat dari faktor eksternal.

Mungkin pendapat pemerintah ada benarnya, karena rupiah pernah mengalami level terburuk, dengan indikator ekonomi yang masih lebih baik dari kondisi sebelumnya. Namun bila melihat ke dampak yang ada, nampaknya respon pemerintah ini bisa dianggap kurang responsif. Dampak dari pelemahan rupiah ini sudah mulai terasa di berbagai sisi kehidupan ekonomi. Situasinya sudah boleh dibilang semakin memburuk.

Bila melonggok ke tahun 1998, dimana rupiah jatuh dalam waktu singkat dan bisa bangkit dengan segera. Ini karena faktor politik yang memicu, begitu konsolidasi terjadi, rupiah bisa kembali menguat. Demikian pula dengan tahun 2008 saat terjadi krismon, periode pelemahan dan penguatan bisa dilakukan dengan cepat.

Waktu itu ekonomi memang sedang bergejolak dan semuanya dimulai dari luar atau faktor eksternal. Namun dengan sigapnya Sang arsitek ekonomi Sri Mulyani bisa membawa ekonomi bangkit dan rupiah bisa menguat dengan segera, bahkan bisa menembus level terbaik rupiah semenjak krismon. Ini karena kinerja ekspor yang luar biasa hingga bisa tembus level psikologis ekspor lebih dari 200 milyar dollar, level tertinggi dalam sejarah Indonesia.

Namun setelah kepergian Sri Mulyani ke Bank Dunia, reformasi ekonomi yang sudah dijalankan mengalami setback. Kinerja ekspor mengalami penurunan secara pasti dan ini diikuti dengan pelemahan rupiah pula. Bila dilihat di grafik perjalanan rupiah, tampak terlihat pola yang pasti, rupiah melemah secara konstan dan mengalami akselerasi pada beberapa bulan yang lalu.

Puncaknya tentu saja saat rupiah mengalami akselerasi pelemahan hingga membuat banyak kalangan semakin kawatir. Apapun kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah tak memberikan efek sama sekali. Rupiah justru semakin liar, bisa jadi kebijakan yang ada malah menjadi katalis bagi akselerasi pelemahan rupiah.

Banyak kalangan melihat kebijakan pemerintah sudah salah arah, hingga menimbulkan dampak ekonomi yang lebih buruk. Pelemahan rupiah memang sudah meningkatkan resiko berinvestasi, ini membuat iklim investasi menjadi beresiko. Wajar bila terjadi pelarian modal asing di pasar keuangan. IHSG terlihat terjadi aksi jual oleh investor asing terus menerus.

Bila kondisi ini tidak diatasi dengan segera, maka ada kemungkinan ekonomi bisa semakin terpuruk. Bukan tidak mungkin ekonomi akan menjadi krisis, soalnya tak ada yang tahu pasti sampai dimana batas pelemahan rupiah ini. Perbankan yang menjadi motor ekonomi katanya masih kuat bila rupiah sampai 18 ribu terhadap dollar.

Namun ini menandakan pasar atau faktor eksternal dibiarkan begitu saja mendikte perekonomian kita. Kita harusnya jangan mau diperlakukan seperti itu oleh pasar. Pemerintah harusny bisa berkaca pada pengalaman Sri Mulyani mengangkat rupiah ke level terbaiknya dengan mengenjot kinerja ekspor.

Ini harusnya bisa dilakukan oleh pemerintah, dengan menggunakan anggaran yang berlimpah untuk mengenjot kinerja ekspor. Banyak kalangan menilai proyek infrastruktur yang dijalankan tak lebih dari proyek mercusuar, ini mengingat kondisi rupiah yang tertekan dan harusnya menjadi prioritas dalam menahan pelemahan rupiah. Perbaiki dulu kondisi keuangan rupiah sebelum membangun infrastruktur.

Koreksi Pertumbuhan Ekonomi, Mengirim Sinyal Buruk di Bursa

Langkah pemerintah dan DPR yang sepakat mengoreksi angka pertumbuhan ekonomi berdampak serius di bursa. Apalagi ini diikuti oleh lembaga keuangan dunia yang juga ikut mengoreksi angka pertumbuhan. Ini membuat prospek ekonomi ke depan bertambah suram.

Pasar keuangan juga semakin pesimis, dengan posisi rupiah yang melonjak turun dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini juga berimbas ke bursa, asing yang sudah melakukan aksi jual juga terus berlanjut. Dengan transaksi di bursa yang semakin mengecil.

Nampaknya segala kebijakan ekonomi yang diberikan tak mempan dalam mengendalikan ekonomi rupiah. Pasar selalu pesimis menyikapi setiap kebijakan yang dikeluarkan. Seakan semakin jauh dari harapan pasar, banyak kalangan usaha juga melihat arah ekonomi yang sudah bergerak jauh dari kondisi yang terjadi.

Disaat rupiah tertekan dan melemah, pemerintah masih antusias membangun proyek mercusuar dengan dalih infrastruktur. Bahkan tak punya uang atau anggaran bukan menjadi halangan, obligasi ritel diterbitkan untuk menutupinya. Kondisi inilah yang membuat pasar dan pelaku bisnis semakin pesimis.

Apa yang dilakukan pemerintah benar-benar mengikuti pola pemerintah Zimbabwe sebelum mata uangnya kolaps. Pengeluaran diluar kendali sedang pemasukan seret. Apapun dalihnya untuk membangun infrastruktur, pada akhirnya semain memberatkan kondisi fiskal dan memberi tekanan pada rupiah.

Kondisi ini sudah menjadi alarm, namun nampaknya pemerintah tak berubah pikiran. Bursa saham sudah menunjukan mosi tidak percayanya, asing terus-terusan keluar dari bursa. Diperkirakan ini akan menekan mata uang rupiah ke level yang tidak pernah disentuhnya, bahkan bisa menembus level terburuk dalam sejarah negeri ini.

Kondisi pelemahan rupiah yang sudah terakselerasi ini, harusnya menjadi alarm untuk mengkaji kembali kebijakan ekonomi yang telah dijalankan. Anggaran sudah seharusnya digunakan sebaik-baiknya untuk memperkuat rupiah terlebih dahulu. Anggaran bisa digunakan untuk memperkuat kinerja ekspor.

Ini harus dilakukan all out oleh pemerintah dalam menahan pelemahan rupiah lebih dalam dan kaburnya investor asing di pasar keuangan. Situasinya sudah kritis, bila tak mau disebut krisis, sebaiknya segera mengambil langka fundamental. Langkah besar mereformasi perekonomian agar kepercayaan investor akan ekonomi kita bisa pulih.

Tuesday, September 22, 2015

Grafik Penguatan Dollar terhadap Emas dan Rupiah

Sepanjang satu tahun ini saja penguatan dollar sudah sangat tinggi. Hampir indeks semua komoditas maupun mata uang keok melawan dollar. Tak terkecuali komoditas emas yang sebenarnya safe heaven, masih kalah juga lawan dollar. Apalagi mata uang rupiah yang keok habis-habisan lawan dollar.

Diperkirakan keperkasaan dollar ini akan sulit diprediksi titik puncaknya. Ini mengingat ekonomi amerika sedang membaik dan indikator yang ditarget selalu terpenuhi. Tentunya tak ada yang bisa menghadang penguatan dollar lagi, apalagi bila suku bunga naik, dipastikan akan semakin perkasa.

Sebenarnya keperkasaan dollar ini bisa ditekan bila the fed mau memberi suku bunga negatif terhadap dollar. Wacana ini menguat ditengah gejolak ekonomi akibat penguatan dollar. Suku bunga negatif berarti apapun simpanan dollar akan terkena denda atau penalty.

Namun wacana inipun juga disanggah oleh banyak pihak yang melihat tak akan ada formula yang bisa menghadang penguatan dollar. Justru dengan interest rate negatif, dollar akan makin tambah “gila”. Nilainya bisa-bisa jadi kayak “barang antik” bukan lagi sebagai mata uang.

Penguatan dollar ini tak lebih dari reaksi keseimbangan pasar, saat dollar yang ada ditarik oleh yang buat. Diduga akan tercapai titik keseimbangan dimana dollar sesuai dengan jumlah di pasar keuangan dunia. Ini yang sulit untuk diprediksi dan akan menimbulkan bola panas yang liar kemana-mana.

Lihat saja di grafik penguatan dollar terhadap dollar dan rupiah. Tampak dollar sudah menguat lebih dari 10 persen terhadap emas. Demikian pula dengan rupiah, malah lebih parah lagi. Rupiah di-KO oleh dollar lebih dari 17 persen dalam setahun ini.

Diperkirakan penguatan dollar ini akan berlanjut, namun bukan berarti tidak bisa ditahan penguatannya. Bila kinerja perkonomian Indonesia membaik, pastinya bisa menghadang laju penguatan dollar. Bila pemerintah bisa mengenjot kinerja ekspor ke titik puncak seperti pada tahun 2011, maka dipastikan dollar bisa ditahan penguatannya.

Disini yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah dengan menggunakan anggaran belanja sebaik-baiknya. Jangan menghambur-hamburkan untuk proyek mercusuar infrastruktur, tapi lebih baik gunakan anggaran untuk mengenjot ekspor. Iniyang akan menghasilkan dollar “produktif” dan bisa menguatkan rupiah secara permanent.

Menghitung Keuntungan Investasi di Obligasi Ritel

Pemerintah kembali merilis Obligasi Ritel atau ORI untuk membiayai anggaran belanja Negara. Kebutuhan dana yang diperlukan sekitar 20 trilyun rupiah. Diperkiraan Obligasi ini akan bisa terpenuhi mengingat tenornya 3 tahun dan bunganya 9 persen.

Bunga ORI ini jauh di atas bunga deposito saat ini yang maksimal di kisaran 8 persen. Tentunya akan banyak yang mengalihkan investasinya dari deposito ke ORI ini, karena memberi keuntungan lebih besar. Saingan dari ORI ini hanya bunga simpanan di BPR yang berani mematok angka 10 persen.

Tentunya menaruh uang di BPR akan lebih besar resikonya daripada mengisvestasikan pada ORI. BPR bisa dengan mudah tutup oleh pelemahan rupiah. Namun untuk ORI, mana mungkin Negara akan tutup atau kolaps. Meski jauh dari itu, diperkirakan sedikit sekali investor asing yang akan masuk membeli ORI ini.

Persoalannya tentu pada posisi rupiah yang terus melemah. Dengan rupiah yang melemah lebih dari 15 persen dalam setahun terhadap dollar, maka masih kalah dengan investasi di deposito dollar yang hanya memberi bunga 1,5 persen. Lho kok bisa?

Ini karena faktor pelemahan rupiah yang membuat investasi di ORI ini beresiko tinggi. Bagi investor domestik tentu tak masalah, tapi tidak bagi investor asing. Mari kita hitung angka kemungkinan keuntungan dan kerugin dari investasi di ORI ini.

Dengan asumsi rupiah yang akan terus melemah 15 persen pertahunnya, maka diperkirakan akan terjadi penyusutan nila rupiah sebesar 45 persen dalam setahun atau rupiah diperkirakan bisa tembus 20 ribuan, bila pemerintah tidak memiliki langkah mujarap untuk menghentikan pelemahan rupiah. Dengan asumsi ini saja, nilai investasi ORI dengan bunga 9 persen akan terkikis oleh pelemahan rupiah.

Namun bila pemerintah dengan gagah berani bisa menguatkan rupiah 15 persen ke posisi sebelumnya, maka investasi di ORI ini akan menguntungkan. Ini tentunya amat sangat berat, dengan pertimbangan inflasi yang masih di kisaran 4-5 persen pertahunnya, maka penguatan rupiah bisa sangat berat sekali atau kecil kemungkinannya.

Hitung-hitungan tentang keuntungan dan kerugian investasi di ORI ini memang tidak pasti, hanya memberi kemungkinan terburuk dan terbaik. Mungkin masih lebih baik bila tidak ada alternatif investasi yang menguntungkan. Soalnya ekonomi juga sedang lesu, lebih baik investasi di sesuatu yang pasti dan penghasilan tetap.

Monday, September 21, 2015

Bukan Krisis tapi Kritis

Polemik tentang kondisi ekonomi rupiah yang dilihat investor sebagai krisis dan disanggah oleh pemerintah, adalah lebih bersifat politis. Pemerintah nampaknya tak mau kondisi ekonomi didramatisir. Namun bagi investor maupun publik, kondisi ekonomi sudah terang benderang suram dan lesu.

Investor dan publik hanya ingin perekonomian menjadi lebih baik, dengan harapan pemerintah bisa keluar dari kondisi lesu yang tak boleh disebut krisis ini. Setahun sudah cukup lama untuk ukuran sebuah pembangunan, karena kategori jangka pendek sudah terlampaui. Dengan tenggang menuju kategori jangka menengah. Bila jangka pendek saja tak mampu keluar dari kondisi suram dan lesu, maka akan berpengaruh pada pembangunan berikutnya.

Kondisi rupiah yang menjadi sorotan investor maupun publik memang tidak menggembirakan. Sudah mengalami pelemahan terus menerus dan setiap kebijakan ekonomi yang dikeluarkan tak mampu menahan laju pelemahan rupiah. Bahkan dalam beberapa bulan ini mengalami akselerasi pelemahan yang lebih dalam.

Dari gambar di bawah ini sudah terlihat interval pelemahan rupiah sudah bukan puluhan, tapi ratusan rupiah. Ini menandakan ada semacam akselerasi dan ini tak mampu ditahan oleh pemerintah. Nampaknya pemerintah sudah mencoba segala cara, hingga panik dan sensitif terhadap isu yang berkembang.

Sebenarnya persoalan ekonomi bukan monopoli pemerintah. Bila ingin sukses, pemerintah harus mengikutkan seluruh komponen bangsa dan tidak sensitif atas usulan, saran maupun kritik yang berkembang. Masukan yang positif akan memperkaya data untuk implementasi atau eksekusi kebijakan ekonomi menjadi lebih baik.

Selama ini investor maupun publik sudah cukup sabar melihat posisi rupiah yang sudah turun cukup tajam. Dengan imbas dan dampak yang mulai terasa di sektor riil maupun kehidupan masyarakat. Investor sudah mengalami kerugian cukup banyak, sedang masyarakat mengalami penurunan perekonomiannya.

Kesabaran akan ada batasnya, saat kebutuhan hidup tidak terbeli, maka akan sulit untuk terus membayar kewajiban yang ada. Tentunya bisa timbul gejolak sosial dan efek domino yang sulit diperkirakan dampaknya bagi Negara. Persoalan ekonomi yang terus-terusan tak teratasi, akan menekan kehidupan masyarakat dan menimbulkan gejolak sosial yang lebih buruk.

Disini perlu bagi pemerintah melihat lagi data ekonomi dan menganalisa dengan komprehensif. Ada persoalan mendasar yang harus diprioritaskan, dan ini tidak tersentuh di kebijakan yang dikeluarkan. 

Dollar “Toksit” bikin Rupiah tak akan pernah Menguat

Keberadaan dollar “toksit” ini semakin popular dan menjadi andalan pemerintah dalam menahan pelemahan rupiah. Padahal dollar “toksit” ini bisa menjadi bom waktu di kemudian hari. Ini terbukti dengan pelemahan rupiah yang sudah terjadi sejak lama. Lalu kenapa pemerintah masih bergantung pada dollar “toksit” ini?

Dollar toksit ini bisa dikaitkan dollar yang masuk lewat utang, investasi, apapun jenis dolar yang masuk tidak lewat perdagangan dikenal dengan dollar toksit. Sedang dollar yang bagus adalah dollar produktif, yang dihasilkan dari proses perdagangan ekspor dari produk-produk SDA, produksi maupun jasa. Dollar produktif ini dikenal menguatkan posisi rupiah secara permanent, lain dengan dollar toksit yang bersifat sementara dan memiliki kemungkinan besar merusak ketahanan rupiah.

Kita pernah mengalami aliran dollar produktif yang cukup besar, saat ekspor mencapai puncaknya pada tahun 2011. Selebihnya dollar produktif ini menurun tajam, seiring penurunan kinerja ekspor. Justru dollar toksit yang semakin banyak masuk, mulai dari naiknya utang pemerintah maupun swasta, investasi asing di bursa maupun sektor riil. Kenapa investasi asing masuk kategori dollar toksit?

Ini karena investasi asing ini pada akhirnya akan kembali ke negaranya, kecuali mereka bertahan dan menjadi WNI, suatu yang tidak mungkin. Justru WNI yang rata-rata eksodus keluar, seperti investor domestik yang membeli property di luar dan lebih betah disana. Memang penyebabnya komplek dan ini lebih politis ketimbang faktor ekonomi.

Selama ini pemerintah masih mengacu pada dollar toksit dalam kebijakan ekonominya. Demikian pula dengan rencana proyek infrastruktur yang sebagian besar memang untuk menarik investor asing. Langkah inilah yang bisa disebut kebijakan ekonomi salah arah, karena mengundang investor asing sama dengan memelihara dollar toksit.

Kita tidak tahu kenapa pemerintah lebih menyukai dollar toksit ketimbang dollar produktif. Selama ini pemerintah lebih fokus pada system ekonomi konsumtif daripada ekonomi produktif yang berorientasi pada ekspor. Ini bisa dilhat pada gambar dibawah yang dengan jelas membuktikan bahwa kebijakan pemerintah memang lebih memilih dollar toksit ketimbang dollar produktif.

Bila kebijakan dollar toksit ini terus dilanjutkan, maka rupiah dipastikan akan terus melemah. Sungguh ironi dengan keinginan pemerintah dalam menahan pelemahan rupiah, tapi kebijakan yang dilakukan justru memberi tekanan pada rupiah. Suatu kebijakan yang salah arah atau memang sudah tak mampu mengelola perekonomian?